Oleh: Redaksi
Kota Malang dikenal dengan kota yang indah, sejuk, dan menyimpan banyak kenangan manis. Begitulah yang sekiranya banyak dibayangkan oleh warga pendatang. Tetapi di balik itu semua, Kota Malang adalah kota yang memiliki sarana prasarana publik dengan kualitas buruk. Misalnya saja kondisi gorong-gorong yang sempit sehingga mudah mengakibatkan banjir, kabel listrik yang sumruwet alias tidak tertata rapi, penerangan jalan yang minim, hingga masalah kondisi trotoar yang sangat tidak ramah pejalan kaki.
Selama ini permasalahan sarana prasarana yang ada di Kota Malang memang tidak henti-hentinya dikeluhkan oleh masyarakat, termasuk trotoar. Kondisi infrastruktur trotoar yang tidak layak sangat mudah dijumpai di Kota Malang. Bahkan dapat dipastikan sebagian besar trotoar di Kota Malang memang tidak layak, alias dalam kondisi buruk.
Ketidaklayakan trotoar di Kota Malang bentuknya beragam. Ada trotoar yang sangat sempit sehingga tidak bisa menampung banyak pejalan kaki, trotoar dengan kondisi paving block yang tidak rata, trotoar tidak ramah penyandang disabilitas karena tidak ada guiding block, hingga trotoar yang justru menjadi lahan parkir kendaraan motor, mobil, serta menjadi tempat jualan para PKL. Kondisi semacam itu tentu sangat merugikan hak para pejalan kaki.
Kualitas trotoar yang rapi hanya mungkin ditemui di jalan-jalan besar seperti di Jalan Idjen, Jalan Veteran, Jalan Kawi, jalan Merapi, dan kawasan Kajoetangan Heritage. Selebihnya hanyalah trotoar yang tidak sesuai standar dan tidak layak pakai. Bahkan sebagian besar trotoar di Kota Malang tidak memiliki fungsi layaknya trotoar untuk memenuhi keperluan pejalan kaki secara memadai.
Ironisnya masih banyak trotoar yang membahayakan para pejalan kaki. Misalnya saja trotoar yang tidak jauh dari pusat kota seperti di Jalan Sigura-gura, Jalan Sumbersari, Jalan Sunan Kali Jaga, dan Jalan Bendungan Sutami. Jalan-jalan tersebut kondisi trotoarnya sangatlah memprihatinkan. Kondisi trotoar sangat sempit, ditambah lagi kondisi paving block yang tidak rata dan justru dapat membahayakan pejalan kaki. Apabila ada orang yang melewati jalan-jalan tersebut, umumnya bukan trotoar yang digunakan, melainkan bahu jalan raya yang berpotensi besar gampang tersenggol kendaraan. Apabila di daerah dekat pusat kota saja kualitas trotoarnya jelek, lantas bagaimana kondisi trotoar di daerah lain yang jauh dari pusat kota dan dekat dengan daerah permukiman padat penduduk?
Selama ini Pemerintah Kota Malang memang tidak memiliki perhatian serius dalam mengelola, memperbaiki, dan mengembangkan kualitas trotoar yang baik. Justru Pemkot Malang hanya fokus membangun kawasan Kajoetangan Heritage. Terlalu fokusnya membangun kawasan Kajoetangan Heritage itulah yang menjadikan Pemkot abai terhadap pembangunan kawasan-kawasan lain yang semestinya harus diprioritaskan. Pemkot hanya cenderung memoles tata kota di kawasan yang sebetulnya tidak urgen untuk di tata. Hal itu merupakan akibat dari tidak adanya blueprint tata kota yang berjangka panjang dan tidak memperhatikan aspek manfaat pembangunan yang semestinya harus dirasakan warga Kota Malang.
Trotoar yang rusak bukanlah permasalahan sederhana, karena ini menyangkut hak para pejalan kaki yang mestinya dipenuhi pemerintah. Padahal di era perubahan iklim yang semakin parah harusnya Pemkot mendorong warga Kota Malang supaya mobilitasnya lebih memilih berjalan kaki di trotoar. Kemungkinan besar, buruknya kualitas trotoar adalah faktor terbesar mengapa jumlah pejalan kaki di Kota Malang tidak menjadi pilihan yang menarik.
Sudah saatnya, di tahun 2024, pembangunan trotoar harus menjadi prioritas pembangunan. Sudah saatnya pula trotoar dimanfaatkan sebagai infrastruktur kota yang memberikan sejumlah manfaat penting. Di satu sisi menyehatkan para pejalan kaki, di sisi lainnya mengurangi jumlah transportasi pribadi, dan yang pasti adalah dampak kesehatan yang bisa dirasakan oleh warga yang berjalan kaki.
Pembangunan trotoar haruslah dilakukan secara merata di segala penjuru Kota Malang, tanpa terkecuali. Utamanya pembangunan trotoar yang harus diprioritaskan adalah yang berada tepat di sebelah jalan raya besar, yang sering digunakan oleh warga Kota Malang. Membangun trotoar bukan asal membangunpekerjaan biasa, tetapi membangun trotoar harus benar-benar memberikan daya guna dan hasil guna secara berkesinambungan. Untuk saat ini yang paling penting adalah memberikan akses kemudahan bagi pejalan kaki (termasuk penyandang disabilitas) untuk dapat memanfaatkan trotoar sebagai infrastruktur yang aman, nyaman, dan tentunya memadai.

