Home Berita KAMPUS MERDEKA : Untuk Kita atau Mereka ?

KAMPUS MERDEKA : Untuk Kita atau Mereka ?

474
0
SHARE

ManifesT, Pada hari Senin (09/03/20) telah diadakan kajian terbuka oleh Kementerian Kajian Aksi dan Strategi (Kastrat) BEM Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) 2020 di pelataran Gedung B FH Universitas Barawijaya. Kajian terbuka kali ini bertemakan “Kampus Merdeka: untuk Kita atau Mereka” yang didasarkan pada kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim. Kajian ini dihadiri oleh para civitas akademika dari berbagai fakultas di Universitas Brawijaya mulai diri Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) hingga Mahasiswa FH UB sendiri.

Ferdy dan Bintang selaku pemantik, membuka kajian ini dengan memberikan penjelasan sekilas mengenai kebijakan ‘Kampus Merdeka’ yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia tersebut. Mantan CEO Go-jek itu menyebutkan dalam pidatonya bahwa mahasiswa harus lebih mengedepankan kompetensi. Dengan berlandaskan alasan tersebut, mahasiswa dituntut menjadi mahasiswa yang memiliki kemampuan beragam di luar bangku kelas. Disebutkan bahwa kebijakan ‘Kampus Merdeka’ ini mengatur tentang program re-akreditasi bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat, Hak belajar tiga semester di luar prodi, Pembukaan prodi baru dalam Program Kampus Merdeka dan Kemudahan menjadi PTN-BH.

Kajian kali ini berjalan dengan dinamis karena berbagai tanggapan yang dilontarkan oleh para peserta kajian, baik yang setuju dengan kebijakan tersebut ataupun yang tidak setuju. Argumen penolakan yang dinyatakan oleh pihak kontra atau pihak yang tidak setuju adalah bahwa ketakutan akan terjadinya perbudakan mahasiswa atau dengan istilah “tenaga kerja murah” oleh perusahaan yang untung pasca lulus nanti. Di sisi lain, pihak pro atau yang setuju menyampaikan pendapat bahwa mahasiswa sendiri selain berbekal pengetahuan yang didapat dari pembelajaran kampus, juga membutuhkan pengalaman yang didapat dari magang berupa hard-skill dan soft-skill serta bantuan finansial seperti beasiswa, dan lain sebagainya.

Acara ini diadakan atas dasar keresahan mahasiswa akan kebijakan baru ini, karena sebagaimana peran dan fungsi mahasiswa yaitu sebagai pengawal isu–isu terkini serta menjadi salah satu sub kontrol sosial yang ada di masyarakat. Kajian terbuka yang diinisiasikan oleh Kastrat BEM FH UB 2020 bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta menumbuhkan awareness di kalangan mahasiswa FH UB sendiri dan mahasiswa fakultas lain yang berminat untuk ikut serta. Selain itu, pemateri juga sempat melontarkan komentar positif atas antusiasme mahasiswa UB yang telah datang dan turut aktif menyuarakan pendapat mereka, sehingga kajian terbuka ini dapat berjalan dengan lancar. “Dengan adanya forum diskusi seperti ini dapat menimbulkan efek positif baik bagi kita ataupun masyarakat luas” ujar Ferdy. Beranjak dari ujaran tersebut, diharapkan para mahasiswa bisa menambahkan ilmu serta bisa aksi dalam menjadi manusia yng bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan tentunya bagi Nusa dan Bangsa Indonesia. (tin/tsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here