Home Resensi Resensi Buku Bumi Manusia

Resensi Buku Bumi Manusia

122
0
SHARE

Oleh: Averos Aulia Ananta Nur

Judul : Bumi Manusia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : Cetakan 33, Agustus 2019
Tebal Buku : 551 halaman
Harga Buku : 132,000 (Togamas)
ISBN 13 : 978-979-97312-3-4

“Berbahagialah dia yang makan dari keringanya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”
“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”
“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya”
“Dengan melawan kita takkan sepenuhnya kalah”

Bumi Manusia merupakan karya sastra legendaris Indonesia. Taksiran saya buku tersebut tidak akan termakan oleh waktu, buktinya buku Bumi Manusia yang terbit pertama kali pada tahun 1980 hingga sampai sekarang masih sangat layak untuk dibaca. Tak heran mengapa buku tersebut masih sangat populer, karena buku tersebut ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang merupakan salah satu sastrawan terbaik yang dimiliki Indonesia. Buku tersebut setidaknya sudah diterjemahkan ke dalam empat puluh bahasa dan pernah diterbitkan oleh 38 media cetak. Sayangnya buku tersebut sempat mengalami permasalahan, yaitu pada tahun 1981 dilarang beredar oleh Jaksa Agung karena buku tersebut karena diduga mengandung ajaran marxisme dan leninisme. Yang di mana itu adalah ajaran yang dilarang pada saat orde baru.
Buku Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi buru. Jika diurutkan, buku Bumi Manusia adalah buku pertama, dilanjutkan oleh Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Pada seri Bumi Manusia, disamping beberapa konflik yang terjadi, novel ini lebih mengisahkan tentang kisah percintaan Minke kepada Annalies. Latar yang digunakan adalah kehidupan Indonesia pada tahun 1898-1918 yang sedang menghadapi kolonialisasi Belanda.
Di dalam buku ini, dikisahkan seorang pribumi keturunan Jawa yang bernama Minke yang sedang bersekolah di sekolah Eropa yang bernama Hogere Burgerschool (H.B.S.). Bersekolah di sekolah tersebut membuat Minke agak berbeda dengan sebangsanya pada umumnya. Pengalaman menjadi orang Jawa berilmu pengetahuan Eripa mendorong Minke suka membaca dan mencatat-catat. Meskipun dari golongan pribumi, Minke merupakan siswa yang cerdas di H.B.S., tulisannya pernah diterbitkan di koran berbahasa Belanda dengan nama samaran Max Tollenar.
Semua berawal dari Robert Suurhof—salah satu teman Minke yang sempat menjadi musuh Minke karena hubungannya dengan Annelies, mengajak Minke ke sebuah rumah yang bernama Boerderij Buitenzorg yang pada akhirnya diketahui bahwa rumah tersebut adalah sebuah perusahaan. Pada saat itu, Minke bertemu dengan seorang berkulit halus, berawajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi bernama Annelies Mellema. Pada pertemuan pertama tersebut, Minke sudah merasa jatuh cinta kepada Annelies. Dikisahkan juga Minke bertemu dengan ibu Annelies yang bernama Nyai Ontosoroh.
Dikisahkan bahwa Nyai Ontosoroh merupakan gundik dari Tuan Besar Kuasa Belanda yang bernama Herman Mellema. Nyai “dijual” oleh ayahnya kepada pengusaha tersebut pada saat berumur tiga belas tahun. Kejadian tersebut membuat Nyai bersumpah dalam hat: takkan melihat orang tua dan rumahnya lagi. Sedihnya lagi, pengadilan tidak menerima Robert dan Annelies sebagai anak sah darinya—sah hanya bagi Herman Mellema dan diceritakan bahwa sebenarnya Herman Mellema telah memiliki istri yang sah di Belanda sana. Akan tetapi, Herman Mellema tidak pernah menceritakannya kepada Nyai dan hingga pada akhirnya anak dari perkawinan tersebut mendatangi Tuan ke rumah Wonokromo. Singkat cerita akibat pertemuan tersebut membuat Tuan menjauhi Nyai dan hubungannya semakin lama semakin merenggang. Robert Mellema juga menjauhi Nyai karena tidak mau diakui sebagai pribumi. Disamping kesedihan itu, Nyai merupakan sesosok wanita yang sangat cerdas dan pekerja keras. Dia mampu memimpin perusahannya dibantu dengan Annelies.
Hubungan Minke dengan Annelies semakin dekat, Nyai Ontosoroh pun menyambut dengan baik kehadiran Minke ke dalam kehidupannya. Singkat cerita, setelah Minke lulus dari H.B.S., mereka akhirnya menikah. Sehari-hari pekerjaan Minke hanya menulis di kantor menemani Nyai, kadang juga membantunya. Minke sempat mengajukan permohonan pada Pemerintah Hindia Belanda agar Pemerintah membantu untuk meneruskan sekolah ke Nederland tetapi ditolak dengan alasan: budi-pekerti. Minke merasa bahwa dia sama sekali tidak pernah merugikan orang lain, mengurangi nama baik orang lain, tak pernah menggelapkan barang, dan tak pernah bergerak di bidang konta-bande. Ternyata orang Eropa sendiri, dan bukan orang sembarang pula yang justru berbuat tidak adil dalam perbuatan.
Sayangnya kebahagiaan tersebut tidak berjalan lama, Maurist Mellema—sebagai anak dari perkawinan sah Tuan Mellema dengan Amelia Mellema Hammers menuntut kuasa atas harta kekayaan ayahnya yang dikelola oleh Nyai Ontosoroh. Annelies sebagai anak sah Tuan Mellema pun terkena dampaknya, dia dipulangkan ke Eropa meninggalkan Minke dan Nyai Ontosoroh.
Dalam perpisahan Annelies dengan Minke dan Nyai Ontosoroh, Minke bekata kepada Nyai,
“Kita kalah, Ma.”
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Kelebihan: buku ini sangat ringan untuk dibaca oleh para remaja karena seorang Minke merupakan tokoh yang dapat dijadikan contoh bagi para remaja yang sedang mengejar pujaan hatinya. Jujur saja, saya merasa terangsang ketika membaca bagian Minke dengan Annelies bermesraan. Buku ini juga memberi pengetahuan kepada pembaca tentang bagaimana pengaturan hukum pada masa Belanda dan diskriminasi yang sangat kentara—sangat cocok untuk yang ingin menambah pengetahuan tentang Indonesia pada masa kolonial. Pembagian babnya pun sangat rapi, setiap bab memiliki ruang dan waktu dalam membahasa permasalahannya tersendiri.
Kekurangan: terdapat beberapa kata yang menggunakan kaidah bahasa Indonesia ejaan lama sehingga pembaca sedikit kesusahan dalam memaknai kalimat tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here