Home Berita Kota Pahlawan Bersuara Untuk Melawan

Kota Pahlawan Bersuara Untuk Melawan

338
0
SHARE

ManifesT – Surabaya, Rabu (24/03/2020) Dibawah panasnya terik matahari rakyat Surabaya atau yang lebih dekat dikenal sebagi arek-arek Suroboyo berkumpul dan menyuarakan aspirasi mereka yang terhimpun pada Gerakan Tolak Omnibus Law atau “GETOL”. Pada pelaksanaan aksi tersebut dihadiri oleh sekitar 30 organ, mulai dari organisasi mahasiswa, buruh, petani dan para mayarakat tertindas. Seluruh masa aksi yang hadir besepakat bahwa Omnibus Law harus dihentikan, karena dianggap beberapa pasal tidak memihak kepada rakyat kecil namun hanya memanjakan para investor-investor besar semata. Dari sektor ketenagakerjaan dipandang akan menerapkan fleksibilitas pasar kerja secara ekstreem yang menyengsarakan buruh, sedangkan jika dikaji dari segi lingkungan dan ekologi Omnibus Law dinilai akan menghantam masyraat sipil untuk melawan pemodal yang semakin menggila mengeksploitasi alam, dimana nantinya juga akan merubah fungsi hutan dari hutan alam menjadi hutan produksi dan hutan produksi menjadi hutan sawit dan apabila alam sudah surak maka  yang merasakan bencana alam adalah rakyat kecil.

Pada aksi kali ini berbeda dari aksi-aksi sebelumnya,  konsep pada aksi kali ini dibuat seperti rapat akbar untuk mengumpulkan seluruh eksponen masyarakat yang nantinya akan di adress kepada presiden.  Andi Irfan selaku Sekjen Federasi Kontras mengatakan bahwa aksi kali ini bukan konsep  model kepemimpinan tunggal namun kepemimpinan rombongan yang dibuat cair sedemikian rupa sehingga  dapat memayungi  semua orang di Jawa Timur untuk mengatakan satu hal kepada Presiden bahwa kita harus menolak Omnibus Law. Sekali lagi aksi pada hari ini outputnya adalah untuk memperkenalkan model perlawanan dan  menghilangkan sekat-sekat diantara organisasi dan menyadarkan seluruh organ bahwa pada hari ini kita harus bersatu, semua orang boleh bicara dan menyuarakan pendapatnya, seperti pada saat dulu kita bersuara bahwa Soeharto harus tumbang

Rentetan aksi akan terus berlanjut sampai negara berkomitmen untuk menghentikan Omnibus Law ini.  Massa aksi akan bertemu kembali pada tanggal 23 Maret 2020 mendatang dan berjanji akan mendatangkan massa aksi yang lebih besar dengan cara mengosongkan seluruh kegiatan di pabrik-pabrik dan kampus-kampus, semua kegiatan dipidahkan ke jalanan untuk menguasai ruang-ruang publik yang selama ini dikuasi oleh negara. Aksi  pada kali ini berjalan dengan lancar dan diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antar komunitas di elemen masyarakat  pungkas Sekjen Federasi Kontras tersebut saat ditanyai mengenai aksi tersebut.

Harapan dari massa aksi adalah bahwa semangat dan komitmen rakyat Jawa Timur untuk menolak Omnibus Law kali ini adalah gerakan ini terus berentetan sampai keseluruh kota di Indonesia sehingga mendesak negara membatalkan Omnibus Law dan tidak seperti pada saat gerakan-gerakan sebelumnya yang berhenti dan putus ditengah jalan sehingga kita dikalahkan oleh negara. Selain itu massa aksi yang tergabung dalam aliansi “GETOL” menyuarakan dan mendeklarasikan sikap alians yang dipimpin langsung oleh Koordinator Lapangan (Korlap)  yaitu memerintahkan dengan tegas kepada Presiden dan DPR RI untuk membatalkan pembahasan Racangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law dan aliansi GETOL mengajak kepada seluruh elemen masyarakat Jawa Timur untuk melakukan perlawanan apabila Presiden dan DPR RI masih melanjutkan RUU Omnibus Law.

Diakhir aksi tersebut untuk meningkatkan dan membakar semangat massa aksi, aksi tersebut di isi oleh para pemusik-pemusik jalanan yang diantaranya adalah menyanyikan lagu  perlawanan yaitu menyanyikan lagu buruh tani dan semua massa aksi dan massa aksipun turut menyanyikanya secara besama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here