Home Cerpen Manusia Tak Kenal Jendela

Manusia Tak Kenal Jendela

11
0
SHARE

 

Oleh: Danang Yudha O.

Apa kalian tahu, kenapa satu menit sama dengan enam puluh detik? Diantara ayam dan telur, siapakah yang tercipta terlebih dulu? Dan kenapa jenis kelamin ada dua yaitu laki-laki atau perempuan?  Pertanyaan – pertanyaan kecil seperti ini memang sering diabaikan. Padahal manusia itu diciptakan dengan memiliki rasa penasaran. Tahukah kalian sebuah peradaban sebenarnya dimulai dari rasa penasaran? Iya, memang benar seperti itu. Karena dari rasa penasaran muncullah sebuah pertanyaan, dari pertanyaan munculah suatu pemikiran, dari pemikiran lahirlah suatu kemajuan, dan dari kemajuan inilah terciptanya suatu peradaban. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan rasa penasaran?

Pepatah pernah mengatakan bahwa membaca itu ibarat membuka jendela dunia. Artinya, jika seseorang sering membaca maka semakin banyak pula wawasannya. Sejak seseorang yang masih berusia anak – anak, frasa kata “membaca” di kehidupan sehari – hari selalu dikaitkan dengan objek yang paling dominan,  yaitu buku. Banyak sekali genre buku yang dapat dibaca untuk menambah wawasan, seperti halnya buku cerita, buku pembelajaran, buku sejarah dan sebagainya. Lantas, kenapa harus buku? Karena buku adalah sebuah media pembelajaran atau informasi yang bersifat praktis – komprehensif dan sumbernya sanggup dipertanggungjawabkan. Beda halnya dengan media lain seperti koran, majalah atau sosial media. Informasi yang didapatkan dari sebuah buku dapat dijamin kebenaran dan sumber dari isi buku tersebut. Artinya, buku tidak mengandung unsur kesesatan atau dengan nama lain “hoax”,  karena buku diciptakan untuk mencerdaskan bukan menyesatkan.

Lalu, apakah dengan membaca buku dapat membuat peradaban suatu negera semakin maju?

Untuk menciptakan suatu tindakan yang berdampak besar dalam sebuah kebaikan, alangkah baiknya terlebih dulu membuat suatu tindakan yang berdampak kecil, berbenah diri misalnya. Membaca buku tentunya sebuah langkah permulaan untuk meningkatkan kualitas seseorang sebelum seseorang tersebut menciptakan suatu peradaban. Di kehidupan mahasiswa, sering dikenal dengan istilah “Baca – Diskusi – Aksi”. Makna kiasan dari istilah ini adalah berfikir terlebih dulu sebelum bertindak. Dari tindakan inilah dapat dibedakan mana orang sering membaca dan mana orang yang jarang atau bisa jadi tidak pernah membaca buku.

Sayangnya negara kita, Indonesia, memiliki kesadaran membaca yang sangat rendah. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca.

Prestasi ini tentunya bukanlah suatu hal yang membanggakan. Salah satu faktor negara Indonesia  memiliki minat membaca yang rendah adalah pendidikan yang belum merata sehingga banyak anak – anak pelosok negeri yang sama sekali tidak membaca buku bahkan tidak bisa membaca. Faktor yang paling mempengaruhi adalah masyarakat Indonesia lebih gemar menonton televisi, ber-sosial media dan hal – hal yang dianggap lebih praktis dari sekedar membaca buku. Untuk menjadi negara yang besar, seharus rakyat Indonesia lebih menghargai sebuah proses ketimbang dengan hal yang bersifat instan. Dalam istilah ini proses disamakan dengan hal membaca buku, karena dengan membaca buku kita dapat terhindar dari sifat “pragmatis” yang lebih mengutamakan hal – hal yang praktis. Dengan membaca buku pula, kita dapat membuka jendela dunia sehingga menambah wawasan. Apabila seseorang jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah membaca buku itu sama halnya manusia tak kenal jendela.

Referensi:

http://www.edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia

Ilustrasi oleh:
Danang Yudha O.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here