Home Berita Akankah Ganja Legal?

Akankah Ganja Legal?

395
0
SHARE

ManifesT – Malang, Kamis siang (05/04) Telah dilaksanakannya seminar hukum yang bertema Polemik Legalisasi Ekspor Ganja: Medical Purpose dan Criminal Law yang diselenggarakan oleh Forum Kajian dan Penelitian Hukum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FKPH UB) dan Himpunan Mahasiswa Konsentrasi Pidana Universitas Brawijaya (Himakopi UB). Seminar tersebut diselenggarakan di Auditorium Gedung A Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Seminar dibuka dengan sambutan dari Andika Arya C. selaku ketua acara, Emil Dayu selaku direktur FKPH FH UB, dan Dr. Setiawan Noerdyasakti, S.H., M.H. selaku Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan FH UB. Seminar ini diselenggarakan guna menanggapi usulan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tentang pemanfaatan ganja sebagai komoditas ekspor di Indonesia dan untuk mencari titik terang soal ganja itu dapat dilegalkan atau tidak.

Dalam seminar ini dimoderatori oleh Rhiyo Hattory selaku Ketua Umum Himakopi dan dinarasumberi oleh Dr. Abdul Madjid, S.H.,M.Hum. selaku dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan Drs. Agus Irianto, M.Si selaku Kepala Badan Narkotika Nasional kota Malang.

Seminar kali ini dibuka dengan pemaparan materi dari Agus Irianto. Agus Irianto membuka materinya dengan menceritakan pengalamannya dalam penindakan penyalahgunaan narkoba di Malang. Sepengalaman Agus Irianto, jenis narkoba yang paling populer di Malang adalah ganja ditambah lagi dengan fakta bahwa mayoritas penghuni Lembaga Permasyarakatan Lowokwaru adalah korban penyalahgunaan narkoba. Akan tetapi, dia lebih merekomendasi penindakan korban penyalahgunaan narkoba itu direhabilitasi. Dia juga beranggapan bahwa ganja selama ini hanya digunakan sebagai alat pencari kebahagiaan. Menurutnya, pemanfaatan ganja sebagai komoditas ekspor tidak bisa diterapkan karena bertentangan dengan UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Selama ini, dia selaku Kepala BNN kota Malang hanya menjalankan sesuai dengan amanat UU tentang Narkotika.

Selanjutnya materi dipaparkan oleh Dr. Abdul Madjid, S.H.,M.Hum. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa ganja hanya digunakan sebagai obat pembantu dalam hal medis—ganja tidak digunakan sebagai obat utama. Beliau memperingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya kepada hal-hal mitos terkait dengan ganja. Beliau menegaskan bahwa tidak mungkin pemerintah melegalisasi ganja, apalagi digunakan sebagai komoditas ekspor. Akan tetapi, ketika ganja digunakan sebagai komoditas ekspor, regulasi yang diterapkan akan sangat ketat dan terbatas.

Setelah narasumber memaparkan materinya, seminar dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dari beberapa audiens. Pertanyaan pertama diajukan oleh Rizki Wijayanti selaku Mahasiswa FH UB, dia bertanya,  “Mengapa ganja sebagai alat riset itu susah didapatkan?”

Agus Iriyanto menjawab, “Ganja yang berada di BNN adalah sebagai barang bukti. Sehingga, barang tersebut tidak bisa digunakan sebagai riset karena harus barang tersebut harus diberikan kepada pengadilan seutuhnya.”

Pertanyaan selanjutnya diajukan oleh Ferdy Ichan. Dia bertanya, “Mengapa nikotin dilegalkan dan ganja diilegelkan? Padahal nikotin memiliki kandungan yang lebih berbahaya dari pada ganja.”

Pihak BNN kota Malang menjawab, “Bahwasannya tembakau dan ganja memiliki risiko kesehatan yang sama. Akan tetapi, efek yang ditimbulkan dari penggunaan ganja adalah halusinasi. Oleh karena itu, ganja diilegalkan. Dia juga mengaku bahwa ia tidak tahu soal ganja memiliki peringkat lebih baik dari pada nikotin dalam hal kandungan berbahayanya.” (vrs/rfl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here