Home Berita PEMIRA PEMILWA FAKULTAS PERTANIAN “BEDA HARI SATU TUJUAN”

PEMIRA PEMILWA FAKULTAS PERTANIAN “BEDA HARI SATU TUJUAN”

191
0
SHARE

ManifesT – Malang (05/12), Salam juang, salam kebahagiaan Universitas Brawijaya. Hari ini pada 5 Desember 2018 telah dilaksanakan Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) dan Pemilihan Mahasiswa Wilayah (Pemilwa) 2018 di seluruh Fakultas Universitas Brawijaya. Pada tahun ini Pemira dan Pemilwa dilaksanakan secara serempak serta pemilihan tersebut dilaksanakan secara online, sehingga rangkaian acara tentunya akan lebih padat daripada tahun sebelumnya. Namun, ada hal yang menarik yang terjadi di salah satu fakultas Universitas Brawijaya yaitu di Fakultas Pertanian (FP) di mana di fakultas ini  hanya ikut melaksanakan pemilihan serempak hanya untuk Pemira saja, yang artinya fakultas tersebut tetap melaksanakan Pemira dan Pemilwa yang berbeda hari namun tetap dalam satu tujuan bersama. Disisi lain, mahasiswa FP juga disuguhkan hal baru dalam Pemilwa dan Pemira tahun ini, yaitu pemilihan secara online atau e-vote yang mana pada tahun sebelumnya FP masih menggunakan sistem coblos.

Ada beberapa hal yang menarik lagi pada pemilihan yang diselenggarakan di FP ini yaitu suasana kegiatan Pemira tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena antusiasme mahasiswanya kurang sehingga terasa lebih sepi. “Antusias mahasiswa kali ini menurun dari tahun kemarin yang dapat terlihat dari perbandingan pemilih Pemira  tahun lalu yang bisa hingga ngantri panjang, namun pada kali ini pemilih hanya terlihat sampai lima puluhan saja hingga siang hari” ujar Aulia, mahasiswa FP, jurusan Agribisnis angkatan 2016.

Dengan sistem online ini juga terpantau bahwa dengan cara pemilihannya yang lebih cepat dan praktis, belum bisa menarik perhatian mahasiswa untuk lebih antusias dalam mengikuti jalannya kegiatan Pemira tahun ini. Menurut pengamatan narasumber, hal ini terjadi karena beberapa faktor seperti pelaksanaan Pemira tahun ini dilaksanakan di minggu-minggu Ujian Akhir Praktik (UAP) sehingga berpikir negatif terlebih dahulu kepada politik yang mengakibatkan perasaan untuk terlibat dalam perpolitikan dari mahasiswa mulai berkurang. Selain itu, banyak juga yang berfikir tidak ada efek nyata bagi mahasiswa itu sendiri sehingga mereka cenderung apatis dalam arti mereka lebih mengorientasi dirinya ke bidang akademik saja dan lebih mengesampingkan acara-acara seperti ini.

Berbeda dengan mahasiswa lama, para mahasiswa baru (maba) sangat antusias dengan diadakan Pemira. “Banyak mahasiswa baru yang berantusias di Pemira tahun ini,” ujar Ferdi, salah seorang maba di FP. Para maba mengetahui acara ini karena banyak poster yang tertempel di hampir setiap sudut fakultas, banyak kampanye di dalam kelas maba maupun di media sosial sehingga membuat mereka tertarik karena merasa ini merupakan hal baru. Menurut mereka dalam penyampaian visi dan misi para calon Presiden EM sebagian besar juga menggunakan media sosial, serta dalam publikasi kampanye salah satu calon lebih menonjol. Mereka juga menemui beberapa berita hoax yang mewarnai pesta Pemira tahun ini. Dimulai dari pemilihan ini hanya untuk kepentingan beberapa kelompok saja dan hanya menjadikan maba sebagai sasaran empuk untuk diajak ataupun dimanfaatkan demi beberapa kepentingan kelompok tersebut. Hal ini dikarenakan mereka dianggap masih belum mengetahui apa-apa terkait sistem politik di fakultas ataupun di universitas sehingga mudah untuk digiring suaranya.

Oleh karena itu, banyak ucapan harapan mahasiswa FP, baik dari maba maupun mahasiswa lama, untuk Pemira berikutnya agar panitia pelaksana Pemira di FP agar lebih gencar mensosialisasikan dan mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam Pemira. Selain itu, mereka juga mengharapkan agar Pemira berikutnya para calon yang telah menyampaikan visi dan misi sebelumnya dapat benar-benar merealisasikan hal tersebut, bukan hanya menjadi kata pemanis saja. Serta mereka pun berharap agar tahun berikutnya dapat lebih adil dalam arti berkampanye ataupun mencari suara tidak hanya untuk kepentingan golongan saja, karena sejatinya hal ini sebagai awal untuk mewujudkan demokrasi yang langsung, umum, bebas, jujur, dan adil di Indonesia yaitu dengan pelaksanaan demokrasi yang dimulai dari kalangan akademik. (rnd/chc/yzd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here