ManifesT, Jumat, (09/15/2022) – “Akhirnya, aku hanya bilang syarat pernikahanku: “Aku tidak mau hidup dalam sangkar emas. Aku tetap mau menjadi diriku sendiri meskipun sudah menikah.” Matamu bersinar dan senyum lebar. “Tentu saja. Lek entuk mencolot tak lakoni. Kalau boleh meloncat, aku akan melakukan!”” -Suciwati dalam buku ‘Mencintai Munir’-
Fakultas Hukum Universitas Brawijaya bersama dengan Museum Hak Asasi Manusia Munir mengadakan diskusi dan bedah buku ‘Mencintai Munir’ karya Suciwati, Istri Munir Said Thalib. Kegiatan ini dilaksanakan di UB Coffee dan diisi oleh tiga pembicara yaitu Suciwati selaku Istri Munir Said Thalib sekaligus Penulis Buku ‘Mencintai Munir’, Al Araf selaku Peneliti Senior Imparsial, dan Yusri Fajar selaku Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.
Suciwati mengatakan bahwa poin utama dibuatnya buku ini adalah untuk memberikan cerita tentang Munir sebagai aktivis, suami, dan ayah secara utuh dan lengkap kepada masyarakat umum. Mengenai hidupnya, kesederhanaannya, integritasnya, dan komitmennya.
“Yang selama ini dibangun oleh pelaku kan fitnah-fitnah dan disinformasi yang terus-menerus dilakukan oleh para pelaku bahwa dia (Munir) antek asing, mendapatkan dana dari luar negeri, dan lain sebagainya. Di buku ini kita bisa melihat seperti apa dia hidup, bagaimana dia bekerja, bagaimana dia berjuang,” kata Suciwati.
Lebih lanjut, Suciwati mengatakan alasan lain yang melatarbelakangi pembuatan buku ini yaitu untuk memberikan pesan dan pemberitahuan kepada generasi masa kini mengenai cerita sulitnya hidup di ruang otoritarianisme dan di dalam negara yang penuh ancaman.
“Bagaimana hari ini kita bisa mendapatkan demokrasi, bagaimana kita bisa bebas berpendapat hari ini, itu menurut saya penting untuk diberitahukan kepada anak-anak muda hari ini dan bagaimana bisa memperjuangkan demokrasi ini agar tidak kemudian menginjak-nginjak hak asasi manusia,” ungkap Suciwati.
Suciwati berharap buku ini dapat menjadi alasan terbentuknya anak-anak atau aktivis yang berintegritas serta selalu berpihak kepada korban dan orang yang tertindas. Ia juga menegaskan jangan mudah terbawa oleh arus yang menyesatkan dan iming-iming kekuasaan.
“Hal itu memang tidak dapat dihindari, tetapi penting untuk membangun integritas dan rekam jejak lebih baik untuk kedepannya yang apabila kemudian pada suatu hari kita sebagai anak-anak muda menggantikan untuk memimpin ke arah yang lebih baik,” tutup Suciwati
Penulis : Alfian Akbareldi
Editor : Tazkiya Lidya Alamri
Pimpinan Redaksi: Trian Marfiansyah

