Home Berita KONTESTASI DUA PASANGAN, KETIDAKHADIRAN SATU MENJADI PERTANYAAN

KONTESTASI DUA PASANGAN, KETIDAKHADIRAN SATU MENJADI PERTANYAAN

200
0
SHARE

ManifesT-Malang, November ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat Republik Demokrasi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (RDM – FH UB) untuk menggunakan hak suaranya dalam pemilihan secara langsung dengan sebutan Pemilihan Mahasiswa Wilayah (Pemilwa). Dalam Pemilwa, mahasiswa FH diberi kesempatan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta tiga belas Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) untuk satu periode berikutnya. Namun, sebelum memilih hendaknya kita mengetahui kualifikasi dan kualitas para calon, utamanya pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden BEM FH.

Hari ini (18/11) Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) menyelenggarakan acara Uji Publik berupa debat terbuka untuk menguji secara langsung kualitas para calon legislatif serta eksekutif mahasiswa fakultas ini di hadapan masyarakat FH UB. Dipandu oleh pembawa acara Ghiffary dan Nadira, acara ini berjalan dengan lancar dan diikuti banyak penonton yang saling meneriakkan jargon untuk para calon yang didukungnya.

Namun sayangnya, ada beberapa hal yang menjadi kendala. Salah satunya ialah paslon nomor urut 1 tidak dapat hadir dalam Uji Publik kali ini. Ketidakhadiran ini mengakibatkan penonton ikut bertanya-tanya alasan apa yang menghambat paslon nomor urut 1, padahal banyak mahasiswa yang berekspektasi terciptanya debat panas nan substansial antara kedua paslon. Bahkan hingga acara usai pun panitia KPM dan pihak manajer dari paslon nomor urut 1 tidak memberikan keterangan apapun yang menjawab rasa penasaran ini. Acara yang sempat diundur beberapa menit dari penjadwalan awal yaitu pukul 14.00 WIB tetap diselenggarakan, meskipun hanya dihadiri oleh paslon nomor urut 2, yang terdiri dari Rafi Faried sebagai Calon Presiden dan Wakilnya, Mikail Akbar.

Acara Uji Publik ini rencananya dibagi menjadi empat sesi, yaitu sesi pertama para calon akan mengemukakan visi dan misi yang mereka bawa untuk satu periode ke depan. Sesi kedua para paslon diberikan pertanyaan oleh panelis. Dilanjut sesi ketiga berupa pertanyaan yang diajukan dari para paslon untuk paslon lainnya. Tetapi karena ketidakhadiran paslon nomor urut 1, acara langsung dilanjutkan ke sesi empat, yaitu pertanyaan oleh audiens.

Dalam Uji Publik kali ini calon Presiden dan Wakil Presiden BEM FH UB menghadirkan Ibu Dr. Lucky Endrawati, S.H., M.H. sebagai panelis. Namun, terdapat hal yang menarik di sini. Sebelum mengajukan pertanyaan, dosen yang mengajar di bidang Hukum Pidana ini mengusir para penonton yang duduk di atas taman dan menyuruh mereka untuk membersihkan sampah-sampah yang ada.

Setelah dirasa semuanya bersih, Bu Lucky segera melayangkan pertanyaan pertamanya kepada calon Wakil Presiden BEM nomor urut 2, Mikail Akbar. Inti dari pertanyaan tersebut adalah tentang pergerakan yang sebelumnya disampaikan Mikail pada sesi pertama, dan hal apa yang dapat dibanggakan mahasiswa FH UB dibandingkan mahasiswa fakultas lain. Selanjutnya, beliau melemparkan pertanyaan kepada calon Presiden BEM nomor urut 2, Rafi Faried pada topik seputar keperadaban.

Sekalipun acara Uji Publik kali ini hanya menampilkan satu paslon, atmosfer penonton cukup riuh dan semarak. Meskipun tidak menghadirkan keseluruhan calon layaknya Uji Publik DPM sebelumnya, semangat para pendukung tetap patut diapresiasi dalam salah satu rangkaian acara dari konstestasi perpolitikan ini. Sebagai pemilih yang bijak, sebaiknya para calon pemilih menilai dengan teliti kualitas kedua paslon, termasuk mencari tahu bagaimana sebenarnya visi dan misi paslon nomor urut 1 karena belum diuji secara langsung di hadapan para konstituen FH UB. Agar jangan sampai satu suara berharga yang dimiliki masing-masing mahasiswa diberikan secara buta bak membeli kucing dalam karung. (hga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here