- Identitas Buku
- Judul buku: Namaku Alam
- Pengarang: Leila. S. Chudori
- Penerbit: PT. Gramedia
- Tahun terbit: 2023
- Jumlah halaman:438
- Nomor ISBN: 978-623-134-082-5
- Sinopsis Buku:
Buku “Namaku Alam” adalah sebuah spin off dari novel “Pulang” yang ditulis oleh Leila. S. Chudori. Novel ini menceritakan tentang kehidupan Segara Alam, karakter utama dari novel ini. Segara Alam merupakan anak dari sebuah tahanan politik. Hal ini membuat hidupnya dihantui oleh sosok bapaknya yang telah dibunuh dan dianggap sebagai pengkhianat negara.
Kisah ini diawali dengan pengenalan karakter utamanya yang mempunyai kelebihan, photographic memory. Sebuah kemampuan yang membuatnya dapat mengingat semua hal dengan jelas. Kemampuan tersebut membuat Alam mengingat hal-hal yang traumatis dan dianggap sebagai kutukan olehnya.
Sejak kecil, Alam berteman dengan Bimo dan dekat juga dengan ‘Om Aji’. Sosok ayah yang tidak dimiliki oleh mereka. Alam tidak pernah bertemu dengan bapaknya hingga akhir hidupnya dan bapaknya Bimo dieksil ke luar negeri karena dituduh memiliki keterlibatan dengan gerakan komunis. Kesamaan dari nasib keluarga mereka mempererat hubungan mereka.
Sejarah menjadi minat Alam karena alasan personalnya yang menjadi bagian dari naskah sejarah yang berusaha dimusnahkan oleh pemerintah. Hal tersebut membuat Alam dan sahabat masa kecilnya–Bimo untuk bergabung dengan ekstrakulikuler ‘Para Pencatat Sejarah’ di SMA mereka. Ekstrakulikuler ini mempunyai visi untuk belajar dan mencatat seluruh sejarah, termasuk yang tidak diakui oleh pemerintah pada masa itu.
Novel ini berlatar pasca tahun 1965 yang juga menceritakan kisah masa kecil Alam dan Bimo yang di bully oleh pihak eksternal maupun internal yang disebabkan oleh label keluarganya yang merupakan ‘keluarga tapol’. Selain membahas sejarah, penulis juga menyinggung isu-isu perempuan. Seperti menunjukkan sosok-sosok yang kuat. Salah satunya adalah Surti, ibu Alam yang berjuang untuk membesarkan Alam dan kedua kakaknya walaupun direndahkan oleh aparat-aparat negara dan terpaksa ditinggal oleh suaminya–Hananto yang kabur karena diburu pemerintah. Sedangkan kedua kakak Alam, Kenanga dan Bulan juga mempunyai peran yang besar dalam perkembangannya. Hadir juga Dara Ariana, sosok perempuan yang membuat Alam jatuh cinta karena ia mempunyai karakter yang tangguh.
- Kelebihan Buku dan Kekurangan Buku:
Novel “Namaku Alam” karya Leila S. Chudori memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihan karya ini adalah kemampuan penulis dalam menarik perhatian para pembaca terhadap kebrutalan zaman, khususnya terkait masa Orde Baru dengan menyajikannya melalui pengenalan kemampuan photographic memory yang dimiliki oleh karakter utama dalam ceritanya sehingga penyajiannya menjadi lebih unik. Penulis juga berhasil mengenalkan pembaca pada konsep-konsep sejarah baru dan mendorong mereka untuk mengenalnya lebih dalam. Novel ini berhasil menyampaikan permasalahan dan kondisi yang dialami tokoh utama, Segara Alam, akibat kepergian bapaknya. Pembaca dapat memposisikan diri mereka saat membacanya.
Di sisi lain, novel ini juga mempunyai beberapa kekurangan. Penyajian narasinya kurang berimbang dan hanya berfokus pada satu pihak antagonis. Sehingga dianggap sebagai penyebab utama eksklusi (proses atau tindakan mengeluarkan atau mengecualikan seseorang atau kelompok dari suatu keanggotaan, hak, atau partisipasi dalam suatu komunitas atau kegiatan tertentu) sosial yang dialami oleh karakter utama setiap terjadinya konflik. Selanjutnya peristiwa-peristiwa penting seperti pelarangan buku dan perburuan buku hanya disebutkan secara singkat dan tidak dijelaskan lebih lanjut. Meski penulis berhasil melontarkan pertanyaan-pertanyaan penting terkait peristiwa G30S dan dampaknya terhadap masyarakat, tetapi masih ada beberapa aspek yang belum digali secara mendalam oleh penulis dan laju ceritanya cenderung slow paced jika dibandingkan dengan dua karya sebelumnya.
- Kesimpulan:
Menurut saya, penulis sudah bisa menggambarkan kondisi sejarah yang kejam pada masa itu dan mampu membuat para pembacanya tertarik. Terutama, buku ini dapat membuka mata para pembaca dari berbagai generasi akan kejamnya pemerintah untuk membungkam kejahatannya. Penulis mengajak para pembaca untuk sadar akan pentingnya perjalanan zaman, perubahan sosial, dan luasnya politik pada masa Orba Baru. Buku ini mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tentang fakta, tetapi juga tentang bagaimana kita dapat memahaminya dan mengambil pelajarannya. Dengan gaya penulisan yang tajam dan puitis, “Namaku Alam” mengajak kita untuk melihat masa lalu dengan lebih kritis dan bijaksana.
Oleh: Fikra Anaya (Manifestor 2023)

