Home Resensi Review Film Sexy Killers, Persekutuan Jahat Para Oligarki Tambang Batu Bara

Review Film Sexy Killers, Persekutuan Jahat Para Oligarki Tambang Batu Bara

2728
0
SHARE

Oleh : Rinalvin Achmad Wiryawan

ManifesT-Malang, Dentuman keras, menggelegar ketika bukit-bukit berwarna hitam tersebut di ledakkan, bebatuan dan pasir yang terkena ledakan tersebut berhamburan, di tengah suara ledakan tersebut, truk-truk besar berlalu-lalang memunguti bebatuan hitam bekas ledakan, lalu membawanya ke pelabuhan, dan mengangkutnya di tongkang kapal yang sudah siap menunggu di pelabuhan Samarinda. Dari Kalimantan, puluhan ribu ton batu bara yang diangkut oleh kapal – kapal tongkang hilir mudik menuju PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), terutama terletak di pulau Jawa dan Bali, di PLTU tersebut, batu bara diolah menjadi listrik yang kita nikmati saat ini, yang diambil dengan cara mengekploitasi bukit bukit tambang di daerah Kalimantan, khususnya wilayah Kalimantan Timur.

Edisi Pamungkas dari Ekspedisi Indonesia Biru

Sexy Killers, merupakan film yang di buat oleh Watchdoc, yaitu rumah produksi film dokumenter yang di bentuk oleh Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Parta, dalam edisi kali ini merupakan edisi terakhir dari serial “Ekspedisi Indonesia Biru” yang merupakan projek tim Watchdoc dalam melakukan jurnalisme investigasi ke pelosok Indonesia untuk melihat, Dandhy ingin menggambarkan bahwa Indonesia sedang “tidak baik-baik saja”. Dalam pembuatan film Sexy Killers tersebut, Dandhy di bantu bersama 14 videografer, 5 pilot drone, dan 2 underwater fotografer, yang dikemas dalam produk jurnalisme investigatif, berbasis riset data, verifikasi dokumen, dan observasi langsung. Film Sexy Killers ini, di putar serentak pada tanggal 5-13 April 2019, di berbagai daerah di Indonesia.

Pada selasa malam (9/4/2019), diadakan diskusi dan nonton bareng film “Sexy Killers”, yang bertempat di Kali Metro Malang, dalam acara tersebut diskusi pemantik diisi oleh Maryam Jamelah (Resister Indonesia) dan In’amul Mushoffa (Instrans Institute). Di tempat diskusi dan pemutaran film tersebut, sekitar ratusan masyarakat yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan pelajar, memadati Kali Metro Malang.

(Peserta diskusi dan pemutaran film “Sexy Killers” di Kali Metro Malang)

(Pemantik diskusi oleh Maryam Jamelah dari Resister Indonesia dan In’amul Mushoffa dari Instrans Institute)

Oligarki, Batu Bara, Politik

Dalam film Sexy Killers tersebut, Petualangan Dandhy, dimulai di daerah Kalimantan Timur, disana ia ingin memperlihatkan bahwa keadaan masyarakat di dekat pertambangan batu bara sangat memprihatinkan, bagaimana tidak, bukit-bukit dihancurkan, dan dikeruk isinya, tanah-tanah pertanian banyak yang terkena dampaknya, belum lagi isu lingkungan seperti lahan hijau yang hancur, lubang bekas galian tambang, serta sulitnya mendapatkan air bersih, lalu dampak-dampak ekologis  lainnya.

Film ini, ingin mengingatkan bahwa, di tengah hingar-bingarnya pesta demokrasi kita yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 nanti, kita harus melihat secara kritis terhadap berbagai permasalahan di Indonesia, dalam film ini kita disuguhkan dengan pemandangan penghancuran lingkungan secara masif yang dilakukan oleh para elit dan oligark tambang batu bara, yang jika dilihat dari data JATAM (Jaringan Advokasi Tambang), kedua calon presiden kita, memiliki orang-orang yang saling terkait dalam permasalahan tambang yang terus memakan korban. Bagaimana tidak?, banyak lubang-lubang tambang yang memakan korban jiwa. Data dari JATAM, menyebutkan bahwa selama tahun 2014-2018, dari 3.033 lubang tambang memakan korban sekitar 140 orang meninggal di lubang tambang, dengan rincian 32 korban di Kaltim dan sisanya tersebar di berbagai daerah.

Dalam film tersebut, kita akan dibuat “Mind Blowing” karena kita akan diajak saling mengaitkan alur jaringan para oligarki yang bertanggung jawab atas kejatahan tersebut, dan ternyata para oligark tersebut adalah nama-nama yang mungkin cukup terkenal bahkan memiliki pengaruh yang kuat, dalam Sexy Killers tersebut, Dandhy ingin memperlihatkan bahwa antara satu oligark, dengan oligark lain itu saling berkaitan satu sama lain, yang memiliki kepentingan masing-masing di balik bisnis batu bara yang sangat menguntungkan ini.

Film ini dinamai Sexy Killers, mungkin sangat relevan dengan realita yang terjadi di lapangan, karena dapat di bilang “Sexy” karena dalam bisnis batu bara ini sangat menguntungkan bagi pemodal, bagaimana tidak, karena batu bara menjadi bahan baku yang paling murah di banding dengan energi terbarukan lainnya. “Paling murah tetapi paling tidak ramah lingkungan”. Di bilang “Killers”, karena bisnis ini membunuh manusia serta dampak ekosistem, dan sosial-kultural masyarakat, mulai dari dampak kerusakan terjadi lingkungan lahan bekas tambang batu bara, bekas lubang tambang yang memakan korban, di laut terjadi kerusakan terumbu karang dan polusi air, dikarenakan lalu lalang kapal tongkang pengangkut batu bara, hingga penyakit yang disebabkan dari asap bekas pembuangan PLTU yang terletak di dekat pemukiman masyarakat yang dapat di menimbulkan penyakit pernafasan dan yang paling parah adalah ancaman penyakit “kanker mematikan”.

Dalam diskusi yang dilaksanakan di Kali Metro Malang, menurut pemantik diskusi, Maryam Jamelah, menceritakan pengalamannya ketika berada di Kaltim, ia mengatakan bahwa “Kami yang pernah melakukan observasi langsung ke Kaltim, melihat bahwa banyak hal yang tidak sesuai realita, disana sering sekali terjadi ‘listrik mati’, dari pada yang terjadi di pulau Jawa, padahal disana tempat dikeruknya bahan untuk memproduksi listrik”. Menurut In’amul Mushoffa dari Intrans Institute, mengatakan bahwa “Para oligark-oligark ini saling berkaitan satu sama lain, saling menguntungkan satu sama lain dengan prinsip ‘gotong-royong’ antar oligark”, lanjutnya “Yang menguasai perusahaan tambang batu bara di Indonesia ada 3, yaitu Kapitalis Pribumi, Asing dan Militer, ini yang harus kita lawan bersama-sama”, tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here