Home OPINI Meruntuhkan Standar Sosial Di Masyarakat Demi Mempertahankan Jati Diri Perempuan Indonesia Di...

Meruntuhkan Standar Sosial Di Masyarakat Demi Mempertahankan Jati Diri Perempuan Indonesia Di Era Millenial

412
0
SHARE

By : Lisa Nur Azizah

“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”  R.A Kartini, 1952

Sosok R.A Kartini selalu tak luput dengan pengertian emansipasi perempuan, beliau bukanlah tokoh pahlawan yang ikut mengangkat  senjata dan melawan penjajah melainkan orang yang memprotes habis-habisan mengenai hak kaum perempuan pada masa itu. Ia merupakan anak dari seorang bangsawan yang hidup dalam budaya patriaki sehingga membuatnya tidak dapat menentukan nasibnya sendiri. Saat itu perempuan belum diizinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Hal ini membuat perempuan kehilangan haknya untuk menentukan sendiri nasib dan arah hidupnya seperti burung yang bersangkar sempit.

Seiring berjalannya waktu, budaya diskriminasi terhadap perempuan semakin ditinggalkan, hal ini tak luput dari perjuangan sosok R.A Kartini yang patut kita segani, dengan rasa keingin tahuan yang besar dan rasa kritis nya akan sebuah perubahan membuatnya tidak putus asa dalam memperjuangkan hak nya sebagai perempuan. Dimulai dari kesadaran bahwa pada hakikatnya tidak ada perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan yang merupakan sesama ciptaan tuhan, dan tidak ada nilai yang lebih unggul atau lebih rendah antar gender. Jika dimasa lalu standar seorang perempuan yang baik terpaksa dinilai dan ditentukan oleh lingkungan masyarakat, namun sekarang para perempuan itulah yang membuat standarnya masing-masing. Mulai dari standar perempuan cantik sampai stigma negatif tentang perempuan yang keluar malam, perempuan yang menempuh pendidikat terlalu tinggi, perempuan yang tidak segera menikah dan lain-lain.

Stigma tentang perempuan itu terbentuk karena budaya feodalisme yang dikenal masa itu, sehingga pemikiran patriakis sangat mengakar pada perempuan sebelum era millennial. Tidak sedikit ditemui perempuan yang masih melanggengkan budaya seperti ini, sehingga menjadi celah yang menghambat perempuan menjadi pribadi yang merdeka dan kritis terhadap perubahan. Soe Hok Gie pernah berkata bahwa “perempuan akan selalu dibawah laki-laki jika yang diurus hanya baju dan kecantikannya”. Hal ini tergambarkan dengan kondisi sosial yang ada saat ini. Banyak perempuan berlomba lomba memenuhi standarnya masing-masing hingga melupakan eksistensi keberadaan mereka sendiri dan membuat mereka kehilangan jati dirinya. Tentunya hal ini berbanding terbalik dengan usaha R.A Kartini kala itu yang memperjuangkan haknya untuk hidup tanpa memenuhi standar yang ada di mayarakat jawa masa itu.

Sebagai perempuan generasi millennial, yang menjadi kebutuhan dasar agar terus berkembang adalah pemikiran kritis dan keinginan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Sejatinya, ruang publik untuk perempuan saat ini memang belum dapat dikatakan ramah. Tingginya kasus pelecehan seksual, susahnya perempuan menduduki posisi tinggi di pekerjaan, dan lemahnya kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai sanksi pelanggaran hak asasi manusia khususnya perempuan. Namun dibalik itu semua, mudahnya aksesibilitas informasi saat ini menjadi peluang untuk memaksimalkan potensi pada diri perempuan Indonesia. Apabila dahulu R.A Kartini harus bersusah payah dengan mengirimkan pesan kepada sahabat penanya di Belanda hanya untuk membukakan fikirannya terhadap dunia luar, sekarang dengn kemudahan seperti ini tentunya dapat semakin memudahkan dan memaksimalkan upaya menjadi pribadi berjiwa bebas nan berwawasan luas.

Setiap perempuan tentu punya jati diri masing-masing, namun terkadang harus membatasinya bahkan menghilangkan jati dirinya hanya karena konstruksi sosial di masyarakat. Dengan adanya kebebasan berekspresi yang ditujukan untuk mengoptimalkan potensi di dirinya, perempuan Indonesia akan tumbuh menjadi pribadi yang merdeka dan berwawasan luas. Sehingga akan menghapuskan pemikiran patriakis yang masih ditemukan di Indonesia. Penggunaan media sosial secara  bijak dan komprehensif tentunya dapat menjadi langkah yang secara signifikat membawa perempuan Indonesia untuk berfikir lebih kritis dan modern. Jati diri perempuan Indonesia bukan hanya sebatas wanita anggun nan memiliki rasa sopan yang tinggi, namun wanita Indonesia adalah sosok yang cerdas, berani dan memiliki rasa kebanggaan yang tinggi terhadap kaumnya.

Tidak banyak perempuan saat ini menyadari, meskipun sudah banyak tokoh perempuan hebat di Indonesia yang telah mengaminkan hal tersebut. Perempuan tidak hanya sebatas individu yang akan menjadi istri dan ibu yang baik saja, namun juga menjadi seorang individu yang berdiri sendiri dengan segala hal tentang dirinya. Perempuan memiliki hak yang sama dengan halnya laki laki dalam menjalani karir dan hal yang dia suka, dengan adanya dobrakan sosial yang menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mempunyai banyak potensi dan menunjukkan inner power yang tidak dimiliki oleh laki laki maka akan dapat tercapainya keseimbangan pemenuhan hak antara perempuan dan laki laki.

Pemanfaatan media sebagai upaya menemukan jati diri dan potensi setiap individu serta menyebarkan energi positif tanpa harus menghakimi sesama perempuan yang lain akan mengubah cara pandang masyarakat saat ini. Perempuan Indonesia akan dikenal sebagai pribadi yang mandiri dan cerdas sehingga penilaian perempuan yang semula terkesan lemah akan tergantikan secara signifikan. Maka sangat diperlukan kontribusi antar sesama perempuan di Indonesia membentuk lingkungan yang supportif antar sesama, serta tidak lupa untuk menemukan jati diri di masing-masing individu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here