Home OPINI Kategori selera musik; mana yang tinggi mana yang rendah?

Kategori selera musik; mana yang tinggi mana yang rendah?

939
1
SHARE

Aafiyatika

“Jangan pernah mengecilkan selera musik orang. Malu” @Wordfangs

Kalimat tersebut awalnya penulis temukan di kolom komentar youtube video klip “Peradaban” yang dinyanyikan oleh band yang sedang naik daun, .Feast. Cukup menggelitik ketika membacanya, karena tanpa kita sadari kalimat tersebut sangat relate-able dengan keadaan sekarang.

Banyak kejadian dimana orang-orang diejek karena menyukai selera musik yang tidak disukai kebanyakan orang. Contohnya seperti penyuka dangdut yang diejek habis-habisan karena tidak menyukai band-band indie masa kini. Penyuka dangdut dianggap kampungan hanya karena lagu-lagu nya yang ia sukai kurang memiliki keestetikan, tidak seperti lagu-lagu Indie yang memiliki lirik lagu menyentuh jiwa atau berdiksi tinggi.

Sebetulnya, bagaimana selera musik bisa terbentuk?

Terdapat dua pendapat mengenai datangnya selera musik. Yang pertama dikemukakan oleh Immanuel Kant, yang mengemukakan bahwa selera seni-termasuk musik- adalah ‘murni’ keindahan yang bersifat apriori (tanpa kepentingan, tanpa konsep, tanpa tujuan). Sedangkan yang dinyatakan oleh Pierre Bourdieu sangat bertentangan dari pendapat pertama. Bourdieu menyatakan bahwa selera seni termasuk musik-sebagai putusan estetis - merupakan produk dari adanya perbedaan kelas ketimbang pengakuan atas standar kualitas.

Lalu, bagaimana selera bisa dikategorikan sebagai selera musik tinggi dan rendah? 

Menurut Buordieu, terdapat separasi dan pembedaan simbolik yang dilakukan oleh kelas dominan. Yang termasuk dalam kelas dominan akan mengkategorikan selera musik yang ia sukai sebagai selera musik tinggi. Pengkategorian inilah yang mengakirbatkan terjadinya kuasa simbolik. Kuasa simbolik ini mempunyai arti kuasa untuk mengubah dan menciptakan realitas. Kuasa simbolik ini membuat orang melihat dan percaya akan apa yang disukai oleh kelas dominan adalah pandangan seluruh masyarakat. Hal ini bisa membuat seseorang merasa rendah diri karena selera musiknya dianggap rendah dan berusaha meniru untuk menyukai selera musik tinggi.

Penulis sendiri adalah salah satu korban yang pernah dikecilkan selera musiknya hanya karena menyukai musik-musik klasik dan lagu Indonesia lama. Penulis mengalami kekerasan simbolik dimana penulis mencoba mendengarkan lagu-lagu yang kekinian yang tidak penulis sukai demi memenuhi standar masyarakat. Padahal, standar masyarakat itu tidak pernah ada. Seperti yang dikatakan oleh Buordieu, standar masyarakat hanyalah bentuk dari kuasa para kelas dominan yang mencoba membuat semua orang menyukai hal yang ia suka.

Menurut penulis, tidak seharusnya selera musik dikelas-kelaskan. Tanpa pengakuan dari masyarakat, masing-masing musik sudah memiliki sifat kerennya masing-masing. Jadi, jangan pernah merasa rendah diri akan selera musik sendiri. Setiap manusia diciptakan berbeda-beda, lalu kenapa selera musik harus sama?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here