Home Berita Geothermal Arjuno-Welirang : Energi Terbaharu Atau Ancaman Baru ?

Geothermal Arjuno-Welirang : Energi Terbaharu Atau Ancaman Baru ?

244
0
SHARE

ManifesT – Kota Batu, Sabtu (14/03/2020) Wacana terkait dengan akan didirikannya Geothermal Energi atau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang lokasi  Wilayah Kerja Pertambangannya (WKP)-nya sudah digambarkan oleh pemerintah di sekitaran daerah gunung api Arjuno-Welirang mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya oleh kalangan masyarakat yang bergerak terhadap pelestarian lingkungan hidup. Dibangunnya PLTPB Arjuno-Welirang disinyalir akan merusak lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat di sekitar Kota Batu.

Kesadaran akan dampak yang akan ditimbulkan dari pembangunan PLTPB tersebut menggerakkan para petani kopi, sayur, mahasiwa dan warga sekitar Batu untuk menghadiri acara yang bertajuk “Jagongan dan Akustikan Sambil Cerita Tentang Tolak Geothermal Arjuno-Welirang” di kedai kopi Psikopitropika desa Bumi Aji Kota Batu. Acara yang dihadiri oleh sekitar 80 orang yang terdiri dari mayarakat, petani dan mahasiswa itu diinisiatori langsung oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, Sindikat Aksata dan beberapa organ pecinta alam lainnya. Saat ditemui langsung oleh ManifesT Pers, Putri Fahimatuh Hasni selaku Manager Pendidikan dan Relawan WALHI Jawa Timur mengatakan tujuan dari diadakannya kegiatan ini adalah untuk menjejaring solidaritas dan mengedukasi masyarakat terhadap dampak apa saja yang akan diterima secara langsung oleh mayarakat Kota Batu apabila rencana PLTPB ini benar-benar terealisasi.

 Menurut Putri, banyak dampak atau risiko negatif yang akan ditanggung oleh masyarat sekitar mulai dari dampak lingkungan sampai dengan dapak sosial. Jika kita kaji dari segi lingkungan maka PLTPB ini akan berpotensi merusak tatanan air didaerah Batu, dari data Walhi Jatim sendiri sejak tahun 2005-2012 saja sudah terdapat penurunan sumber mata air yang drastis hampir sekitar 50%. Dari 111 sumber mata air di Kota Batu, sekarang hanya tersisa sekitar 58 titik sumber mata air, tentu hal ini akan menambah keadaan buruk yang berdampak langsung terhadap masyarakat asli Kota Batu. Selain itu tipologi masyarakat Batu yang mayoritasnya adalah bekerja sebagai petani juga akan terdampak, mata pencaharian masyarakat Batu pun akan terganggu, sudah pasti penghasilan mereka pun akan ikut terpengaruhi oleh kondisi ini. Kampanye penolakan terhadap  Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) ini tidak terhenti sampai disini saja, kajian-kajian terhadap bahaya adanya pembangunan PLTPB akan terus belanjut yang nantinya diharapkan akan memberikan kesadaran dan menggerakan masyarakat secara masif, tanggal 20 Maret nanti kita akan melakukan kajian lebih dalam dengan para pakar terkait hal ini yang berlokasi di Universitas Widyagama, serta dalam waktu dekat ini kami akan mengundang beberapa LPM serta BEM di universitas-universitas sekitaran Kota Malang untuk hadir.

Walaupun ada klaim dan narasi dimasyarakat bahwa Geothemal Energi ini adalah energi terbaharukan tidak seperti energi dari fosil memang benar adanya, kita semua tau bahwa bumi ini menyimpan energi panas yang tersimpan didalam bumi ini, namun yang harus dipikirkan adalah dampak yang akan ditimbulkan ini seperti apa nantinya dan hasilnya untuk siapa? itu perlu kita kaji lanjut dari Putri Fahimatuh Hasni.

Setelah acara diskusi yang dilaksanakan tersebut selesai maka dilanjutkan degan penampilan beberapa musik akustik yakni akustik Samanesna, Riant Daffa dan MPA Nada. Serta hastag yang bertuliskan #SaveArjunoWelirang dan #BatuBunuhDiriEkologi pun terus digaungkan oleh berbagai peserta solidaritas sebagai bentuk ekspresi penolakan terhadap didirikannya Pembangkit listri Tenaga Panas Bumi itu.  (edo/iqb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here