Home Berita Capres dan Cawapres Bergantian Microphone di Debat Terbuka

Capres dan Cawapres Bergantian Microphone di Debat Terbuka

4
0
SHARE

ManifesT – Malang (04/12) Siang hari ini di lobi gedung B tidak seperti biasanya, mahasiswa beramai-ramai menghadiri acara debat terbuka calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta calon Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB). Semua calon mendeklarasikan visi dan misi serta program kerja (proker) yang dikemas dalam janji-janji mereka. Acara berlangsung dengan aman dan terkendali. Para calon angkat bicara agar didengar oleh mahasiswa, dengan bijaksana mereka menjanjikan semua visi misi serta proker demi kesejahteraan FH UB satu tahun ke depan. Para mahasiswa juga sangat antusias pada sesi tanya jawab, mereka juga bersorak-sorai dalam mendukung masing-masing calon.

Debat terbuka berjalan dengan semestinya, tapi masih ada beberapa ketidaksesuaian dalam susunan acara debat terbuka ini. Hanya ada satu dosen juri yang menghadiri debat terbuka. Padahal, sebenarnya pihak Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM) sudah mengajukan banyak untuk dosen FH UB sebagai dosen juri debat. Pada saat sesi debat calon DPM, dosen juri menghadirinya, akan tetapi saat sesi debat capres dan cawapres BEM FH UB juri tidak hadir (tidak ada dosen juri). Hal ini dijelaskan oleh Rahardika Putra, salah satu anggota KPM “Sudah diajukan banyak, tapi yang datang dan berkenan hanya satu yaitu Pak Setiawan. Waktu pertama saat debat calon DPM datang, dikarenakan overmahct, pada saat debat capres dan wapres tidak datang karena itulah alasan mengapa tidak ada juri,” tuturnya. Namun ia tidak memberikan kejelasan mengapa dosen juri tidak hadir pada sesi debat capres dan cawapres. Alhasil, sebagai gantinya pada sesi debat capres dan cawapres diberikan waktu untuk memberikan closing statement.

Tidak ada waktu penyampaian closing statement yang diberikan KPM pada saat berakhirnya sesi debat calon DPM “Closing statement saat berakhirnya debat calon DPM memang ditiadakan karena keterbatasan waktu dan jugaclosing statement pada saat berakhirnya debat capres dan cawapres diadakan untuk mengganti waktu yang seharusnya para juri untuk bertanya,” ujar Rahardika.

Di sisi lain, ia juga memberikan keterangan bahwa ketua KPM sedang berhalangan hadir dalam agenda debat terbuka kali ini. Akan tetapi, semua calon hadir dalam debat terbuka ini, serta peran DPM sebagai pengawas dalam acara ini terlaksana dengan baik.

Beberapa calon mengutarakan pendapatnya mengenai jalannya debat terbuka ini. Akhdan Khofid, capres nomor urut tiga menerangkan bahwa terdapat plus dan minus dari pelaksanaan acara ini, plusnya ada terop untuk berteduh bagi para audiens, serta situasi debat terbuka yang lebih tenang dibanding tahun kemarin. Tetapi, ia juga menjelaskan minusnya yakni jam acara yang molor. Irfanurossi Imron, cawapres nomor urut satu juga sependapat dengan Akhdan, “Semua sudah terfasilitasi, cuma waktunya agak molor sehingga ada perubahan rundown dalam acara ini” tuturnya.

Pendapat lain diutarakan capres nomor urut dua. Irfan Djuha, “Belum cukup terfasilitasi, karena waktu debat hanya disediakan satu microphone yang seharusnya capres dan cawapres memegang microphone-nya masing-masing” ungkapnya. Beberapa pendapat ini tentunya secara tidak langsung menjadi bahan evaluasi untuk KPM agar bisa lebih baik lagi dalam memfasilitasi debat terbuka di tahun berikutnya. (wpp/tuv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here