Salah satu pemandangan yang kerap dilihat setelah pelaksanaan ujian tugas akhir ataupun wisuda adalah merayakannya dengan foto bersama teman-teman atau keluarga. Umumnya foto-foto itu akan dilakukan di spot-spot kampus yang menarik sebagai latar belakang foto (background).
Di Universitas Brawijaya, salah satu spot yang sering menjadi tempat bagi mahasiswa selepas ujian tugas akhir dan wisuda adalah taman dan lapangan Rektorat atau yang biasa disebut laprek. Tidak jarang, hampir setiap minggu atau bahkan setiap hari terlihat ada beberapa mahasiswa beserta teman-temannya yang pasca ujian tugas akhir berfoto ria untuk merayakannya di area Rektorat. Belum lagi akan sangat ramai pada hari dilaksanakannya wisuda. Biasanya perayaan seperti itu mahasiswa akan membawa karangan bunga, snack, ataupun poster (banner) untuk keperluan foto-foto.
Pemandangan perayaan semacam itu tidak hanya terjadi pasca perayaan ujian tugas akhir saja, karena pasca prosesi wisuda situasi di taman depan Rektorat menjadi sangat ramai dibanding biasanya. Belum lagi setiap tahun saat musim pembagian jas almamater bagi mahasiswa baru, area taman dan lapangan rektorat tentu akan dipenuhi oleh mahasiswa untuk mengabadikan foto bersama teman-temannya yang tidak sedikit.
Tidak adanya pagar pembatas di area taman depan rektorat, tidak adanya papan pemberitahuan yang berisikan larangan untuk berfoto-foto di area taman, serta minimnya kesadaran mahasiswa untuk tidak menginjak-injak area taman Rektorat menjadi faktor penyebab beberapa tanaman disitu menjadi rusak.
Belum lagi, setelah perayaan di area taman dan lapangan Rektorat sudah selesai akan dijumpai sampah-sampah yang ditinggalkan begitu saja. Misalnya seperti botol plastik, potongan buket, plastik, kertas, dan masih banyak lagi. Minimnya kepedulian mahasiswa dalam menjaga keindahan taman dan kebersihan lingkungan tentu menimbulkan permasalahan tersendiri bagi lingkungan di dalam kampus.
Meski dalam beberapa perayaan mahasiswa yang dilakukan di taman Rektorat tidak menimbulkan kerusakan yang terlalu parah, akan tetapi apabila perayaan tersebut dilakukan secara terus menerus dikhawatirkan dapat mengakibatkan rusaknya tanaman serta meninggalkan sampah yang berserakan, hal tersebut tentunya akan menjadi seremoni yang buruk terhadap terjaganya lingkungan.
Salah satu mahasiswa yang juga turut merayakan perayaan di dalam kawasan taman rektorat menganggap menginjak rumput bukanlah masalah besar asalkan tanaman-tanamannya tidak dirusak.
“Mungkin kalau memang tamannya gak boleh diinjak lebih baik dikasih tanda, karena ini gak ada tanda jadi (mahasiswa-mahasiswa) pada gak tau. Dan seharusnya itu sudah jadi kesadaran mahasiswa sendiri, misal kalau mau foto boleh aja asalkan jangan ninggalin bekas sampah,” ujar mahasiswa yang diwawancara ManifesT yang tidak ingin disebutkan namanya.
Menurut pemantauan Tim ManifesT, di area taman rektorat memang tidak ada plang berisikan larangan untuk menginjak rumput dan memasuki area taman rektorat. Alhasil akan sering menjumpai mahasiswa yang bolak-balik berfoto ria di area taman Rektorat tanpa mengindahkan tanaman yang ada di dalamnya.
Alangkah lebih baik bila dari pihak kampus membuat aturan konkret dan resmi, yang dapat dilihat oleh seluruh mahasiswa maupun pengunjung. Dengan adanya aturan yang lebih tegas dan jelas, diharapkan mahasiswa akan lebih mematuhi larangan berfoto dan meninggalkan sampah di area taman dan lapangan Rektorat. Selain itu, peraturan yang konsisten diharapkan dapat meningkatkan keamanan, menjaga ketertiban, dan merawat kebersihan di area tersebut.
Semoga kejadian ini menjadi evaluasi bagi pihak pengelola taman dan lebih tegas dalam melarang perayaan mahasiswa yang merusak taman dan meninggalkan sampah. Termasuk juga bagi mahasiswa Universitas Brawijaya agar lebih bertanggungjawab dan memiliki kesadaran bagi yang ingin merayakan pasca ujian tugas akhir maupun wisuda supaya lebih bijak tidak merusak area taman, dimanapun taman atau spot-spot itu berada.
(ebs/di)

