Home Cerpen Angsuran Mimpi

Angsuran Mimpi

195
0
SHARE

Missyella Anggraini-Manifestor 2019

Wajah tuanya tersenyum manis menyambutku bak dua sendok gula pada secangkir teh yang biasa menemaniku di pagi buta. Keramahan wajahnya yang alami tanpa dibuat – buat dan gestur kerinduan tidak membuatku terperangah. Mungkin jauh – jauh hari sebelum ini, wajahnya akan menunjukkan tatapan rindu seratus kali lipat lebih banyak. Alunan paduan suara jangkrik di pinggir sawah belakang rumah menjadi musik latar belakang perjumpaan kami yang sudah dinanti – nanti sejak lama. Jemari tangannya langsung menggenggamku erat dan menarikku ke pelukan hangatnya. “Adam pulang, Amak. “ kataku pada Amak. Aku mengambil tangan Amak untuk kucium, aku tersenyum membayangkan ekspresi wajah Amak saat aku memberitahunya kejutan yang selama ini beliau impikan akan segera terwujud.
“Amak, Adam mau bicara sesuatu,” aku mulai membuka percakapan.
Tapi tanpa di undang, tiba – tiba si Bondan-sepupuku datang menyela percakapan kami. “Kau sudah pulang brother? “ katanya tiba – tiba memotong percakapan khidmat kami. Dia masih sama bagiku, suka berlagak asyik seperti orang kota agar tidak dibilang kampungan. Aku juga rindu dia omong – omong. Setelah memelukku selama beberapa menit, akhirnya dia masuk ke rumah dan meninggalkanku dan Amak untuk berbicara empat mata
“Duduk dulu, Amak ambilkan makanan. “ aku ingin menolak tapi tidak sempat karena Amak sudah terlanjur berdiri dan berjalan ke dapur. Jadi aku hanya mengangguk dan membiarkan Amak ke dapur untuk menyiapkan makanan, sementara aku akhirnya bisa duduk setelah berjalan hampir setengah jam tanpa berhenti. Tikar anyaman yang kududuki masih sama seperti dulu sebelum aku merantau dan meninggalkan rumah serta kampung halamanku. Bau ikan tongkol yang direbus Amak tercium sampai ke ruang tamu. Meski perutku rasanya seperti akan meledak karena kebanyakan makan, rasanya aku tetap ngiler mencium bau masakan Amak. . Ya tidak apa – apa, setelah menghabiskan bekal ubi goreng dari Surabaya yang kumakan siang menjelang sore tadi, anggap saja itu camilan sebelum makan besar. Toh ini sudah malam dan manusia normal makan tiga kali sehari ditambah camilan.
“Oh! Adam sudah pulang? “ mataku membola melihat beberapa tetanggaku tiba – tiba menyerobot masuk ke rumahku tanpa permisi. Menyapaku cengengesan dengan menenteng makanan di kedua tangannya yang membuatku bergidik ngeri. Tatapanku penuh antisipasi meski ujung – ujungnya aku menggeser koperku dan pantatku juga agar mereka punya tempat untuk duduk. “Iya,” jawabku pendek.
Amak muncul dari dapur tidak lama setelah keributan yang terjadi karena tetanggaku yang masuk tiba – tiba itu, atau dia mungkin mendengar ada tamu jadi dia keluar. Aku berpikir kalau Amak akan menyelamatkanku dari orang – orang ini, yang sebenarnya didominasi ibu – ibu dan anak gadis mereka. Setidaknya aku bisa cepat – cepat menanggalkan pakaianku dan mandi, lalu mungkin berselonjor di kasur mungkin jadi opsi selanjutnya. Karena jujur perjalananku lumayan panjang dan sangat melelahkan hari ini, untung aku tidak mabuk perjalanan. Bahu dan punggungku juga sakit memikul tas yang beratnya seperti terisi batu. Tetapi, harapanku pupus saat Amak mengeluarkan senyum sumringah miliknya bak habis menang lotre dan dengan ramah tamah mempersilahkan tamu – tamu itu untuk makan bersama denganku. Aku tidak habis pikir dengan Amak yang tidak pengertian dengan anaknya.
“Makan Adam,” ujar Amak padaku. Aku mengangguk lemah menanggapi Amak dan berusaha tetap tersenyum walau kelihatan sekali senyumku ogah – ogahan. Aku jengkel usahaku memberi Amak kejutan jadi tertunda dan gagal. Sampai seorang gadis berambut sebahu dan berponi masuk ke rumahku. Dia duduk tepat di depanku di samping ibu – ibu berdaster batik. Alamak! Mata kami tidak sengaja bertubrukan dan sepertinya aku terhipnotis olehnya. Binar bola matanya seindah Kota Alexandria meski aku hanya membaca gambaran Kota Alexandria dari buku – buku Habiburahman. Namun kini aku tahu keindahan Kota Alexandria dalam dunia nyata itu seperti apa. Saat dia tersenyum kepadaku, lesung pipit muncul di sebelah kiri wajahnya yang putih bersih seperti porselen. Aku langsung mengalihkan pandanganku karena gugup setengah mati. Gadis itu lumayan juga pikirku, tapi anehnya entah kenapa pikiranku terus mengatakan jika wajahnya tidak asing. Terima kasih kepadanya suasana hatiku tidak seburuk sebelumnya.
“Adam, Niken ini juga kuliah lo Jawa seperti kamu. Kalau ada waktu ajak Niken jalan – jalan ya,” ujar ibu – ibu yang duduk tepat di sebelah kiriku. Aku hanya tersenyum tipis menjawab ibu itu, meski aku yakin senyum adalah jawaban paling munafik. Mataku terus melirik gadis di depanku diam – diam saat dia sedang tidak melihatku. Jangan katakan aku seorang pengecut karena hanya berani melihat diam – diam, saat ini aku sedang bersopan santun dengan seorang gadis. “Niken itu cantik banget! Pemuda kampung sebelah sampai ke rumah kami setiap malam bawa martabak. Mau ngapel katanya,” perasaanku mengatakan kalau ibunya Niken itu terus menatapku. Aku bukan cenayang tapi aku tahu kalau kata – katanya tadi itu untuk menarik perhatianku.
Demi ikan tongkol Amak yang paling kusukai seumur hidup, aku bisa saja berlaku kejam dan mengusir tamu – tamu itu dengan dalih malam dan tidak baik berkunjung malam – malam. Tapi aku yakin Amak akan memukulku dengan rotan kalau berlaku tidak sopan begitu. “Amak, Adam mau mandi dulu terus shalat,“ aku hanya berasalan untuk kabur dari situasi tidak mengenakkan ini. Dikepung ibu – ibu beserta anak gadisnya yang selalu menatap ke arahku seakan aku pusat tata surya seperti ini rasanya menjengkelkan. Aih, aku tidak jadi berbicara dengan Amak kan jadinya.
Untuk merayakan terbebasnya ragaku dari kepungan ibu – ibu, aku melakukan selebrasi dan menguras habis sumur di belakang rumah saat mandi. Setelah aku selesai membersihkan diri, aku putuskan untuk tidak pergi ke ruang tamu lagi. Sayup – sayup kudengar tamu di depan masih ramai bercengkerama. Sudahlah, nanti saja baru aku berbicara dengan Amak. Kulangkahkan kakiku ke kamar, tempat terbaik untuk menyendiri dan rehat dari situasi. Aku akan bilang pada Amak kalau mandi membutuhkan waktu yang lama dan aku tidak begitu lapar jadi aku makan nanti malam saja kalau perutku lapar.
“Kau mandi? “ aku terkejut sampai hampir terjungkal ke belakang karena tidak siap. Bondan sedang berdiri di sebelah lemariku dan apa?! Sejak kapan dia menggunakan kemejaku? Aku melirik ke arah koperku dan ternyata koper malangku sudah dibuat acak – acakkan oleh Bondan. “Kenapa tidak belikan aku juga, kemeja bagus macam ni? “ Bondan memprotesku tanpa tahu malu. Aku ingin meneriakinya atau bersungut kesal pada Bondan tapi ada tamu di depan. “Pakai saja kalau kau mau. “
“Benar? Jangan kau batalkan ya ucapanmu barusan,” dia jingkrak – jingkrak kegirangan dan memeluk kemeja itu erat – erat. “Akan kupamerkan ke orang – orang. “ begitu katanya. Aku menggeleng takjub melihat kelakuan Bondan. Dia dua kali lipat lebih ceria dariku, lebih ekspresif, dan gemar bergaul. Percaya padaku, kau akan merindukan Bondan jika lama berpisah dengannya. Dia adik yang baik dan manja.
Mataku mengerling saat aku mengalihkan pandanganku ke arah kasur dan melihat seprei dan sarung bantal sudah dirapikan oleh Amak, seperti memanggil – manggil diriku untuk mendaratkan tubuhku disana. “Kau tidak keluar brother?” aku menggeleng cepat dan segera melempar tubuhku ke kasur. Aku berbalik memunggungi Bondan yang masih sibuk bergaya di depan kaca dengan kemejaku. “Padahal ibu – ibu itu bergosip tentangmu,” oh ya? Itu juga yang membuatku menyukai Bondan, dia adalah informan yang baik. “Aku tampan ya? Makanya jadi bahan gosip. “ aku iseng menggoda untuk mencari tahu reaksinya. Bondan membalasku dengan suara muntah yang dibuat – buat. “Asal kau tahu, Amak-mu itu suka membual pada orang – orang kalau kau kuliah teknik di Surabaya. Kalau lulus jadi insinyur. “ mataku membulat sempurna. “Betul kata kau Bondan? “
“Aku mana pernah bohong. Kau tanya sendiri sama Amak, dia bilang kalau kau nanti lulus jadi insinyur yang kaya raya. Anak – anak gadis di ruang tamu itu bisa dibilang calon jodohmu brother. “ kata – kata dari mulut Bondan setelah itu seperti suara nyamuk yang mendengung di telinga. Aku merasa wajahku langsung pias setelah itu. Suara Bondan yang memanggilku tidak kusahuti, “Aku mau tidur,” potongku cepat. Aku berbalik memunggungi Bondan dan bergelut dengan pikiranku sendiri. Sampai aku tidak menyadari kalau pelupuk mataku sudah dipenuhi oleh air mata yang siap meluncur jatuh.


Esoknya aku memutuskan untuk berpamitan pada Amak untuk kembali ke Surabaya dengan berbohong kalau tiba – tiba dosenku menghubungiku agar segera kembali. Fajar tadi Amak membeli daging di pasar dan membuatkanku rendang untuk bekal perjalananku. Aku juga buru – buru merapikan baju – bajuku di koper dan bersiap – siap. Bondan menggelayutiku dengan manja memintaku agar tidak kembali ke Surabaya hari ini. Aku berkata padanya kalau dia bisa menyusulku setelah lulus sma dan dia setuju untuk melepaskanku.
Perasaanku tidak enak setelah ucapan Bondan kemarin malam. Setelah itu pun, aku mendengar sendiri tamu – tamu itu sedang membicarakanku saat tidak sengaja nguping saat ingin pergi ke kamar mandi. Aku merasa sesak meski yang mereka bicarakan bukan hal buruk tentangku. Masalahnya ada sesuatu yang tidak bisa kuucapkan saat ini.
“Uda!“
Aku menoleh ke sumber suara. Mataku membulat terkejut melihat siapa yang datang. “Kamu? “
“Aruna. Saya Aruna, lupa sama saya Adam?” bibirnya menarik sebuah garis lengkung manis yang menyenangkan saat dilihat. Aruna?
Ingatanku kembali menarikku ke zaman dulu waktu aku masih kelas satu di Mts. Aruna, anak kesayangan Ustazah Ani, guru matematikaku saat itu. Aruna gadis yang cantik dan cerdas, dia pandai bergaul sehingga disenangi banyak orang. Aku agak takjub melihat perubahan Aruna saat ini. Kulitnya dulu sawo matang dan agak berjerawat meski tetap manis menurutku. Tapi sekarang wajahnya terlihat lebih putih, tubuhnya lebih berisi dan tinggi. “Aruna? Kamu Aruna? “
“Iya uda, “ dia tersenyum maklum, “Ini ibu bawakan makanan. “ dia menyodorkan kantung plastik putih padaku. “Aku langsung pulang saja, uda juga mau kembali ke Surabaya kan? “
Aku mengangguk pelan, “Iya. Terima kasih untuk ibumu. Sampaikan salamku ya Aruna, nanti kalau uda pulang kita bertemu lagi. “ gadis itu tersenyum dan mengangguk. Aku mengembangkan senyumku lebar – lebar saat dia sudah berjalan jauh. Ah! Ternyata gadis yang kemarin itu Aruna, pantas saja sepertinya aku kenal.
“Sudah siap? “ suara Amak mengagetkanku yang sedang asyik melamun. “Tidak bisa ya, bertemu dosen besok – besok saja? “Aku tersenyum dan meraih tangan Amak, “Amak, Adam pamit ya. “ aku menyeka air mata yang jatuh di pipi Amak. .
“Oh iya Adam, Aruna tadi datang? Amak seperti mendengar suaranya. “
“Iya, mengantar makanan ini, “ aku mengangkat kantung plastik berisi makanan untuk menunjukkannya pada Amak.
Seketika aku teringat ada sesuatu yang belum kuberikan ke Amak, “Oh iya Amak, Adam lupa memberikannya,” aku membuka ritsleting tasku dan mengambil sebuah amplop berwarna cokelat. Kutatap amplop itu lamat – lamat. Kerja kerasku selama satu tahun ini setidaknya menghasilkan sesuatu. “Ini Amak, tabungan Adam yang kemarin belum sempat Adam berikan ke Amak,” wajah itu memandangiku dengan tatapan bertanya, “Untuk umrah Amak. ” ucapku mantap.
Amak berhambur ke pelukanku saat itu juga. Mata Amak yang sudah sayu menatapku dengan tatapan sendu membuatku ingin menangis juga. Tangannya mengusap – usap punggung dan kepalaku seraya mengucapkan terima kasih dan mendoakanku agar diberi rezeki berlimpah. “Kamu dapat uang dari mana? “
“Adam kerja Amak, sambil kuliah. “ bibirku tersenyum getir saat mengucapkan kata penuh dusta itu. Semoga air mata bahagiamu tidak palsu seperti senyumku Amak.
“Semoga setelah lulus jadi orang sukses. “ Doa terakhir yang dipanjatkan Amak membuatku termenung sebentar. Ada rasa nyes di hati yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata – kata. Aku kembali membuka ritsleting tasku dan mengambil sebuah amplop berwarna putih. “Ada lagi yang mau Adam beri pada Amak. “
Tersirat di benakku untuk mengatakan yang sebenarnya pada Amak dari dulu. Kalau aku sudah putus kuliah satu tahun lalu, tepatnya semester dua. Semua itu bermula saat uang kuliah dan uang kontrakan jatuh tempo di saat yang bersamaan. Saat itu juga pas sekali, semua uang tabunganku habis sampai harus berutang. Parfum – parfum yang kujual pecah berceceran akibat kecelakaan yang dulu menimpaku. Uang hasil berjualan dan biaya modal kugunakan untuk membayar rumah sakit dan kebutuhan sehari – hari. Pengajuan keringanan biaya kuliahku pun ditolak. Aku benar – benar habis – habis-an kala itu. Jadi aku terpaksa keluar dari sekolah teknik yang Amak impikan untukku menuntut ilmu dulu dan ikut temanku-Badrun berlayar dan mencari ikan di laut. Aku berjualan ikan di pasar untuk membiayai hidupku sambil jualan lalapan malam harinya. Setelah cukup mengumpulkan uang, aku memutuskan pindah dan menyewa kontrakan murah di pinggir kota yang kuhuni bersama Badrun. Kami sama – sama sedang susah dan terpuruk kala itu meski aku lebih terbirit – birit daripada Badrun yang masih memiliki simpanan. Utangku bercecer di mana – mana, belum lagi kebutuhan hidupku menjadi berat karena harus membeli obat – obatan. Aku terpaksa kerja serabutan kalau uang hasil jualan ikan hari itu tidak cukup. Entah menjadi tukang batu, penjual keset keliling atau apa saja yang menghasilkan uang asal halal. Keluargaku di Sumatera tidak ada yang tahu hal ini. Kusimpan rapat – rapat rahasia ini sampai aku sukses nanti. Tapi aku mulai pesimis, meski aku menghasilkan banyak uang akhir – akhir ini karena usahaku sudah berkembang, rasa takut masih menggelayutiku kalau suatu saat nanti Amak kaget dan malu tahu aku putus kuliah. Karena satu kampung tahu kalau aku sedang menempuh ilmu di Surabaya. Mungkin aku tidak bisa memenuhi harapan Amak menjadi seorang insinyur. Tapi tanpa gelar, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk merealisasikan mimpi yang satu lagi, sukses.
“Ah tidak jadi. Buat besok – besok saja. Adam pamit Amak, assalamualaikum.” kutarik lagi surat pengakuan itu. Amak masih menangis haru saat lambaian tangan terakhir kuayunkan ke arah Amak. Aku akhirnya kembali lagi, masih dengan sebuah pengakuan besar yang kusembunyikan dari Amak.
Aku pernah berjanji pada diriku sendiri di tanah ini, jika aku akan mengubah keadaan keluargaku saat ini setelah aku lulus nanti. Aku berjanji pada Amak tidak akan membuatnya kecewa saat kami menerima amplop kelulusanku di seleksi masuk sekolah teknik. Namun aku akan membuat Amak kecewa jika aku mengatakan padanya sekarang kalau aku tidak bisa menjadi insinyur.
Tapak kaki di gundukan tanah sawah ini bisa jadi saksi, aku akan memenuhi janjiku itu pada Amak. Aku pun bisa menjadi orang sukses tanpa harus menjadi seorang insinyur terlebih dahulu. Pasti, aku yakin aku bisa. Maaf Amak, mimpimu aku kredit dulu, aku pasti akan kembali setelah sukses seperti katamu nanti. Akan kubayar kontan mimpi -mimpi yang Amak gantungkan padaku dan meminang Aruna sebagai menantumu secepatnya. Tunggu aku kembali Amak, segera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here