Home Cerpen Susu Untuk Adik

Susu Untuk Adik

94
0
SHARE

oleh Misyella Anggraini

Jam dua belas siang. Di bawah panas matahari yang masih gentar–gentarnya, anak itu tetap berderap maju. Menyusuri kota metropolitan yang katanya punya orang–orang bersendok emas. Berharap hari ini ia dapat membawa lebih banyak rezeki ketimbang yang ia dapatkan kemarin.

Suara klakson dari kendaraan yang berbaris acak–acakan di depannya, sudah bagaikan alunan musik sehari–hari, asap kendaraan yang mengepul bercampur asap pabrik di sekitar sana sudah menjadi nafasnya dan tatapan iba sampai remeh sudah menjadi makanannya sehari – hari. Kebahagiaanya satu, lampu lalu lintas yang berubah merah menjadi pertanda saatnya ia beraksi memulung pundi–pundi rupiah dari orang–orang.

Namanya Arif, umurnya tigabelas tahun. Ia sudah putus sekolah sejak kelas 5 sd. Impiannya menjadi TNI, bukan mengais rezeki dengan meminta–minta. Namun siapa peduli? Api gejolak orde baru yang menimbulkan krisis berkepanjangan berasap sampai reformasi. Siapa bilang setelah reformasi banyak masyarakat yang hidup enak. Menurut Arif, hidupnya justru semakin keras.

“Hei Arif, aku dapat uang dua ribu dari paman berjas. Kalau mau, kamu cepat menadah tangan di mobil kijang disana,” kata Asep menunjuk mobil kijang yang berhenti tepat dibelakang zebra cross. Omong – omong Asep itu teman satu profesi Arif. Nasibnya sedikit lebih beruntung daripada Arif. Asep lulus sd, namun harus putus sekolah saat kelas dua smp. Sebenarnya sih nasib mereka berdua mirip–mirip, makanya mereka menjadi teman.

Mata Arif berbinar seakan mendapat harapan baru. Dari pagi ia berjalan kesana kemari, tidak ada barang satu orang baik pun yang mau memberinya sepeser uang. Ia segera mengangguk dan bergegas menghampiri mobil kijang itu. Diketuknya kaca sopir mobil kijang itu dengan penuh harap. “Minta pak, buat susu adik.” Arif sengaja melirihkan suaranya agar laki–laki di balik kaca itu iba dan mau memberinya sepeser uang. Sayangnya mungkin hari ini memang bukan hari keberuntungan Arif, tepat sebelum laki – laki itu hendak membuka kaca, lampu lalu lintas berubah hijau dan suara klakson langsung bersahut–sahutan. Arif merengut kecewa ketika laki–laki itu mengangkat telapak tangannya sambil memasang wajah minta maaf. Setelahnya, mobil kijang itu kembali melaju dengan cepat meninggalkan Arif yang masih berdiri diam memantau situasi sebelum menyebrang ke pinggir.

“Tidak dapat?”

“Tidak.”

Asep mengusap pundak Arif dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Wajah Arif yang terlihat sangat kecewa membuat Asep iba, tapi ia tidak bisa melakukan apa – apa. Hari ini memang sepi uang. Rasanya meski sudah mengelilingi seisi kota setengah hari, tapi baru duaribu uang yang masuk ke kantongnya.

“Kamu sudah makan?”

Arif menggeleng pelan. Perutnya sudah berbunyi daritadi, tapi kalau tidak ada uang mau beli makan pakai apa?

“Hm, yasudah, aku mau beli makanan dulu, kamu tunggu sini, nanti kita makan sama–sama.”

Asep mengusap punggung Arif sekali lagi sebelum ia meloncat dari trotoar ke jalanan untuk mencari warung murah. Dalam hati Arif berterimakasih sekali dengan dengan Asep, juga dengan Tuhan. Entah kalau tidak ada Asep bagaimana nasibnya sekarang. Jalanan bukanlah tempat yang aman untuk anak usianya, namun Asep selalu ada untuk melindunginya. Bahkan menurutnya, Asep merawatnya seperti adik sendiri. Terima kasih juga pada Tuhan, sudah membiarkan Asep berada disini dengannya.

Awan diatas kepala Arif mulai bergerumul. Warna langit berubah menghitam diikuti sambaran petir yang cukup kencang. Sayup – sayup Arif mendengar orang – orang berteriak, “Gerimiss gerimiss.” Alamak!

Baru tersadar, Arif langsung berlari mencari emperan toko untuk berteduh. Sudah agak terlambat, badannya setengah basah kuyup. Anak itu memeluk dirinya sendiri yang sedang mengigil. Tanpa sadar, air mata sudah menggenangi pelupuk matanya. Bersamaan dengan jatuhnya hujan dari langit, air mata yang tadinya menggenangi pelupuk mata Arif kini ikut terjun bebas ke pipi. Arif terisak dalam diam, tidak ada yang peduli dengan dirinya.

Hujan semakin deras dan tidak ada tanda – tanda akan berhenti. Sementara Asep juga sampai saat ini belum memunculkan batang hidungnya. Arif memegangi perutnya yang keroncongan, berharap Asep menetapi janjinya. Berharap Asep segera datang dengan nasi bungkus untuk dimakan berdua.

Arif menjadi overthinking. Tiba – tiba pikiran tentang keluarganya di rumah bergerumul di kepalanya. Ayahnya sudah meninggal 2 tahun lalu, meninggalkan hutang yang cukup banyak jumlahnya. Sementara ibunya sekarang menjadi tukang cuci serabutan panggilan tetangga. Kalau tidak ada panggilan ya tidak kerja. Dirinya masih belia untuk dapat memutar otak bagaimana cara memutar roda perekonomian keluarga. Arif sempat meminta izin kepada ibunya agar dia diperbolehkan bekerja menjadi kuli bangunan. Namun sang ibu tidak mengizinkan karena Arif masih terlalu muda.

Pikiran dan rasa khawatir Arif saat ini tertuju pada satu orang. Yakni adik perempuan semata wayangnya. Adiknya masih berumur 2 tahun, butuh susu untuk nutrisinya. Tidak apa – apa jika tiap hari Arif dan ibunya hanya makan nasi dengan sambal atau tempe, tapi Arif tidak tega jika adiknya kekurangan gizi.

“Arif!”

Suara Asep yang menggelengar menyapa Arif dari seberang jalan. Di tengah derasnya hujan, Asep datang dan melambai ke Arif. Dia menenteng satu kantong plastik hitam yang Arif tebak berisi nasi bungkus.

“Bang Asep!” Arif balas berteriak. Kini ia ingin memeluk Asep dan menangis bersamanya, dadanya sesak sekali.

Asep mengambil ancang – ancang untuk menyebrang, namun sayangnya ada motor yang menyalip dengan sembrono dan menabrak Asep.

“BANG ASEP!” Teriak Arif.

Untungnya, pengendara motor itu dengan sigap menarik rem sehingga hanya menyenggol bagian tengah tubuh Asep.

Arif segera berlari menerobos hujan untuk menghampiri Asep yang sedang berusaha berdiri.

“Bang Asep gak papa?” Asep memaksakan sebuah senyum untuk Arif agar adiknya itu tidak panik.

“Bang, maaf ya bang, saya lagi buru – buru. Ini ada uang damai sedikit.” Pengendara motor itu segera mengambil tangan Asep dan menaruh beberapa lembar rupiah disana. “Saya langsung saja.”

Asep dan Arif masih mematung kaget, saling melempar pandangan satu sama lain. Bukan hanya karena Asep hampir terluka karena tertabrak tadi, namun karena jumlah nominal uang yang diberikan untuk ganti rugi tidak sedikit. Seratus ribu rupiah.

Melihat itu Arif memikirkan cara gila. Cara gila agar ia bisa mendapatkan uang untuk membeli susu adik dengan cepat. Dengan tiba – tiba, Arif melemparkan dirinya ke tengah jalan. Berharap ada motor yang menyenggolnya lalu memberinya uang damai untuk ganti rugi. Namun takdir berkata lain, sebuah truk datang mendekat dengan cepat. Suara klakson dan tabrakan nyaris terdengar bersamaan.

“ARIF!”

Selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here