Home BERITA Menolak Atau Tidak PTN-BH (?)

Menolak Atau Tidak PTN-BH (?)

SHARE

ManifesT-Malang (28/4) Masih hangat hingga saat ini perbincangan di kalangan mahasiswa tentang pro kontra terkait masalah kebijakan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang terjadi di perguruan tinggi negeri di Indonesia, khususnya di Universitas Brawijaya (UB). Mengangkat isu tentang PTN-BH, Kementerian Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (BEM FH UB) mengadakan forum kajian diskusi terbuka yang diadakan di Lobby Gedung C FH UB pada hari Kamis (26/4). Dengan mengangkat tema “PTN-BH dan Student Loan, Ancaman Komersialisasi Pendidikan?”, kajian yang diadakan pukul 18:30 WIB ini cukup menarik antusiasme mahasiswa untuk mengikutinya. Kajian kali ini dihadiri oleh  Rinto Leonardo selaku perwakilan Komite Pendidikan UB dan dimoderatori oleh mahasiswa FH UB sendiri yaitu Shofiyyatur Rosyidah. Kajian ini membahas tentang sejauh mana UB menanggapi perubahan kebijakan PTN-BH dan apa langkah yang sudah diambil oleh UB saat ini.

PTN-BH muncul ketika terbitnya Undang-Undang Perguruan Tinggi (UU PT) Nomor 12 Tahun 2012. Skema PTN-BH ini sendiri diatur dalam pasal 65 UU PT. Kebijakan ini menimbulkan sebuah polemik bagi kalangan mahasiswa. Hal ini karena dengan dijadikannya sebuah perguruan tinggi menjadi berbadan hukum, sejatinya akan merugikan mahasiwa. Tak menutup kemungkinan ketika sistem badan hukum ini diterapkan akan berdampak pada pengeluaran uang lebih banyak dari mahasiswa. Mengutip dari pembahasan Rinto dalam kapasitasnya sebagai pemateri kajian kali ini, pendidikan sudah menjadi barang komersil dari pasal 65 (Institut Teknologi Bandung), 66 (Universitas Gadjah Mada), 67 (Institut Pertanian Bogor), dan lain sebagainya. Sejauh ini telah terdapat 11 perguruan tinggi negeri badan hukum di Indonesia.

Ia melanjutkan bahwa kondisi mahasiswa UB saat ini sedang terpecah dengan adanya kebijakan tersebut, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Melihat peristiwa pada aksi peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei 2017 lalu, banyak kekecewaan saat kita melakukan orasi-orasi. Terdapat orasi dari mahasiswa yang mewakili seluruh mahasiswa UB untuk menolak perubahan UB dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) menjadi PTN-BH. Namun, di sisi lain ada pula kelompok mahasiswa yang justru menyuarakan dukungannya terhadap perubahan tersebut.

Menjelang peringatan Hardiknas (2/5) tahun ini, Rinto berharap bahwa itu adalah titik balik dimana mahasiswa UB bersatu dengan satu suara. Besar harapan momen Hardiknas esok merupakan momen yang tepat untuk mempersatukan kembali mahasiswa UB yang sempat terpecah dalam menyikapi perkara PTN-BH.

Sebagai penutup kajian malam itu Rinto kembali mengingatkan terkait coretan-coretan saat Gedung C FH UB masih dalam tahap pembangunan, dimana Gedung C yang saat itu masih ditutupi oleh banyak seng-seng ditulisi “ini kampus apa showroom?”. Dan tulisan di kaca Gedung C lantai empat yang bertuliskan “setidaknya kami pernah bermimpi untuk menjadi sarjana”. Lalu apakah kita akan membiarkan harapan-harapan mereka, harapan-harapan generasi selanjutnya dimasa mendatang sirna begitu saja karena harga universitas yang mahal? HIDUP MAHASISWA!!! (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here