Home Berita AMARAH UB : KEBIJAKAN DITUNTUT, ATURAN STIKER DICABUT

AMARAH UB : KEBIJAKAN DITUNTUT, ATURAN STIKER DICABUT

87
0
SHARE

ManifesT-Malang (3/4), Pada Senin lalu (1/4), ratusan mahasiswa Universitas Brawijaya UB yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah UB (Amarah UB) melakukan aksi di depan Gedung Rektorat UB untuk menyuarakan beberapa tuntutan mereka kepada Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani A.R., M.S. bersama jajarannya.

Menurut Zhafir Galang selaku koordinator aksi Amarah UB, ada tiga poin tuntutan dari mahasiswa kepada rektor terkait masalah program yang dijalankan Rektor UB dalam beberapa bulan terakhir, tuntutan yang pertama adalah perbolehkan ojek online untuk memasuki area kampus UB, kedua adalah hapus dan tolak kebijakan stiker, dan yang terakhir adalah alih fungsi bus UB untuk di gunakan mahasiswa dalam kegiatan di luar kampus. Aksi Amarah diikuti sekitar sebelas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB. Adapun BEM yang bergabung dalam Amarah tersebut yaitu, BEM FH, BEM FMIPA, BEM FEB, BEM FIB, BEM FILKOM, BEM FPIK, BEM FAPET, BEM VOKASI, BEM FKH, dan BEM FTP. Sayangnya, aksi tersebut tidak diikuti pula oleh Eksekutif Mahasiswa (EM) UB.

Aksi yang terjadi siang kemarin berlangsung damai dan kondusif, pihak rektorat pun menerima perwakilan mahasiswa untuk bernegosiasi dengan mereka. Aksi tersebut diramaikan dengan orasi dari para mahasiswa yang menyuarakan keprihatinan mereka terhadap pihak rektorat yang bertindak tanpa berpikir panjang atas program yang mereka jalankan. Di tengah aksi pun kerap terdengar teriakan “Turun Rektor!” sebagai langkah untuk meminta agar Rektor UB turun menemui mereka.

Massa pun sempat ingin menggeruduk masuk ke dalam Gedung Rektorat UB  karena merasa negosiasi yang dilakukan sudah terlalu lama dan rektor tak kunjung turun menemui massa aksi. Sempat terdengar teriakan “Revolusi!” tanda massa aksi akan siap untuk menggeruduk masuk ke dalam Gedung Rektorat, namun pihak keamanan berhasil menahan massa untuk tidak masuk kedalam gedung. Tidak berapa lama kemudian rektor bersama jajarannya dan para wakil negosiator pun keluar dan menemui massa aksi. Setelah negosiasi yang cukup lama akhirnya rektor pun memenuhi tuntutan massa aksi dengan beberapa syarat pada setiap poinnya yang disepakati oleh mahasiswa pula. Salah satu syaratnya adalah bahwa ojek online dapat masuk namun harus berhenti di tempat yang telah disediakan, rektor juga mengajak mahasiswa menjadi relawan untuk memberi tahu ojek online apabila mengetahui ada ojek online yang berhenti tidak pada tempatnya.

Mendengar tuntutan mereka dipenuhi massa aksi pun bersorak senang dan bertepuk tangan pada keputusan rektor tersebut. Massa juga terdengar mengucap terima kasih kepada rektor atas perhatian yang diberikan rektor pada tuntutan mereka. Di akhir aksi setelah rektor menemui mereka, lagu “Darah Juang” pun menggema di Gedung Rektorat dinyanyikan oleh para mahasiswa. Aksi pun diakhiri dengan damai tanpa adanya tindak anarkis dan kekerasan. (/irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here