Home Berita DEBAT TERBUKA DPM FH, PERSETERUAN ANTAR GOLONGAN TURUT DISOROTI

DEBAT TERBUKA DPM FH, PERSETERUAN ANTAR GOLONGAN TURUT DISOROTI

179
0
SHARE

ManifesT-Malang, Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) menyelenggarakan Debat Terbuka (18/11) bagi calon Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) 2020. Penyelenggaraan acara ini dimulai pukul 10.00 WIB dan berakhir pada 13.00 WIB. Bertempat di depan lobi gedung B FH UB, kesembilan belas calon DPM FH UB saling beradu argumen serta mengunggulkan visi dan misinya masing-masing.

Dibuka oleh pembawa acara Nadira dan Ghifari, acara ini dibagi menjadi tiga babak. Masing-masing babak hadir dengan panelis yang berbeda. Panelis diambil dari pihak dosen FH UB. Babak pertama diisi oleh calon DPM FH UB nomor urut 1 – 7 dengan panelis Ibu Prawatya Ido Nurhayati, S.H., M.Kn. Babak kedua menghadirkan DPM FH UB nomor urut 8 – 13 dengan panelis Bapak M. Dahlan, SH., M.H. Sedangkan babak terakhir nomor urut 14 – 19 dengan panelis Bapak Agis Ardhiansyah, S.H., LL.M. Masing-masing babak ini menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Acara debat kali ini turut dimeriahkan oleh beberapa pendukung calon DPM FH UB. Euforia dari masing-masing pendukung calon DPM ini terdengar sangat riuh dari awal hingga akhir acara. Mereka meneriakkan yel-yel dan jargon kebanggaan untuk mendukung calon yang mereka usung. Tujuan dari dukungan ini adalah agar calon jagoan, yang mereka gadang-gadang mampu dan mumpuni, menjadi lebih terpacu dan semangat dalam menyampaikan visi dan misi, serta program kerja mereka.

Panitia penyelenggara kegiatan memberikan empat sesi untuk calon DPM FH UB untuk menyampaikan visi dan misinya dengan berargumen di depan para calon pemilih. Sesi pertama dimulai dengan penyampaian visi dan misi oleh masing-masing calon DPM selama tiga menit. Di sesi kedua, panelis yang berasal dari pihak dosen FH UB memberikan pertanyaan kepada masing-masing calon untuk menguji kecakapan orang-orang yang nantinya akan mewakili mahasiswa ini dalam ranah legislatif kampus. Pertanyaan yang dilontarkan umumnya berupa pertanyaan bagaimana opini atau tanggapan pribadi masing-masing calon terhadap suatu isu. Acara dilanjutkan dengan tanya jawab antar masing-masing calon sesuai dengan undian yang didapat. Sedangkan sesi ketiga merupakan sesi yang ditunggu-tunggu, audiens diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada dua calon. Terakhir, masing-masing calon diberikan kesempatan untuk memberikan penutup dengan rentang waktu bicara selama maksimal satu menit.

Pada dasarnya topik yang diangkat oleh masing-masing calon secara umum mirip satu sama lain. Pembahasan kali ini seputar fungsi awal dari DPM, yakni legislasi dan advokasi. Dalam momen kali ini, istilah advokasi lebih disoroti yaitu berula pembelaan terhadap mahasiswa. Fungsi pengawasan DPM FH UB juga sempat disinggung oleh hadirin dalam debat kali ini. beberapa calon mengklaim bahwa DPM FH UB saat ini dinilai kurang aktif sehingga apabila terpilih menjadi anggota DPM periode berikutnya di masa mendatang, mereka yakin akan dapat menghidupkan kembali fungsi pengawasan dalam ranah legislatif. Mereka juga berkomitmen untuk menampung aspirasi mahasiswa dan menghubungkan aspirasi tersebut ke Dekan. Masing-masing calon pun satu suara, mereka ingin menghidupkan DPM FH UB agar lebih aktif.

Terdapat satu pertanyaan panelis yang cukup menarik perhatian, yaitu dari Pak Ardhi selaku panelis. “Dari beberapa calon yang menyampaikan visi dan misi, saya tangkap hanya dua yang peka terhadap permasalahan di Fakultas Hukum dan memberikan solusi. Pertanyaan saya adalah calon-calon yang lain yang tidak menyampaikan ini kira-kira bisa tidak menyampaikan apa permasalahan yang ada di kampus kita ini, serta berikan solusinya,” tanya Pak Ardhi pada para calon DPM FH UB.

Namun, nampaknya jawaban yang diberikan oleh para calon DPM FH UB ini tidak lantas membuat beliau puas. Dosen yang mengajar Hukum Pidana ini mempertanyakan mengapa permasalahan menahun antar mahasiswa tidak dapat diselesaikan. Permasalahan-permasalahan klasik berupa konflik antar mahasiswa menjadi keprihatinan bagi beliau karena dianggap sangat mengganggu ketertiban dan kedamaian di FH. Beliau menyindir jargon FH, yaitu “Hukum Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan”, yang gagal dimanifetasi apabila masalah ini terus dilestarikan tanpa adanya penyelesaian. Menurut beliau, penekanan yang harus dimiliki para calon DPM adalah kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

“Masalah yang terjadi dari zaman saya kuliah sampai sekarang adalah perseteruan. Jadi kita teriak-teriak ‘Hukum Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan’, tapi di dalam apa? Gontok-gontokan. Berapa kali kami dosen, ‘Woi, ada yang berkelahi di sana!’. Seolah kami yang harus cari solusinya. Ini harus dihentikan. Kalau tidak diganti saja yel-yelnya”, keluhnya. Beliau menutup dengan berpesan agar semua permasalahan itu harus diselesaikan oleh DPM terpilih yang amanah agar menciptakan FH damai dan tenteram. (msl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here