Home Resensi RESENSI BUKU TUHAN MAHA ASYIK

RESENSI BUKU TUHAN MAHA ASYIK

114
0
SHARE

Oleh: Averos Aulia Ananta Nur

Judul            : Tuhan Maha Asyik

Pengarang    : Sujiwo Tejo & Dr. Mn. Kamba

Penerbit       : Imania

Tahun Terbit : Cetakan XIV, November 2019

Tebal Buku    : 245 halaman

Harga Buku   : 59,000 (Harga Pulau Jawa)

ISBN            : 978-602-7926-29-5

“Orang-orang yang mengaku beragama yang justru gaduh mempersoalkan siapa-siapa saja yang boleh masuk surga dan siapa-siapa saja calon penghuni neraka.”

“Ciri utama manusia yang mengenali Tuhan tanpa nama adalah bahwa ia memiliki kearifan dan kebijaksanaan (makrifat dan hikmah).”

          Buku Tuhan Maha Asyik merupakan salah satu dari sekian banyak karya yang telah diciptakan oleh Sujiwo Tejo. Sebenarnya Ia telah mengeluarkan buku Tuhan Maha Asyik jilid 2 tetapi akan menjadi tidak afdol apabila langsung membahas buku kedua tersebut. Sedikit perkenalan tentang penulis, Sujiwo Tejo memperkenalkan dirinya sebagai dalang wayang kulit dan wayang orang Jawa, juga dalang wayang topeng (kerte) Madura. Sebenarnya ia kuliah di jurusan Matematika ITB dan Teknik Sipil ITB (1980-1988). Akan tetapi, ia telah berceramah dan berkarya dari soal matematika, teknik sipil, spiritualitas, musik, teater maupun film, dan lain-lain, baginya tetap menjadi bagian yang sah dari pendalang. Kalau Nur Samad Kamba, ia merupakan dosen pengampu Tasawuf pada Jurusan Tasawuf Psikoterapi (TP) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak 1998-sekarang. Jenjang formal yang telah ia tempuh adalah S1, S2, dan S3 di Universitas Al-Azhar Cairo dengan mengambil jurusan Aqidah & Filsafat tahun 1981-1994. Tak heran jika dilihat dari latar belakang dan pengalaman kedua penulis tersebut, buku ini dapat membuka pandangan hingga menyejukan hati pembaca.

Buku ini dibuka dengan theme song Tuhan Maha Asyik, prolog oleh Pandita Mpu Jaya Prema, kemudian 28 bab inti, ditutup dengan epilog oleh Pastor Antonius Benny Susetyo, Pr, dan biodata singkat penulis. Pesan atau makna dalam buku ini disampaikan melalui dialektika  dari 8 tokoh dengan latar belakang berbeda-beda, taraf ekonomi keluarganya berbeda-beda, pekerjaan orang tua mereka berbeda-beda, hingga kesukaan mereka pun berbeda-beda. Akan tetapi, mereka semua adalah teman sekelas dan sekaligus sahabat. Kedelapan tokoh tersebut yaitu Buchori, Kapitayan, Parwati, Christine, Samin, Dharma, dan Pangestu.

Kedelapan tokoh tersebut saling berfilsafat tentang segala hal. Mulai dari mempertanyakan tentang kehendak, nasib, kebhinekaan, dll. Jika Anda suka dengan filsafat, pasti Anda pernah membaca Dunia Sophie. Hemat penulis, buku ini setali tiga uang dengan buku tersebut, setiap babnya membahas hal-hal yang berbeda tetapi tetap berkesinambungan. Tidak lain karena memang narasi yang digambarkan adalah tentang kehidupan anak-anak pada umumnya, yang bersekolah, bermain, berdiskusi mengerjakan tugas, membantu orang tuanya, dll.

Hal yang membuat pembaca merasa aneh ketika membaca buku ini adalah sangat jarang sekali anak Sekolah Dasar sudah memiliki pemikiran begitu kritisnya. Kedelapan anak tersebut tidak hanya mempertanyakan segala hal. Akan tetapi, mereka mempunyai argumen yang kuat juga.

Dialektika mereka mampu menyadarkan pembaca terhadap dogma-dogma mainstream yang justru miskonsepsi yang telah tersebar selama ini. Bahwa selama ini, keyakinan kita dalam beragama justru menjauhkan kita dari makna beragama yang sejati. Karena kita selama ini selalu disibukan dengan ritual-ritual formal. Padahal Tuhan sendiri berharap dan selalu mengajak untuk terus berhubungan dengan-Nya di setiap ruang dan waktu. Seharusnya agama-agama mengajarkan kebijaksanaan dan kearifan. Akan tetapi, orang-orang yang mengaku beragama yang justru gaduh mempersoalkan siapa-siapa saja yang boleh masuk surga dan siapa-siapa saja calon penghuni neraka.

Di dalam buku ini, penulis hendak menyampaikan pesan bahwa Tuhan itu sangat asyik ketika definisi atau pemahaman tentang-Nya tidak dimonopoli oleh pihak tertentu, sekalipun pihak yang mengaku paling agamis. Penulis bahkan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak terdefinisikan dan logika manusia tidak akan menjangkau-Nya. Tuhan adalah segala-galanya, kemanapun kita memandang, di situlah letak wajah Tuhan. Menjalin hubungan dengan Tuhan bukan dengan pendekatan persepsional dan konseptual, melainkan dengan intimasi cinta (hal 121).

Buku ini ditutup dengan paragraf, “agama bukanlah paguyuban tempat berkumpul-kumpul membentuk jamaah ekslusif, apalagi melakukan pameran ritual untuk menyombongkan diri.”

Kelebihan: karena pembawaan atau alur cerita yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari, buku ini dapat dibaca oleh semua golongan. Apalagi bagi orang-orang yang suka berfilosofis tentang kehidupan ini, mereka akan ‘merasa’ berdialog dengan tokoh-tokoh di dalam buku ini.

Kekurangan: dalam beberapa topik, dibutuhkan pemahaman ekstra untuk memahami maksud yang penulis ingin sampaikan. Artinya, dibutuhkan setidaknya pemahaman dasar terlebih dahulu bagi si pembaca untuk dapat lebih mudah menikmati makna dari setiap topik yang terdapat dalam buku tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here