Home Resensi Resensi Film Girl Lost

Resensi Film Girl Lost

75
0
SHARE

Oleh Rani N. Harahap

Judul : Girl Lost
Tahun  : 2018
Genre   : Drama, thriller
Durasi  : 1 jam 35 menit
Produksi  : Robin Bain, Leah Cevoli, Jhon Swon,
Sutradara : Robin Bain
Penulis naskah : Robin Bain
Pemain : Jessica Taylor Haid, Felix Ryan, Robin Bain, Emily Cheree, Irena Stemer, Misha Suvorov, James Seaman
Negara : Amerika Serikat

Film ini menceritakan tentang prostitusi dibawah umur, seorang remaja perempuan bersama ibunya yang bekerja sebagai prostitusi untuk bertahan hidup.

Bekerja di dunia malam membuat Ibunya sering mengalami kekerasan, bekas pukulan-sayatan dari para pelanggan menghiasi tubuhnya dan menanti untuk dilukis kembali oleh pelanggan lainnya. Seiring berjalannya waktu ibunya semakin tua, membuat ia kekurangan pelanggan sehingga mereka kesulitan untuk mencari tempat tinggal atau sekedar makanan sehari-hari. Sehingga ia harus menjual jasanya dengan pemilik kontrakan agar dapat tinggal lebih lama.

Sebagai wanita panggilan, ibunya terbiasa membawa Shara ke tempat kerja, tentu membuat Shara memandang kotor Ibunya sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk memandang sisi lain dunia selain melihat pelacuran, uang  dan penyiksaan, terlebih didukung oleh lingkungan dan ibunya yang sebagai role model.

Mereka saling mengatakan pelacur satu sama lain, bertengkar dan sebagainya. Tapi dibalik itu semua, walau harus hidup dengan menyewakan kemaluan, disiksa dan lain-lain. Mereka tetap saling menyayangi, tertawa bersama, menikmati saat-saat sederhana dan berbagi harapan. Walau terkesan menggelikan membaca kata ‘harapan’ dari pelacur, kenyataannya mereka memiliki harapan yang lebih besar, rencana yang terorganisir dan solidaritas yang lebih kuat dari penjual agama, atau penjual “janji” maupun penjual-penjual lainnya. Karena kerasnya hidup telah menempa mereka untuk tidak dimanfaatkan.

Hingga tiba saatnya Shara dibujuk oleh Ibunya untuk melacur. Ibunya terpaksa mengiklankan Shara yang masih 13 tahun itu untuk bertahan hidup. Dan tentu saja, harganya dua kali lipat lebih mahal daripada ibunya. Pelanggannya pun beragam, dari binatang berdasi sampai remaja yang patungan untuk menyewanya.

Gotta admit that this movie is making me sad, not horny at all. Di usia yang harusnya tertawa bersama teman, mengeluh karena tugas, mungkin juga terlibat tawuran, ikut kompetisi dan lainnya. Shara harus menjadi bantal guling laki-laki untuk bertahan hidup.

Hingga tiba saatnya ketika ibunya menjualnya pada pemilik kontrakan, di kamar mandi, ia diselamatkan pacarnya, Jamie, anak si pemilik kontrakan. Mereka kabur dan bertahan hidup bersama.

Sempat pula Shara ditipu oleh mucikari parlente, Jamie tidak terima dan membalaskan dendamnya. Tetapi terlalu naif berakhir koid… sebab Jamie melupakan kehadiran pengawal dan headshot! Tempat sampah jadi peristirahatan terakhirnya.

Kelebihan 

Latar belakang perkotaan yang modern sangat mendukung situasi dan kondisi kesenjangan sosial, pengangguran sampai kriminalitas yang tinggi. Alur ceritanya pun sangat apik, penderitaan mengantri rapi seolah tiada henti. Dari penyiksaan ke penyiksaan disajikan begitu beragam dan semakin mendalam.

Film ini sangat membantu untuk membuka pandangan masyarakat bahwa hal-hal mengenai tunasusila (pelacuran) bukanlah semata mengenai pronografi, pemuas nafsu atau sejenisnya. Di dalamnya terdapat kasih sayang dan tanggung jawab pada keluarga. Film ini menguak permasalahan dan kesenjangan sosial secara nyata, menunjukkan ketidakmampuan pemerintah memberi perlindungan, keamanan, kesehatan dan kepastian HAM masyarakatnya, terutama untuk perlindungan kekerasan seksual pada anak dibawah umur.

Para pelacur di film ini juga melacurkan diri bukan karena keinginan mereka untuk bersenang-senang, namun untuk menyambung hidup. Jika anda melihat pelacur yang tertawa atupun merasa senang melacurkan diri, ketahuilah pembaca, mereka menghibur diri di atas kehancuran dan kepedihan di dalam jiwa. Sehingga masyarakat tidak pantas memandang rendah atau menghina tunasusila (pelacur)

Kekurangan 

Tidak ada keberpihakan bagi Sarah, pula tidak ada keamanan bagi tokoh utamanya. Cukup aneh melihat ketiadaan pihak penegak hukum seperti polisi, yang kita tau bertugas mengayomi masyarakat dan biasa melakukan pengawasan ke tiap kelas pekerja di tiap lapisan masyarakat, termasuk ke tempat hiburan malam. Nyatanya dalam film ini hal tersebut absen. Kekurangan lainnya adalah kelalaian Jamie merencanakan balas dendamnya dengan matang untuk membunuh madam tersebut. Karena mengingat latar belakangnya yang tumbuh dan berkecimpung di dunia yang penuh kekerasan dan obat-obatan, membuat ia seharusnya terbiasa dengan mengatur strategi, memperhatikan keamanan/security, mencari jalan keluar, membuat rencana B sampai menutupi identitas.

Kesimpulan 

Hal yang paling menarik dari apapun kondisi kita, hancurnya kita adalah hal itu membuat kita sampai lupa, bahkan takut pada  hal-hal yang sebenarnya kita inginkan maupun yang kita butuhkan. Let’s say being loved

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here