Home Berita Pentingnya Memahami Protokol Keamanan dalam Peliputan bagi Jurnalis

Pentingnya Memahami Protokol Keamanan dalam Peliputan bagi Jurnalis

43
0
SHARE

ManifesT, Malang-Dalam Webinar LBH Pers peluncuran Buku “Protokol Keamanan Dalam Meliput Isu Kejahatan Lingkungan” (24/3) yang dimulai pada pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB melalui aplikasi zoom dan siaran langsung di YouTube. Ade Wahyudin menjelaskan bahwa keamanan jurnalis hanya dijamin oleh perusahaan media saja, sehingga harus ada hubungan yang sinkron antara jurnalis dengan perusahaan media untuk keamanan bersama. Diharapkan harus ada komitmen yang terjalin secara penuh dari kedua belah pihak untuk menjalankan kerjasama peliputan yang memenuhi standar protokol mengenai keamanan dan pemenuhan hak serta kewajiban langsung oleh kedua belah pihak dibawah solidaritas tim pers.

Banyak hal salah satunya overview kondisi kebebasan pers dan menampilkan grafik kekerasan terhadap kebebasan pers berdasarkan pengawasan LBH Pers. “Tata kelola dalam pers tidak akan bisa berjalan dengan baik jika hal yang mendasar seperti pemenuhan dan penghormatan hak asasi manusia bagi para jurnalis tidak bisa dipenuhi, ditambah perusahaan media yang tidak mendapat perlindungan. Hak asasi manusia seharusnya dapat diwujudkan kepada setiap orang dengan pekerjaan apapun termasuk jurnalis, namun pada faktanya banyak sekali yang diabaikan sehingga akhirnya diperlukan sebuah protokol yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan para jurnalis,” tanggap Ririn Sefsani selaku Tim Leader Program Perlindungan Pembela HAM dalam Pembangunan Berkelanjutan di Kemitraan.

Apabila terdapat sengketa pers, sebaiknya diselesaikan melalui Dewan Pers, yang mana pihak yang keberatan atas pemberitaan boleh membuat pengaduan yang nanti penanggungjawab redaksi bisa berkoordinasi dengan dewan pers, lalu redaksi bisa mengajukan permohonan perlindungan kepada Dewan Pers.

Joris Ramm, perwakilan kedutaan Belanda yang menjelaskan bahwa fokus utama dari kedutaan Belanda adalah mewujudkan penegakkan hak asasi manusia bagi setiap orang yang dalam hal ini adalah kebebasan pers. Beliau juga mengatakan bahwa jurnalisme di beberapa negara, masih belum mendapatkan kebebasan yang sebenarnya, seperti     Indonesia, Malaysia dan Filipina yang masih saeringkali terjerat masalah kemanusiaan dalam hal kinerja jurnalisme. Dari seminar ini diharapkan bahwa kedepannya perlindungan terhadap pekerja dibidang jurnalistik terutama jurnalis yang terjun di lapangan dapat lebih dijamin lagi tidak hanya oleh lembaga pers atau perusahaan media saja tapi juga oleh pemerintah dan masyarakat, karena jurnalis juga memiliki hak asasi yang sama dengan manusia lainnya karena dunia pers juga memegang peran penting dalam memenuhi kebutuhan akan isu dimasyarakat. (zlr/thz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here