Home Uncategorized Tindakan Represif Mewarnai Aksi Hari Ini

Tindakan Represif Mewarnai Aksi Hari Ini

160
0
SHARE

ManifesT-Malang (24/9), Aksi solidaritas kembali berapi-api, setelah aksi yang dilakukan pada tanggal 23 September kemarin. Massa kembali berkumpul di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Malang. Pada pagi hari ini guna melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan dalam aksi solidaritas sebelumnya. Massa aksi memulai aksinya sejak pukul 8.00 WIB, organ-organ yang tergabung dalam Front Rakyat Melawan Oligarki (FRMO) dan terdapat juga aliansi dari Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (ARD) yang bergabung serta aksi bersama di depan Gedung DPRD kota Malang. Nyanyian-nyanyian perjuangan mahasiswa dan berbagai jargon seperti “Demokrasi oligarki!”, “Reformasi dikorupsi!”, penolakan terhadap kebijakan pemerintah terus bergaung di depan gedung DPRD kota Malang.

Aksi juga diwarnai dengan orasi yang dilakukan oleh berbagai organ yang tergabung dalam aliansi. Mereka menuntut agar pemerintah daerah khususnya DPRD untuk mengambil sikap dan menekan pemerintah pusat untuk segera memenuhi tuntutan dari massa aksi, mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) KPK, Revisi KUHP, dan RUU yang bermasalah lainnya. Aksi ini mulai membuahkan hasil ketika memasuki pukul 12.00 WIB. Beberapa mahasiswa yang sebelumnya ditunjuk guna melakukan negosiasi dengan anggota DPRD berhasil melakukan negosiasi, massa aksi menyerukan perwakilan dari DPRD kota Malang, agar keluar untuk membacakan hasil negosiasi dan bertemu dengan massa aksi. Dirasa kurang puas terhadap negosiasi, massa aksi menuntut untuk diperbolehkan masuk dan menduduki Gedung DPRD.

Dengan keadaan yang semakin memanas pada akhirnya polisi pun mengambil sikap dengan mengajak 10 perwakilan dari aliansi untuk melakukan negosiasi dengan anggota DPRD. Banyaknya massa yang berkumpul didepan gerbang gedung DPRD, dan karena adanya perbedaan tuntutan. Massa aksi yang merasa kurang puas terhadap tuntutannya menyebabkan kericuhan, aksi lempar batu hingga saling dorong tidak terhindarkan didalam barisan massa, pihak aparat kepolisian lalu mendorong massa aksi untuk bubar menggunakan pentungan dan mobil “water cannon”. Tindakan represif oleh polisi mengakibatkan beberapa massa aksi luka-luka.

Dalam data aliansi terdapat 10 anggota massa aksi yang berjatuhan dan luka-luka akibat dari kericuhan yang terjadi. Mulai dari sesak nafas hingga bocornya kepala beberapa anggota massa akibat represifitas aparat membuat massa untuk menarik diri. Pada akhirnya massa kembali untuk mengonsolidasikan hal-hal apa saja yang dilakukan setelah aksi hari ini. (Tib/Raw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here