Home Hukum Satire untuk Penguasa yang Kepleset

Satire untuk Penguasa yang Kepleset

127
0
SHARE

Penulis: Muhammad Irfan Hilmy

Rentetan bencana besar menghampiri negeri ini sejak awal tahun 2020 lalu. Dari gempa bumi, ancaman tsunami, hingga Covid 19 menghantui negeri yang menamakan dirinya dengan Indonesia. Tak heran kalau banyak orang resah dengan bencana yang terus terjadi hingga memasuki kuartal ketiga di tahun 2020 ini. Wajar memang kalau alam tidak dapat diprediksi secara pasti, karena mereka juga punya kehendak destruktif apabila keseimbangannya diganggu oleh orang-orang yang tak tahu malu. Ya, mereka tidak punya hati nurani dan pikiran untuk bertindak. Namun ada fenomena lain yang bahkan bertentangan dengan nurani. Mirisnya, dilakukan oleh makhluk yang diberi akses untuk merasa dengan hati nurani. Banyak orang menyebutnya manusia. Sampai disitu saya agak setuju. Tapi dikemudian hari saya merasa janggal, ternyata tidak semua manusia dapat mengakses hati nuraninya dengan baik. Layaknya perangkat, memang tidak semuanya sempurna mungkin ada beberapa bagian yang sedikit rusak dan kebetulan beberapa orang ini mengalami kerusakan untuk menggunakan hati nuraninya.To the point, manusia yang dimaksud itu ya Pemerintah dan DPR. Saya kurang tahu apakah memang mereka benar-benar manusia sungguhan atau makhluk jenis lainnya. Yang pasti wujudnya adalah manusia. Mereka tidak menggunakan topeng seperti tokoh-tokoh superhero di televisi. Saya tahu jelas wajahnya dan semua orang yang melihat pasti akan mengingat bentuk wajahnya. Tetapi mengapa mereka tidak punya malu untuk berbuat salah? seperti matahari dan rembulan kata Aquinos, sepertinya mereka perlu diterangi dengan cahaya-cahaya ilahiah untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau mereka tidak punya agama? Setidaknya berbuat baik tidak ada korelasi dengan identitas agama. Lucunya, mereka ini selalu mengemis pada momentum politik, kok ga tau malu? Ya memang begitu tabiatnya. Sadis seperti ular yang mencari mangsa. Selepas memakan mangsanya, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Belakangan waktu ini hal tersebut sekiranya tergambar jelas dalam dinamika politik negeri ini. Bak pembalap, mereka dengan cepat mengesahkan RUU Cipta Kerja yang telah ditolak berbulan-bulan oleh elemen masyarakat banyak. Persis seperti pembalap yang sedang melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak dapat mendengar suara kanan kiri. Yang ia dengar hanyalah instruksi dari instruktur balapnya dengan menggunakan alat pendengar suara dibalik helmnya. Tidak ada yang bisa mendengar, kecuali Tuhan, dirinya dan instrukturnya. Namun sayang sekali mereka telah kehilangan Tuhannya seperti keresahan Nietzche di abad-19. Lalu, siapa instrukturnya? Saya akan jawab dengan abstrak, sudah tentu dia diatas penguasa saat ini.Saat Dunia sedang berjibaku melawan Covid 19, malah penguasa negeri ini memilih berhadap-hadapan dengan rakyat. Memilih untuk berseberangan dengan orang-orang yang mereka wakili. Penanganan Covid 19 mungkin dirasa bukan menjadi urusan mereka tetapi dilimpahkan kepada orang-orang medis yang berjibaku digaris depan. Pantas saja, penanganannya sangat tidak memadai. Tidak hanya sampai disitu. Covid 19 pun menjadi alasan mereka untuk melarang rakyatnya berdemo menentang UU Cipta Kerja yang baru disahkan. Tetapi uniknya, Pilkada tetap harus dijalankan. Aneh, tapi begitu kenyataannya. Huft, sampai disini mungkin ada yang bertanya mengenai arah tulisan ini. Saya jawab dengan ribuan maaf bahwa tulisan ini bukan berisi analisis mengenai pasal-pasal dalam UU Cipta Kerja. Saya mencoba menggambar dengan halus bagaimana penguasa bekerja. Saya sadar betul dengan ancaman pencemaran nama baik yang bisa menjerat siapapun bahkan yang membaca tulisan ini. Kalau memang benar lahir tuduhan pencemaran nama baik yang timbul dari aksi massa melalui demonstrasi ataupun kampanye menolak UU Cipta Kerja di media sosial maka saya menyampaikan bahwa Negara sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Bisa dibilang sedang sakit keras. Kasihan orang-orang yang terdampak diluar sana akibat bencana yang melanda negeri ini harus menerima kenyataan UU Cipta Kerja disahkan dengan ketokan kilat dari pemegang kuasa. Saya tidak terbayang UU Cipta Kerja ini akan menjerat banyak buruh di Indonesia, benar-benar kasihan mereka. Semoga para buruh itu bisa menahan air mata didepan anak-anaknya karena kesulitan yang dihadapi mereka. Saya mencoba membayangkan anak-anak buruh itu meminta mainan ataupun sedikit makanan dirumahnya, lalu para buruh itu hanya berkata belum ada sedikit uang dan makanan yang bisa kami berikan padamu akibat dari UU Cipta Kerja ini. Di Paragraf ini mungkin saya ingin menyampaikan sedikit pesan kepada penguasa bahwa bukan UU Cipta Kerja yang rakyat minta. Harus berapa banyak lagi rakyat turun kejalan menyadarkan kalian yang bengis dan tamak pada kekuasaan. Harus berapa banyak lagi buruh yang mogok kerja untuk meneriaki bahwa tindakan kalian itu salah. Kekecewaan itu jangan sampai mendarah daging dan menjadi dendam. Saya takut dengan keberlangsungan bangsa yang saya cintai ini. Sampai sekarang saya tahu mereka bukan manusia seutuhnya. Saya tidak mau berkata secara gamblang identitas sejati dalam diri mereka. Tetapi mungkin saja mereka sebenarnya makhluk yang menjebak Adam hingga diusir dari surga. Itu hanya asumsi, semoga tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here