Adinda Tita Putri, 2021
Definisi Pahlawan menurut Debi Mazar adalah seseorang yang tidak memntingkan diri sendiri, yang murah hati, yang hanya mencoba untuk memberi kembali sebanyak mungkin dan membantu orang. Seorang pahlawan yang baik adalah seseorang yang menyelamatkan orang dan sangat peduli.
Menurut saya, nakes (tenaga kesehatan) dapat diapresiasi sebaga pahlawan kemanusiaan di masa pandemi karena menjalankan peran sebagai seorang tenaga medis merupakan sebuah profesi yang mulia yang bahkan tidak sembarang orang dapat menjalankan pekerjaan atau tugas tersebut. Hal tersebut nampak pada tanggung jawab dan perannya yang dalam tanda kutip sebagai penentu kehidupan seseorang, juga pekerjaan mulia tersebut merupakan panggilan jiwa yang sangat butuh hati nurani untuk dapat membantu meringankan penderitaan orang lain. Tentu akan amat bahagia jika mampu mempunyai kesempatan dalam mengabdikan diri menjadi seorang pejuang kemanusiaan.
Betapa tidak, di saat angka kematian harian dan angka positif kasus Covid harian sedang memuncak, di saat kelangkaan oksigen dan ruang perawatan di banyak rumah sakit terjadi, dan di saat banyak kegiatan usaha masyarakat mengibarkan bendera putih sebagai pertanda “menyerah” karena tidak bisa lagi mengais rezeki, pertolongan “pahlawan” itu menyentak mata batin kita. Saat-saat angka covid-19 kian naik, banyak tenaga kesehatan yang gugur dalam upaya pelayanannya. Sementara semua orang belum tahu pandemi kapan akan berakhir, artinya kita masih banyak membutuhkan tenaga kesehatan.
Sejatinya, siapapun yang berjuang demi kesejahteraan bangsa dan negara berhak disebut pahlawan. Oleh karena itu, menurut saya semua tenaga kerja kesehatan berhak disebut sebagai pahlawan. Karena setiap hari mereka harus mempertaruhkan nyawa
untuk mencoba menyelamatkan nyawa orang lain. Dengan terus meningkatnya pasien yang sakit, staf medis pun terpaksa harus bekerja lebih keras untuk menangani masalah. Karena ini, kadang mereka tidak sempat untuk istirahat ataupun tidur. Padahal jika orang kekurangan tidur, bisa menurunkan kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan timbulnya penyakit. Namun, walaupun lelah, tetapi tenaga kesehatan terus bekerja menangani pasien Covid-19 yang banyak. Mereka berjibaku melawan virus yang mudah menyerang. Walaupun mereka sudah divaksinasi pun, tetap bisa terkena Covid-19.
Bahkan, dalam skenario terburuk, ada peluang tinggi mereka meninggal. Sekarang saja sudah banyak petugas kesehatan yang wafat, berguguran saat menjalankan tugasnya tersebut.
Pahlawan kemanusiaan yang kedua menurut saya adalah tukang gali kubur. Tukang gali kubur selama masa pandemi tidak dapat dipandang sebelah mata karena mereka bekerja siang dan malam untuk membantu pemerintah mengurus jenazah korban covid-19 bahkan banyak tukang gali kubur yang meninggal akbat corona virus. Dari beberapa laman berita juga banyak dikabarkan bahwa profesi ini adalah profesi yang paling berat saat covid sedang naik- naiknya. Di awal masa pandemi, tukang-tukang gali kubur harus melakukan penyesuaian terhadap prosedur pemakaman yang baru. Selain balok dan tambang yang sudah biasa digunakannya, pada masa pandemi Covid-19 Saun menambah satu buah perlengkapan saat memakamkan jenazah, yakni alat pelindung diri (APD). Menurut penuturan salah satu tukang gali kubur, menggali kuburan dengan menggunakan APD sangat tidak nyaman karena APD itu panas, apalagi saat menggali pada siang hari jadi sedari pagi para penggali kubur sudah siap dengan APD nya dan dilarang untuk dilepas. Pada pagi pun sebelum penggali siap, ambulans sudah berjejer dan akan terus datang. Pulang larut malam juga menjadi santapannya setiap hari seperti hingga pukul sebelas malam masih ada jenazah yang harus dikuburkan. erkadang, jenazah pun tak datang tepat pada jadwal yang telah ditentukan, sehingga ia dan rekan- rekannya harus menunggu. Itulah beberapa opini saya mengenai pahlawan kemanusiaan di masa pandemi.
