Home Reportase Wajah Baru Pemilwa FIA

Wajah Baru Pemilwa FIA

9
0
SHARE

ManifesT – Malang (23/11) Kemarin, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) telah melaksanakan Pemilihan Mahasiswa Wilayah (Pemilwa). Pemilwa ini dilaksanakan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini mengusung sistem yang baru yakni e-vote. Panitia pelaksana (Panpel) Pemilwa FIA melakukan kerjasama dengan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) untuk menerapkan sistem yang baru ini.  Panpel pemilwa FIA menerapkan sistem yang baru ini guna menciptakan efektivitas dan efisiensi jalannya Pemilwa.

Muhamad Ariz Pratama menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada rencana dari sebelum-sebelumnya. Tetapi  tahun ini baru bisa terealisasikan, banyak juga pertimbangan-pertimbangan, sehingga tahun lalu tidak sempat diberlakukan e-vote karena adanya permasalahan internal. “(Sistem e-vote) menghemat perhitungan suaranya. Kalau manual  kan harus satu-satu, kalau pake e-vote setelah pemungutan suara selesai bisa langsung ke perhitungan suara hari itu juga, suaranya dapat berapa (hasil),” lanjut mahasiswa yang sekaligus menjabat sebagai Koordinator Acara Pemilwa FIA ini.

Namun, beberapa pihak menganggap bahwa sistem e-vote ini belum layak untuk diterapkan. Rahmana Al Qadri, salah satu calon Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FIA menuturkan bahwa sistem manual lebih transparan dibandingkan dengan sistem e-vote yang saat ini dilaksanakan. pendapat berbeda diutarakan oleh calon DPM lain, Raditya Yuzril yang menuturkan bahwa dengan adanya e-vote dapat meminimalisir konflik yang mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan pemungutan suara konvensional beresiko menimbulkan adanya ketidaksahan suara, sedangkan e-vote mutlak sah.

Sosialisasi menjadi salah satu masalah yang terjadi pada pemilwa FIA tahun ini. Panpel menargetkan 2500 partisipan tetapi kenyataannya jumlah akhir partisipan pemilwa hanya 2058 pemilih. Penurunan angka yang tidak sesuai dengan estimasi ini bagi beberapa pihak dikarenakan sosialisasi yang kurang .“Jadi e-vote ini sosialisasinya hanya ke calon dan tim suksesnya. Dan tidak ada petunjuk prosedurnya,” ujar Rahmana Al-Qadri. Sedangkan saat dikonfirmasi kepada koordinator acara pemilwa FIA, ia memberikan alasan bahwa sosialisasi lebih efektif dan efisien apabila dilakukan melalui media sosial karena adanya keterbatasan waktu dan tempat.

Sistem e-vote yang baru diterapkan di pemilwa FIA tahun ini menimbulkan pro dan kontra, baik dari kandidat dan juga pemilih. Harapannya sistem e-vote yang akan datang dapat lebih sempurna, baik dalam proses  awal hingga akhir karena sistem e-vote diciptakan agar pemilwa dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.  (kvn/dna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here