Home Opini Kita Semua yang Bekerja dan Diupah Adalah Buruh!

Kita Semua yang Bekerja dan Diupah Adalah Buruh!

264
0
SHARE

Oleh : Rinalvin Achmad Wiryawan

“Modal bisa memenjarakan manusia, membuat manusia bekerja tanpa henti, dari jam 5 subuh sampai jam 8 malam untuk kekayaan orang lain”

– Tan Malaka

Peradaban dibangun oleh buruh

Sejak era perbudakan, hingga era kapitalisme, yang berkembang hingga saat ini, keindahan kota-kota megah, segala perabotan yang kita miliki, mayoritas dibuat atas kerja keras buruh, Mulai dari gedung-gedung pencakar langit, sampai Smartphone yang kita pegang saat ini, semuanya dibuat oleh keringat para buruh. Mereka membanting tulang pagi hingga malam untuk kebutuhan masyarakat. Sejarah perjuangan buruh, merupakan sejarah perjuangan kelas, di mana kelas buruh (proletar) adalah kelas yang tertindas oleh bos-bos mereka, yang disebut kaum pemodal (kapitalis). Menurut Filsuf “Sosialis ilmiah”, Karl Marx, menjelaskan bahwa “sejarah seluruh umat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas.” Menurut pandangan tersebut Marx ingin menjelaskan bahwa peradaban umat manusia dalam proses perjalanannya (sejarah), terjadi pertentangan kelas antara kaum proletar melawan kaum kapitalis, yang akan terus bergesekan satu sama lain yang terus berlangsung pada masa peradaban saat ini, dan akan terus berlangsung di masa yang akan datang.

Pergeseran stigma “buruh” di Indonesia

Ketika mendengar kata “buruh”, dalam benak kita, adalah suatu profesi kasar, miskin, berpendidikan rendah, dan memiliki keahlian yang buruk, tetapi pada dasarnya buruh menyangkut, segala profesi tidak peduli bekerja sebagai pekerja kasar atau pekerja profesional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke V, menjelaskan definisi buruh adalah “orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah”. Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, definisi buruh memiliki arti “setiap orang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.” Dengan ini memiliki arti bahwa bagi mereka yang melakukan segala bentuk pekerjaan dengan menerima upah atau imbalan adalah buruh. Walaupun dalam peraturan perundang-undangan hukum kita membedakan antara profesi buruh dengan profesi lain semisal Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Di Indonesia pergeseran stigma negatif buruh ini, sudah berlangsung sejak jaman orde baru, di mana Presiden Soeharto, merubah kata “buruh” menjadi suatu pekerjaan yang rendah. Pada era orde baru, Soeharto memberangus serikat buruh yang dianggap “komunis” dan membentuk serikat buruh versi “orde baru” melalui partai “Golongan Karya” milik Soeharto, merubah arti kata “buruh” menjadi “karyawan atau pegawai”, yang memiliki strata pekerjaan yang lebih tinggi dari “pekerja buruh”, bagi mereka yang dianggap karyawan, biasanya mereka yang bekerja di kantor atau instansi non-industri, berbeda dengan buruh yang dianggap bekerja sebagai kuli panggul, pekerja pabrik, dan pekerjaan kasar lainnya. Padahal pada dasarnya, mereka semua buruh, tidak memandang pekerja kasar atau pekerja profesional, mereka semua adalah buruh, bahkan guru atau dosen yang mengajar kalian, mereka juga buruh, para profesional yang bekerja dalam suatu perusahaan besar, mereka semua juga buruh, tidak ada pembeda antara buruh berkerah biru dan buruh berkerah putih.

Nasib buruh di Era Revolusi Industri 4.0

Setiap perubahan era Revolusi Industri, memiliki dampak positif maupun negatif, dampak positif dari Revolusi Industri adalah peningkatan produksi dengan cepat dan masif, dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia (mesin), sedangkan dampak negatifnya, setiap Revolusi Industri, pastilah memakan korban, mulai dari Revolusi Industri pertama hingga keempat (yang akan datang), peran tenaga manusia tergantikan oleh tenaga-tenaga mesin, dari proses manual menjadi proses otomatis. Dengan dampak seperti itu, pastilah tenaga manusia akan tergantikan oleh adanya mesin-mesin yang dapat bekerja lebih efisien dan lebih murah bagi kaum pemodal. Lalu bagaimana dengan Revolusi Industri keempat yang akan datang ?, beberapa hal mungkin lebih masif dari peran-peran mesin yang ada pada Revolusi Industri sebelumnya, pada era ini, hubungan antara mesin terkoneksi dengan internet, di mana mesin-mesin dengan sistem kecerdasan buatan, atau biasa disebut AI (Artificial Intelegence) yang canggih tersebut terhubung sama lain. Para pemodal mungkin hanya membutuhkan tenaga manusia yang sangat sedikit yang dapat menggerakkan mesin-mesin yang sudah tersistem dan terkoneksi satu dengan yang lain, lalu bagaimana dengan nasib mayoritas buruh di masa yang akan datang ? apakah sejarah perjuangan kelas yang disebut Marx akan terus berlanjut ? yang pasti buruh akan terus memperjuangkan hak-hak mereka, tidak peduli mereka akan tergantikan oleh kekuatan mesin yang dikendalikan oleh para pemodal, karena pada dasarnya buruh adalah manusia bukan robot, yaitu bagi mereka yang bekerja untuk dirinya dan untuk masyarakat umum itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here