Home OPINI PLTPB Arjuno-Wellirang : Ancaman Bencana dan Lingkungan

PLTPB Arjuno-Wellirang : Ancaman Bencana dan Lingkungan

179
0
SHARE

Edo Adithama & Iqbal Firdaus

Manusia sebagai makhluk hidup tidak dapat terlepas dari alam dan lingkungan disekitarnya, kualitas dan kesejahteraan hidup manusia tidak dapat terpisah dari kondisi alam serta lingkungan tempat manusia itu hidup. Alam dapat memberikan segala kebutuhan mendasar bagi manusia dengan menyediakan sumber makanan, bahan sandang, serta bahan bangunan yang dapat dipergunakan oleh umat manusia. Akan tetapi, apakah karena alam yang sudah begitu pemurah memberikan kebutuhan hidup kepada manusia, sehingga manusia dapat mengekploitasi keberadaanya secara besar-besaran?

Kita sama-sama mengetahui bahwa sumber daya alam dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan yang tidak dapat diperbarui. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui keberadaannya terbatas dan  lama-kelamaan akan habis kuantitasnya, maka dari itu manusia akan berpikir mencari alternatif untuk menggantinya menggunakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan sumber daya energi.

Baru-baru ini kawasan hutan konservasi Arjuno-Wellirang telah ditetapkan menjadi WKP (Wilayah Kerja Pertambangan) untuk dibangun sebuah proyek besar yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB). PLTPB (geothermal energi) dinilai oleh berbagai pihak sebagai energi terbaharukan dan tepat untuk mengganti energi berbahan bakar fosil yang sudah lama digunakan, namun pertanyaannya adalah tepatkan PLTPB ini dibangun dikawasan hutan konservasi Arjuno-Wellirang dan apa dampak yang akan ditimbulkan oleh aktifitas geothermal tersebut.

Kawasan tersebut terletak di Taman Hutan Raya Raden Soerjo (TAHURA), disana terdapat berbagai macam kebutuhan air bersih, dalam keperluan rumah tangga, sektor pertanian, komersil seperti industi pemanfaatan air bersih. Selain itu, juga terdapat potensi flora, fauna dan obyek wisata alamnya. Sebagaimana kita ketahui bersama dalam melakukan kegiatan gheothermal tersebut, membutuhkan penggunaan air yang sangat besar. Apakah kondisi itu tidak akan mengancam kebutuhan air bersih dan juga flora, fauna yang berada disekitarnya?

PT. Geo Dipa Energi (Persero) telah diberi penugasan Wilayah Kerja Penambangan (WKP) Panas Bumi sebagaimana keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor : 1748 K/30/MEM/2017, tanggal 11 April 2017. Saat ini, kelanjutan penugasaan baru didahului oleh penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika. Belum ada kajian secara khusus terkait dengan dampak-dampak apa saja, jika adanya PLTB ini. Jika pengusahaan energi panas bumi dilakukan pada lokasi-lokasi tergolong penting (Hutan Lindung) secara ekologis, maka harus ditekankan sejumlah persyaratan untuk menjamin ancaman ekologis yang masih dibawah abang batas. Dan perlu dipertimbangkan kawasan TAHURA merupakan zona inti dari “Cagar Boisfer Bromo Tengger Semeru Arjuno” yang harus tetap dijaga keberlangsungan hidupnya.

Pada Undang-Undang No 27 Tahun 2003 Tentang Panas Bumi aktifitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dikategorikan sebagai aktfitas penambangan panas bumi dan aktifitas penambangan dilarang dilakukan dikawasan hutan lindung dan konservasi, hal ini selaras dengan pasal 38 ayat (4) Undang-Undang No 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan bahwa pada kawasan hutan lindung dan konservasi dilarang untuk dilakukan aktifitas penambangan terbuka. Penambangan terbuka merupakan suatu penambangan yang dilakukan diatas permukaan tanah, aktifitas pembangkit listrik tenaga panas bumi dikategorikan sebagai aktifitas penambangan terbuka, sehingga aktifitas tersebut terikat oleh aturan ini. Karena hutan lindung memiliki tugas yang sangat vital bagi perlindungan sistem penyangga kehidupan termasuk air dan juga tanah.   

 Untuk membuka peluang investasi dan memanfaatkan sebesar-besarnya energi ini maka pemerintah melakukan revisi terhadap UU No 27 tahun 2003 dengan diundangkannya UU No. 21 Tahun 2014 sehingga Undang-Undang yang baru mengenyampingkan yang lama (Lex Presteriori Derogat Legi Priori). Didalam Undang-Undang No 21 Tahun 2014 aktifitas panas bumi bukan lagi dikategorikan sebagai aktifitas penambangan sehingga kegiatan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi yang sebelumnya dilarang dilakukan dikawasan hutan lindung dan konservasi, maka setelah berlakunya UU No 21 Tahun 2014 aktifitas tersebut diperbolehkan. Artinya segala bentuk penyelenggaran  panas bumi baik pemanfaatan langsung maupun pemanfaatan tidak langsung dapat dilakukan di kawasan hutan lindung dan kawasan hutan konservasi. Tentunya hal ini menggambarkan bahwa keberpihakan pemerintah terhadap pemanfaatan panas bumi bukanlah kepada keselamatan serta kelestarian lingkungan, namun berpihak kepada sektor investasi.

 Apabila PLTPB tersebut dibangun dikawasan Arjuno-Wellirang yang memiliki kontur tanah yang curam juga akan memiliki risiko yang begitu tinggi terhadap keselamatan masyarakat disekitaran Kota Batu. Aktifitas geothermal yang menggunkan air dengan begitu besar menyebabkan kepadatan tanah akan berkurang sehingga tanah akan rawan amles dan longsor, selain itu air juga akan ikut tercemar karena aktifitas tersebut, kita bisa melihat dampak dari aktifitas Geothermal diberbagai daerah seperti aktifitas PLTPB Batu Raden serta aktifitas PLTPB Mataloko yang merusak hutan serta lingkungan.

Lingkungan jangan dijadikan tumbal karena kebutuhan investasi serta ekonomi saja, terigat sebuah kata diungkapkan oleh seorang ahli ekologis, Herman Daly dalam “Teorema Ketidakmungkinan: pertumbuhan ekonomi tidak mungkin bisa tumbuh secara tak terbatas dalam lingkungan yang terbatas” bahwa kapitalisme menawarkan solusi bagi persoalan lingkungan, seakan-akan pertumbuhan lebih lanjut pasar modal, dengan membawa narasi konsumsi ramah lingkungan dan dalam teknologi baru bisa menyediakan kita jalan keluar yang ajaib dari dilema dalam ekologis ini.

Ada sedikit cerita dari seorang yang bernama Parang Jati, ia terlihat resah dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Sebagian sumber air telah berwarna coklat tanah, karena hutan-hutan di perbukitan di atasnya telah rusak. “apakah semua ini tidak bisa dihentikan kegiatan eksploitasi yang secara berlebih-lebihan terhadap alam kita? Apakah mungkin lingkungan hidup kita yang menjadi akan tumbalnya? kita sudah hidup sejahtera dengan mengambil bahan makanan secukupnya seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan bahkan mengambil kayu hanya sekedar digunakan sebagai kayu bakar untuk menghangatkan tubuh. Lalu, pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk siapa? 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here