Home Berita BINCANG HAM : “Nanti Kita Cerita Tentang HAM Hari Ini”

BINCANG HAM : “Nanti Kita Cerita Tentang HAM Hari Ini”

94
0
SHARE

ManifesT-Malang, Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) telah melaksanakan Seminar Nasional Munirfest-Human Rights Festival (9/9), dimulai pada pukul 18.30 WIB yang berlangsung secara virtual melalui zoom. Tujuan diadakannya Seminar HAM Nasional ini adalah untuk memperingati hari gugurnya Munir Said Thalib pada 7 september 2004. Adapun tujuan lain dari seminar ini adalah untuk menyalurkan semangat kepada generasi muda masa kini agar lebih memperhatikan HAM dari berbagai aspek kehidupan dan mau berjuang menegakkan HAM.
Munir sendiri adalah alumni dari Universitas Brawijaya yang dikenal sebagai seorang aktivis dikampusnya. Pada tanggal 7 September 2004, Munir berencana untuk menyelesaikan S2nya di Utrecht Belanda. Akan tetapi, diperjalanan menuju negara yang dituju tepatnya di bandara Schipol Amsterdam, Munir telah ditemukan meninggal dunia. Munir di duga dibunuh secara sengaja dengan cara di racuni. Munir adalah salah satu seorang aktivis HAM yang cukup bepengaruh di Indonesia pada saat itu. Para aktivis HAM sering kali terancam keselamatannya karena pemikiran mereka yang tidak bersebrangan dengan pemerintah.
Awalnya acara dimulai dengan menampilkan “Kiprah Munir” yang menceritakan tentang sosok Munir dari sudut pandang orang lain lalu dilanjut dengan documentary yang menceritakan tentang sejarah perjuangan Munir membela HAM hingga kematian Munir. Acara ini diisi oleh 3 pemantik dan 1 moderator. Pemantik dalam acara ini terdiri dari Cholil Mahmud selaku musisi dari band Efek Rumah Kaca, Suciwati selaku istri Alm. Munir Said, dan Gilang Al Farizki selaku pegiat aksi Kamisan Malang. Moderator dalam acara ini yaitu, Laila Halimatul Hikmah selaku Ketua DPM FH UB 2019. Dan dimeriahkan oleh Tashoora.
Ketiga pemantik tersebut membahas tentang HAM secara general dan HAM dari sudut pandang profesi masing-masing. Contohnya Cholil Mahmud yang membahas tentang HAM dari segi para musisi di Indonesia. Cholil Mahmud mengatakan bahwa saat ini keadaran masyarakat akan HAM sangat minim terlebih dari sisi para musisi. Menurut Cholil Mahmud, HAM dalam ranah musik di Indonesia tergantung dari pandangan para musisi itu sendiri. HAM bagi musisi di Indonesia bergantung kepada musik yang dibuat oleh para musisi itu sendiri.
Sedangkan menurut Suciwati, HAM dari sisi perempuan sangatlah penting karena perempuan patut dilindungi dan dijaga. Maka dari itu, HAM yang perempuan dapatkan contohnya seperti perlindungan ketika sedang melakukan aksi salah satunya. Menurut Suciwati, pemahaman tentang HAM juga masih sedikit, terlebih kepada perempuan. Oleh karena itu, masyarakat haruslah diberikan edukasi lebih mengenai HAM yang hidup disekitar masyarakat saat ini.
Menurut Gilang Al Farizki, mahasiswa saat ini haruslah lebih memandang, memahami, dan memperjuangkan HAM. Terutama ditengah pandemi seperti ini, sebisa mungkin mahasiswa memanfaatkan media-media yang ada sebagai sarana untuk menyuarakan pendapat dan memperjuangkan HAM. Gilang memberikan saran kepada mahasiswa untuk lebih sering berdiskusi, membedah buku-buku yang membahas tentang HAM dan lain-lain. Tidak hanya itu, Gilang juga memberikan contoh strategi untuk menegakkan HAM ditengan pandemi saat ini.
Ketiga pemantik memberikan harapannya kepada HAM di Indonesia agar HAM berat yang dulu terjadi dapat cepat diselesaikan oleh pemerintah, pemantik juga berharap agar pemerintah dan rakyat berkontribusi untuk menegakkan HAM di Indonesia agar kedepannya penegakkan HAM menjadi lebih baik dari saat ini sehingga tidak terjadi lagi kasus-kasus HAM berat seperti dulu. (kdn/els)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here