Home Berita SEMARAK PESTA DEMOKRASI HUKUM, ANTRIAN PANJANG NAMPAK TAK UMUM

SEMARAK PESTA DEMOKRASI HUKUM, ANTRIAN PANJANG NAMPAK TAK UMUM

203
0
SHARE

ManifesT-Malang, Pada Rabu (20/11) telah terlaksana perhelatan pesta demokrasi akbar di lingkungan Universitas Brawijaya (UB). Dalam pesta demokrasi ini terjadi dua pemilihan, yaitu Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) di tingkat universitas dan Pemilihan Mahasiswa Wilayah (Pemilwa). Para mahasiswa UB terdaftar sebagai pemilih akan menggunakan hak suara mereka dalam kontestasi perpolitikan kampus yang rutin diadakan menjelang akhir tahun ini. Sama seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan antara Pemira dan Pemilwa di tiap fakultas dilakukan secara serentak, termasuk di Fakultas Hukum (FH). Pemungutan suara di FH dilaksanakan di lantai 1 Gedung B FH, tepatnya di lobi tengah Gedung B. Tempat Pemungutan Suara sendiri (TPS) mulai dibuka pada pukul 08.00 WIB oleh panitia Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM).

            Meskipun pelaksanaan pemungutan suara terlihat lancar, namun sempat terjadi beberapa hambatan seperti server down dan lambatnya pemasukan data yang membuat antrian menjadi mengular. Hal tersebut tentu memperlambat jalannya proses pemungutan suara sehingga satu pemilih bisa menunggu sampai kurang lebih satu jam di antrian hanya untuk memberikan suaranya. Selain itu juga sempat terjadi kegagalan server di beberapa bilik, sehingga tidak semua bilik dapat dimaksimalkan dalam memfasilitasi pemungutan suara.

            Pemungutan suara dijadwalkan akan berakhir pada pukul 17.00 WIB. Sesuai dengan kebijakan Rektor yang memutuskan bahwa server akan otomatis dimatikan bila sudah sampai tenggat waktu. Akan tetapi, dikarenakan server down di setiap fakultas yang tentunya sangat menggangu serta akumulasi gangguan ini mencapai waktu satu jam, panitia sepakat memberikan penambahan waktu hingga pukul 18.00 WIB. Kebijakan ini diberikan mengingat di beberapa fakultas, termasuk FH, masih terjadi antrian panjang pemilih yang tentu akan terbuang sia-sia bila tidak diberikan penambahan waktu. Dalam waktu sekitar satu jam sebelum server dijadwalkan dimatikan saja, antrian pemilih di FH terpantau sangat panjang hingga membuat KPM sempat kewalahan menangani para pemilih yang berbaris dengan tidak cukup tertib. Umum terlihat antar pemilih saling menyorobot antrian yang memancing emosi beberapa pihak sehingga kondisi sempat panas. Antusiasme yang besar dari para pemilih ini belum pernah terjadi di pelaksanaan Pemira dan Pemilwa di FH sebelumnya, sehingga menjadi hal baru.

            Terkait Pemilwa FH tahun ini, reporter kami berhasil mewawancarai Ketua KPM, Dias Al-Farizky, untuk mengkonfirmasi beberapa isu yang beredar belakangan ini soal pelaksanaan Pemilwa yang tentunya menyeret nama KPM. Menurutnya acara yang sudah berlangsung selama satu minggu lebih ini berlangsung dengan cukup baik, walaupun dia juga mengakui masih ada beberapa kekurangan yang terjadi. Dalam Pemilwa tahun ini, terdapat beberapa hal yang menarik untuk disoroti, seperti calon DPM FH UB nomor urut 10 yang tidak mengikuti tes tulis fit and proper test sehingga hanya mengikuti tes wawancara saja. Selain itu, kurangnya sosialisasi mengenai cara pemilihan melalui e-voting juga menjadi masalah mengingat mahasiswa baru tahun ini yang bertambah. Pertambahan jumlah mahasiswa baru ini berarti bahwa jumlah pemilih pemula tahun ini meningkat pula, sehingga seharusnya usaha untuk mensosialisasikan mekanisme pemilihan lebih digalakkan. Sosialiasi hanya dikeluarkan melalui media sosial yang mengakibatkan banyak mahasiswa baru masih buta akan informasi sistem e-voting ini.

            Panitia KPM juga membuka ruang pengaduan yang akan menampung pengaduan online dan offline mengenai masalah-masalah yang berlangsung selama acara Pemilwa. “Sebenarnya pengaduan online baru masuk pada akhir-akhir waktu kampanye, sehingga hal tersebut kurang dapat ditindaklanjuti. Untuk prosedurnya, seperti pengisian identitas dan kronologi kejadian untuk kemudian hal tersebut akan ditindak lanjuti”, jelas mahasiswa semester lima FH ini.

            Adapun aduan yang sempat dilaporkan kepada KPM adalah terkait banner pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FH nomor 1 yang menutupi banner calon Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB nomor 10. Selain itu, masalah yang terjadi adalah perobekan banner paslon nomor 1. Terkait masalah banner yang menutupi banner calon lain, tim sukses paslon 1 sudah diberi surat peringatan tertulis, sehingga sudah dianggap selesai. Sedangkan untuk masalah perobekan banner tidak bisa ditangani karena tidak cukupnya alat bukti dimana tim sukses paslon 1 hanya menyertakan bukti berupa foto kerusakan banner dan saksi yang melihat kerusakan banner, bukan saksi mata perusakan banner.

            Masalah perobekan banner yang tidak ditangani ini membuat paslon 1 tidak hadir pada saat Uji Publik berupa debat antara calon DPM dan calon Presiden dan Wakil Presiden BEM FH. Walau begitu, manajer mereka sempat ingin membacakan pernyataan mengenai ketidakhadiran mereka yang langsung ditolak oleh KPM. Hal ini karena sejak awal memang telah dibuat peraturan mengenai dilarangnya pewakilan pembacaan berkas oleh orang lain selain calon. (gvn/ddi/cca)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here