Home Berita Universitas Brawijaya Merawat Ingatan Melalui Bedah Buku

Universitas Brawijaya Merawat Ingatan Melalui Bedah Buku

81
0
SHARE

ManifesT-Malang, Gerakan Kebijakan Eksternal Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya 2020 telah menyelenggarakan Bazar Buku Online & Diskusi Bedah Buku : “HAM, Kejahatan Negara & Imperialisme Modal” (8/9). Bazar Buku Online & Diskusi Bedah Buku : “HAM, Kejahatan Negara & Imperialisme Modal” merupakan bagian dari rangkaian acara Munirfest yang diselenggarakan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) untuk memperingati 16 tahun kematian Munir.

Acara tersebut dimulai pada pukul 08.30 WIB dan berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut dihadiri oleh satu narasumber yang dipandu oleh satu moderator. Bapak Eko Prasetyo selaku Penulis Buku “HAM, Kejahatan Negara dan Imperialisme Modal” sebagai narasumber. Fajar Hidayansyah Ilham selaku Dirjen Hukum dan HAM BEM FH UB 2020 sebagai moderator. Peserta yang hadir dalam acara tersebut berjumlah 86 orang.

Acara tersebut dibuka dengan sesi pembacaan kiprah Munir. Kiprah Munir yang dibacakan berisi perjuangan Munir untuk membela kebenaran sebagai aktivis HAM. Kiprah Munir yang dibacakan juga menceritakan biografi singkat Munir serta perjuangan yang ia lakukan selama hidupnya.

Setelah pembacaan kiprah Munir, acara dilanjutkan dengan sesi bazar buku. Bazar buku merupakan acara hasil Kerjasama antara Munirfest dengan Berdikari Book. Dalam sesi bazar buku, panitia penyelenggara acara memberikan panduan membeli buku di situs Berdikari Book. Terdapat 25 buku mengenai HAM yang merupakan hasil Kerjasama antara Munirfest dengan Berdikari Book. Panitia penyelenggara acara juga memberikan kupon yang dapat digunakan untuk membeli 25 buku tersebut agar mendapatkan potongan.

Setelah sesi bazar buku, acara memasuki sesi diskusi. Bapak Eko Prasetyo selaku Penulis Buku “HAM, Kejahatan Negara dan Imperialisme Modal”, mengatakan Problem HAM merupakan problem yang mendasar di Indonesia. Puncaknya adalah kejahatan-kejahatan yang terjadi pada periode orde baru. Pada masa orde baru, pendekatan militeristik sangat dikedepankan. Pembangunan orde baru menggunakan pendektan neo-liberal yang tidak mempertimbangkan masyarakat. Serta, kewenangan KOMNAS HAM yang terbatas dan regulasi yang kurang kuat menyebabkan timbulnya pelanggaran HAM pada masa orde baru.

Lebih lanjut Bapak Eko menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat penangan kasus HAM di Indonesia tidak mudah. Pertama, belum adanya regulasi yang kuat. Kedua, adanya impunitas terhadap pelaku pelanggaran HAM. Ketiga, kisah-kisah pelanggaran HAM dilupakan. Keempat, orientasi pembangunan yang bersifat kapitalistik, pertimbangan-pertimbangan pragmatis ekonomi diutamakan, dan HAM dipinggirkan. Kelima, Aktivis-aktivis HAM berada dalam lingkaran kekuasaan.

Selanjutnya, acara memasuki sesi tanya jawab. Pertanyaan dibuka oleh moderator Fajar Hidayansyah Ilham selaku Dirjen Hukum dan HAM BEM FH UB. Fajar, menanyakan perihal kemajuan demokratis bila dibandingkan masa orde baru. Menanggapi pertanyaan tersebut Bapak Eko menjelaskan, ruang kebebasan politik sangat luar biasa pada lima tahun pertama pasca orde baru. Dibubarkannya dwi fungsi ABRI, terbentuknya undang-undang HAM. Setelah itu mengalami kemunduran yang ditandai oleh pembredelan mengenai isu Papua, kebebasan akademik yang mulai diciutkan, mulai munculnya penyiksaan dan kriminalisasi rakyat kecil yang angkanya semakin hari semakin meningkat, dan regulasi-regulasi yang memberikan perlindungan kepada pejabat yang berwenang untuk mengurus covid-19

Sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diberikan peserta kepada Bapak Eko Prasetyo. Bapak Eko Prasetyo berpesan, anak muda sekarang harus menempatkan dirinya dalam posisi politik yang lugas dan anak muda harus melanjutkan estafet perjuangan melalui berbagai karya di berbagai media.

Pada penghujung acara Bapak Eko Prasetyo memberikan closing statement sebagai penutup rangkaian acara Bazar Buku Online & Diskusi Bedah Buku : “HAM, Kejahatan Negara & Imperialisme Modal”. “Belajar berhitung adalah hal baik, tapi jauh lebih baik kita belajar mampu memperhitungkan segala hal. Memperhitungkan masalah kemanusiaan adalah peran utama dalam hidup dan semestinya negara mampu memperhitungkan masalah HAM yang belum terselesaikan, Sebab hal itu adalah bentuk kepedulian negara dalam mengharagai persoalan HAM,” ungkap Bapak Eko Prasetyo dalam acara Bazar Buku Online & Diskusi Bedah Buku : “HAM, Kejahatan Negara & Imperialisme Modal”, Zoom, Selasa (08/11/2020). (bpl/Hga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here