Home Tokoh Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo

Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo

285
0
SHARE

Oleh : Rinalvin Achmad Wiryawan

Nama Tirto, mungkin tak sepopuler dengan nama-nama pahlawan lainnya, tetapi jika ditanya siapa perintis pers Indonesia? Jawabnya adalah Tirto Adhi Soerjo!. Dalam perjuangannya, penanya sangat tajam serta kritik-kritis terhadap penindasan yang dilakukan oleh Hindia Belanda terhadap bangsa pribumi saat itu. Tirto merintis sendiri media-media miliknya, seperti Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, yang di mana, media milik Tirto, berani melawan suatu ketidakadilan dengan tulisannya yang tajam dan lugas, bukan hanya ahli dalam bidang jurnalistik saja, tetapi Tirto juga aktif dalam membangun suatu organisasi massa seperti Sarikat Priyayi, dan Sarekat Dagang Islam. Karena kecerdasan dan kecakapannya dalam berorganisasi dan menulis, seorang sastrawan sekaligus penulis novel yang bernama, Pramoedya Ananta Toer, menuliskan kisah Tirto menjadi tokoh utama di karya-karyanya, seperti dalam tetralogi pulau buru, dan novel berjudul “Sang Pemula”. Tokoh tersebut bernama “Minke”, walaupun fiktif tetapi tokoh tersebut merupakan bentuk kegaguman serta penghargaan Pram, terhadap Tirto Adhi Soerjo, yang berjasa sebagai tokoh pergerakan nasional yang memilih berjuang dengan “jalan pena”.

Terlahir dari keluarga terpandang

Terlahir di Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1880 dengan nama asli Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, atau seiring berjalannya waktu biasa di panggil dengan nama Tirto Adhi Soerjo (T.A.S.). Nama “Djokomono” ini berasal dari keluarga bangsawan terkemuka, dalam sistem keluarga raja-raja di Jawa. Gelar raden mas yang di sematkan pada nama Tirto yang berarti adalah putra atau cucu bupati yang masih terhitung keturunan raja-raja Jawa. Ia adalah anak kesembilan dari sebelas bersaudara, ayahnya bernama Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero, seorang pegawai perpajakan pada masa Hindia Belanda. Kakek Tirto bernama Raden Mas Tirtonoto, menjabat sebagai Bupati Bojonegoro, Penerima penghargaan tertinggi bagi sipil, oleh Belanda kala itu, yaitu “Ridder Nederlansche Leeuw”. Neneknya bernama Raden Ayu Tirtonoto, mewarisi darah dari Mangkunegara I atau biasa disebut Pangeran Sambernyawa dari Surakarta, selepas orang tuanya meninggal, Tirto hidup bersama kakek-nenek, dan beberapa kerabat yang lainnya.

Sekolah dokter tetapi akhirnya malah menjadi jurnalis

Tirto Adhi Soerjo, menyelesesaikan pendidikan awalnya di Rembang, lalu melanjutkan sekolahnya di Hogere Burger School (HBS) yang berada di Betawi, selanjutnya, Tirto sempat mengenyam pendidikan kedokteran di Batavia, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artchen) yaitu sekolah kedokteran khusus bumiputra. Ketika sekolah di STOVIA, ia berteman baik dengan Wahidin Soediro Hoesodo (yang kelak menjadi pencetus organisasi di bidang pendidikan, yaitu Budi Oetomo pada tahun 1908), bersama temannya tersebut, ia membentuk suatu perkumpulan yang berisi para bangsawan feodal asli pribumi atau yang biasa disebut dengan “priyayi”, perkumpulan tersebut bernama Sarikat Priyayi pada tahun 1906 yang dianggap sebagai suatu organisasi pribumi pertama sebelum berdirinya Boedi Oetomo, walaupun pada akhirnya belum genap setahun, Sarikat Priyayi pun “redup nyalanya”, dikarenakan permasalahan pendanaan organisasi. Tirto pernah menjadi anggota Boedi Oetomo, tetapi pada akhirnya “tidak kerasan”, karena Boedi Oetomo adalah organisasi yang hanya mengangkat  kepentingan “kaum atas” saja dan bersifat kesukuan karena mayoritas anggotanya adalah kaum priyayi Jawa. Dalam perkembangannya, karena lebih tertarik dalam dunia tulis-menulis, Tirto tidak pernah menyelesaikan sekolah kedokterannya di STOVIA, dan memilih menjadi jurnalis.

Dari Sarekat Dagang Islam menuju Sarekat Islam

Tirto melepas gelar sosial bangsawan feodal Jawa, dan berubah menjadi masyarakat menengah terdidik atau menjadi kelas “borjuis terdidik”, yang disebut dengan “bangsawan fikiran”. Menurutnya perubahan dapat dilakukan oleh kalangan menengah, yang memiliki akses pendidikan saat itu. Setelah keluar dari Boedi Oetomo, Tirto berpikiran, “apabila ingin memajukan bangsa yang “terprentah” atau yang dianggap sebagai “seperempat manusia” maka hendaknya jangan hanya bergantung pada golongan bangsawan atau orang-orang pemerintahan, melainkan bergerak bersama orang-orang bebas, yakni kalangan kaum pedagang”. Pada tahun 1909 di Bogor, Tirto membangun suatu organisasi lagi, yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kelak menjadi cikal bakal (Sarekat Islam), dalam organisasi tersebut terdiri dari para pedagang muslim yang menjadi wadah bergerak untuk melawan tindakan sewenang-wenang pemerintah Hindia Belanda terhadap pedagang dan buruh muslim. Disebutkan pula bahwa tujuan utama SDI adalah “menjaga kepentingan kaum muslimin Hindia Belanda”. Dalam perkembangannya, Tirto berkenalan dengan Haji Samanhoedi (pemimpin perkumpulan Rekso Soemekso di Solo), lalu berdiskusi dan menyatukan pemikiran tentang suatu organisasi massa, yang pada akhirnya kelak ketika dipimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pada tahun 1913 menjadi organisasi Sarekat Islam (SI), yaitu organisasi massa terbesar di Indonesia pada saat itu.

Rajin Menulis, dan berguru kepada jurnalis senior

Sejak awal sebelum bersekolah di STOVIA, Tirto rajin mengirimkan tulisannya ke surat kabar terkemuka saat itu seperti Bintang Betawi, Chabar Hindia Olanda, Pewarta Priangan, Bromartani, Pembrita Betawi. Tirto tidak menyelesaikan sekolahnya di STOVIA, lantaran kecintaannya terhadap hal jurnalistik, ia pernah sampai bermukim di Bandung dan bekerja untuk media bernama Pewarta Priangan, tetapi kemudian media tersebut bangkrut tidak lama kemudian. Akhirnya ia bergabung dengan Pembrita Betawi, ia disana kariernya cukup tinggi, ia bekerja sebagai redaktur berkembang lagi menjadi pemimpin redaksi Pembrita Betawi.

Dalam perkembangannya bekerja di bidang media, Tirto mempunyai mentor, yang berasal dari jurnalis senior yang bernama Karel Wijbrands, pemimpin redaksi Niews van den Dag. Berguru kepada Karel, ia mendapat banyak ilmu dan etika tentang jurnalistik seperti, bagaimana mengelola penerbitan, bagaimana batas-batas hukum kolonial mengatur tentang pers, bagaimana dengan jeli menilai kekuasaan, dan lain sebagainya.

Soenda Berita, rintisan media pertama Tirto

Berbekal ilmu yang berasal dari pengalamannya dan pelajaran yang didapat dari Karel Wijbrands, Tirto membuat medianya sendiri. Pada tanggal 7 Februari 1903, terbitlah Soenda Berita, yang menjadi media pribumi pertama Hindia Pertama. Soenda Berita, merupakan media pribumi berbahasa “Melayu pasar” (Semua media Tirto, memakai bahasa “Melayu pasar” atau bahasa Melayu rendahan), pertama yang diisi oleh tenaga-tenaga dari pribumi asli, didanai oleh pribumi, dan beritanya ditunjukkan untuk pribumi itu sendiri. Melalui, Soenda Berita, Tirto mempunyai cita-cita untuk memperjuangkan dan memajukan para pribumi sebangsanya, sampai-sampai Tirto, berani memberi label kepada medianya yang berbunyi “Kepoenjaan kami pribumi”. Sayangnya, perjuangan Soenda Berita hanya sebentar, sekitar tahun 1905-1906. Soenda Berita harus kolaps dikarenakan kekurangan dana dalam proses penerbitan. Tirto sudah berjuang untuk mempertahankan Soenda Berita tetapi akhirnya tumbang juga.

Soenda Berita Kolaps, lantas munculah Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan

Setelah Soenda Berita tumbang, maka munculah Medan Prijaji, yang terbit di Bandung, pada tanggal 1 Januari 1907. Medan Prjijaji, merupakan media berbahasa “Melayu pasar”, para pekerjanya merupakan pribumi asli, serta dalam pendanaannya Medan Prijaji, ini didanai oleh bangsawan dan saudagar kaya pribumi. Kata “Prijaji” dalam media milik Tirto ini dapat diartikan menjadi “arenanya kaum borjuis”, yang memiliki arti bahwa saat itu Medan Prijaji, diisi oleh para kalangan “Priyayi” atau kalangan ningrat, seperti RAA Prawiradirja (Bupati Cianjur), Sultan Oesman Sjah (Penguasa Kesultanan Bacan, Maluku), juga termasuk borjuis fikiran (kelas menengah terdidik) seperti Tirto. Meskipun namanya cukup eksklusif, tetapi Medan Prijaji, terbuka bagi semua kalangan, khususnya bagi pribumi.

Tirto dalam mempergunakan medianya sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum, ia berani menulis kecaman-kecaman terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan Hindia Belanda kala itu, bahkan di bawah kepala surat kabar Medan Prijaji, tertulis “Organ buat bangsa yang terprentah di Hindia Belanda, tempat membuka suaranya”, menjadi media untuk membela kaum-kaum yang tertidas yang disebut “Bangsa-bangsa yang terprentah”, terlebih lagi dalam jargon surat kabar Medan Prijaji, yang tertulis “Suara bagi sekalian raja-raja, bangsawan asal dan fikiran, priyayi dan saudagar bumiputra dan officier-officier bangsa yang terprentah lainnya dengan anak negeri seluruh Hindia Belanda”. Pada tanggal 10 Desember 1908, Medan Prijaji, resmi berbadan hukum, menjadi NV (Naamloze Vennootschap) alias PT (Perseroan Terbatas).

Ditahun yang sama, terbit juga Soeloeh Keadilan, media milik Tirto, yang bergerak dibidang advokasi hukum bagi pribumi, Soeloeh Keadilan memiliki asas yang diusungnya yaitu, “Menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan”. Melalui Soeloeh Keadilan, ini juga Tirto, mengenalkan jurnalisme advokasi bagi kaum yang “terprentah” dan “tertindas” melalui surat kabarnya.

Poetri Hindia, menjadi media “feminis” pertama pribumi

Selain Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan, Tirto pada tanggal 1 Juni 1908 di Batavia, terbit media khusus perempuan yang bernama “Poetri Hindia”. Media yang digawangi oleh para perempuan pribumi ini. Sebelumnya Tirto dalam media terdahulu yaitu Soenda Berita, sudah memasukkan tentang isu-isu dan berita yang berhubungan dengan kaum perempuan, tetapi dalam media Poetri Hindia, ini menjadi media yang lebih terkhusus lagi mengurusi isu-isu tentang perempuan.

Kehadiran Poetri Hindia, ini menjadi tonggak awal warta pers khusus perempuan, yang di mana media-media lainnya masih di dominasi oleh laki-laki. Hal ini menjadi suatu gebrakan tentang permasalahan perempuan khususnya masalah gender pada masa itu yang kurang diperhatikan. Kehadiran Poetri Hindia, ini diapresiasi oleh kalangan luas, pembacanya tidak hanya berkutat pada pulau Jawa saja, tetapi sudah di distribusikan hingga seluruh Hindia Belanda. Poetri Hindia, bukan hanya diapresiasi oleh pembaca pribumi, tetapi juga diapresiasi oleh Ratu Emma, permaisuri Raja Willem III atau ibunda penguasa Kerajaan Belanda, Sri Ratu Wilhemina.

Poetri Hindia, dalam wartanya membahas tentang isu-isu yang berkaitan tentang perempuan seperti, kebutuhan kaum remaja baik remaja putri atau kalangan ibu-ibu, rubrik khusus perempuan seperti “Perempuan Hindia”, “Perawatan Kecantikan”, “Cara Merawat Anak”, dan juga artikel-artikel lain yang berhubungan dengan etika dalam berkeluarga, tidak hanya itu, ada juga tulisan yang berisi tentang cerita pendek, hikayat, serta artikel hiburan lainnya. Meskipun Poetri Hindia, belum membicarakan tentang kesadaran perempuan, tetapi dengan hadirnya Poetri Hindia, ini menjadikan eksistensi perempuan terwakilkan, meskipun dengan “jalan pena”.

Ditangkap, diasingkan, dan meninggal dalam kesendirian dan kesepian

Dalam suatu perkara, pada tahun 1909, Tirto terjerat perkara pers delict, dikarenakan kritiknya terhadap kesewenang-wenangan pejabat pemerintahan Hindia Belanda, Tirto dituntut atas pencemaran nama baik meliputi penistaan (smaad), pencelaan (hoon), dan umpatan (laster) yang akhirnya berakhir di pengadilan. Pihak pengadilan memutuskan Tirto berasalah atas kasusnya, ia akhirnya dibuang di Teluk Betung, Lampung selama 2 bulan, sembari dibuang di Lampung, ia menulis tulisan yang berjudul “Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan”.  Pada tahun 1912, Tirto kembali disidangkan karena perkara pers delict lagi, karena dalam tulisannya ia mengecam Bupati Rembang Djojodiningrat dan menyinggung Gubernur Jenderal Idenburg, akhirnya diasingkan ke Maluku selama 6 bulan. Menurut Tirto, pengadilan Belanda saat itu sangat tidak adil dalam urusan hukum, menurutnya ia mengkritik lewat tulisan terhadap pemerintah Hindia Belanda dengan tujuan untuk aksi advokasi dan pembelaan bagi pribumi yang tertindas.

Setelah bebas dari pengasingan, gerak-gerik Tirto masih tetap diawasi oleh pemerintahan Hindia Belanda, membuat Tirto semakin tertekan, bahkan sempat hilang ingatan, teman-temannya menjauhinya, dia hidup dalam keadaan miskin, karena hidup menanggung hutang dan seluruh asetnya habis disita negara, Tirto hidup tak menentu dan mengalami depresi akut di Batavia.

Tirto Adhi Soerjo, Wafat pada tanggal 7 desember 1918, Tirto meninggal dalam keadaan masih muda yaitu masih berumur 38 tahun, dalam tulisan sahabatnya yaitu mas Marco Kartodikromo, yang berjudul “Mangkat” dalam tulisannya tersebut ia menulis “Tuan T.A.S. adalah induk jurnalis bumiputera di tanah jawa. Tajam sekali beliau punya pena. Banyak pembesar yang kena kritiknya jadi muntah darah dan sebagian besar memperbaiki kelakuannya yang kurang senonoh” tulisnya, yang dimuat dalam surat kabar Djawi Hisworo edisi 13 Desember 1918. Menurut mas Marco, Tirto sudah dianggap sebagai guru atau mentor dalam bidang jurnalistik.

Pada akhir tahun 1918, surat kabar De Locomotief, memuat tentang berita kematian Tirto, warta tersebut menulis, “Sebuah kuburan di Mangga Dua, Batavia, yang sedikitpun tak berbeda dari kuburan-kuburan lain di sekitarnya, adalah tempat istirahat terakhir pekerja dan jurnalis ini. Hari-harian pribumi tiada menyinggung lagi tentangnya, dan sampailah kemudian ke telinga kami bahwa orang membisu tentangnya dikarenakan hormat yang mendalam kepadanya lantaran tahun-tahun terakhirnya memilukan. Tirto Adhi Soerjo telah menjadi korban kerja kerasnya sendiri. Dalam tujuh-delapan tahun terakhir telah sepenuhnya rusak ingatan dan takut orang” demikian yang ditulis oleh koran terbitan Semarang ini.

Pramoedya Ananta Toer, dalam tulisannya dalam novel “Sang Pemula” menuliskan bagaimana gambaran tentang kematian Tirto, “Pada hari suram tanggal 7 Desember 1918 sebuah iring-iringan kecil, sangat kecil, mengantarkan jenasahnya ke peristirahatannya yang terakhir di Mangga dua, Jakarta. Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tak begitu panjang. Itulah hari terakhir R.M. Tirto Adhi Soerjo. Bagi seorang jurnalis kenamaan, yang dalam dasawarsa pertama abad ini banyak disebut oleh pers di Hindia maupun Nederland, memang terlalu sedikit anggapan orang atas kematiannya”.

Pada tahun 1973, Tirto Adhi Soerjo, pemerintah mengukuhkan Tirto sebagai Bapak Pers Nasional. Selanjutnya pada November 2006, terbit Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 85/TK/2006 yang mengesahkan, Tirto sebagai pahlawan nasional.

Sumber:

Buku:

Muhidin.M Dahlan & Iswara N. Raditya. Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan.. R:Boekoe .2008

Pramoedya Ananta Toer. Sang Pemula. Jakarta. Hasta Mitra. 1985

Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926

Artikel :

Iswara N Raditya. Desember 2018. Tirto Adhi Soerjo bapak pers nasional yang mati dalam sunyi. https://tirto.id/tirto-adhi-soerjo-bapak-pers-nasional-yang-mati-dalam-sunyi-dbs6

Iswara N Raditya. 2016. Sang pemula di segala lini massa. https://tirto.id/sang-pemula-di-segala-lini-massa-b1NC

Iswara N Raditya. Desember 2018. Gerak Tirto Adhi Soerjo dalam emansipasi perempuan .https://tirto.id/gerak-tirto-adhi-soerjo-dalam-emansipasi-perempuan-indonesia-dbqp

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/R_M_Tirto_Adhi_Soerjo | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here