Dunia telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang. Namun, ketidaksetaraan dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan layanan dasar lainnya masih menjadi masalah serius di banyak negara. Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, ketimpangan sosial meningkat lebih cepat di Indonesia selama dua dekade. Pada kuliah tamu tahun 2021, Bambang Widianto, Deputi Sekretaris Wakil Presiden, menyatakan bahwa Indonesia adalah negara keempat paling timpang di dunia (Zebua et al. 2023). Seiring dengan fakta tersebut, timbul harapan bahwa teknologi dapat mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi. Akan tetapi, apakah harapan ini akan benar- benar terwujud atau hanya sekedar harapan semata?
Saat ini, kemajuan teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat. Dampaknya pun berubah-ubah sesuai dengan tingkat kecanggihannya. Akibatnya, internet tanpa batas sekarang memungkinkan semua informasi dan peristiwa dunia langsung tersebar (Suci et al. 2018). Peran teknologi dalam mengurangi ketimpangan sosial telah menjadi subjek diskusi yang hangat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam beberapa penelitian dan analisis, teknologi dianggap memiliki potensi besar dalam mengurangi ketimpangan, terutama jika dikelola dan dimanfaatkan secara merata. Akan tetapi, pada sisi lain, apabila terjadi kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi tersebut maka akan menyebabkan ketimpangan sosial yang lebih parah.
Teknologi memang memiliki potensi yang besar untuk mengatasi ketimpangan sosial yang ada dalam beberapa cara. Pertama, saat ini internet dan perangkat digital dapat diakses dengan mudah. Hal ini dapat memudahkan masyarakat untuk membuka peluang pendidikan yang luas, melalui kursus online, platform edukatif yang mudah diakses, dan materi pendidikan gratis.
Kedua, aplikasi teknologi kesehatan dapat memberikan layanan medis ke seluruh daerah, bahkan daerah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau. Contohnya, aplikasi telemedicine atau yang biasa kita kenal dalam kehidupan sehari-hari kita, yaitu aplikasi Alodokter. Aplikasi ini dapat memungkinkan membantu pasien yang berada di daerah terpencil untuk berkonsultasi dengan dokter tanpa harus bertatap muka atau melakukan perjalanan yang jauh. Selain itu hadirnya telemedicine ini juga memudahkan masyarakat dengan berbagai latar belakang ekonomi karena harganya yang lebih terjangkau.
Ketiga, teknologi juga dapat membantu masyarakat untuk memulai usaha secara online dan mengakses pasar yang lebih luas. Platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan Tiktok Shop telah membantu banyak masyarakat yang memiliki Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menjual produknya secara online dan menjangkau pelanggan yang lebih luas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membuka lapangan kerja yang baru.
Potensi teknologi dalam mengurangi ketimpangan sosial sangat besar, tetapi dalam penerapannya timbul tantangan dan hambatan. Yaitu adanya kesenjangan digital. Meskipun akses internet telah meluas, tetapi masih banyak daerah, terutama di pedesaan dan di daerah terpencil yang belum terjangkau oleh jaringan internet yang memadai. Selain itu, harga perangkat digital yang relatif mahal juga menjadi salah satu hambatan bagi banyak orang untuk mengakses teknologi.
Tidak hanya itu, literasi digital yang rendah juga menjadi masalah bagi beberapa masyarakat. Banyak orang yang memiliki akses teknologi, tetapi tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk memanfaatkannya secara optimal. Program pelatihan dan pendidikan literasi digital sangat diperlukan untuk memastikan bahwa semua orang dapat menggunakan teknologi dengan efektif. Yang terakhir, risiko keamanan dan privasi data. Dalam era digital, data pribadi menjadi aset yang sangat berharga. Banyak orang, terutama dari kelompok rentan, mungkin tidak menyadari risiko yang terkait dengan privasi data mereka. Keamanan siber harus ditingkatkan untuk melindungi pengguna dari penipuan, pencurian identitas, dan penyalahgunaan data.
Berbagai contoh masalah yang terjadi dapat ditemukan di Desa Bukur, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Dalam menghadapi era digitalisasi, penggunaan teknologi pertanian telah menjadi hal yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam sektor pertanian. Namun, di sisi lain perkembangan teknologi pertanian yang pesat mengharuskan masyarakat Desa Bukur memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi tersebut. Akan tetapi, tidak semua masyarakat desa memiliki akses dan kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Hal ini dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah dan institusi terkait dapat memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat desa tentang penggunaan teknologi pertanian. Hal ini dapat dilakukan melalui program pelatihan dan workshop yang diadakan oleh pemerintah setempat dan lembaga non-pemerintah seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan swasta (Maulida, Muryani, and Faristiana 2023) .
Selain itu, pendidikan literasi digital harus menjadi prioritas. Program pelatihan harus disediakan untuk semua kelompok usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Sehingga dapat dipastikan bahwa semua orang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menggunakan teknologi secara efektif. Organisasi non-pemerintah (LSM) dan komunitas lokal juga dapat memainkan peran penting dalam memberikan pendidikan literasi digital.
Maka dari itu, untuk memastikan teknologi benar-benar dapat mengurangi ketimpangan sosial, perlu ada kebijakan dan program yang mendukung. Pemerintah harus berinvestasi dalam infrastruktur digital, seperti memperluas jaringan internet ke daerah-daerah terpencil dan menyediakan akses internet gratis atau murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Tidak hanya itu, pemerintah dan institusi terkait juga tidak boleh bersikap apatis dan membantu persoalan masyarakat tersebut, seperti dengan memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai penggunaan teknologi.
Harapan bahwa teknologi dapat mengurangi ketimpangan sosial adalah valid, tetapi upaya nyata dan komitmen dari berbagai pihak diperlukan untuk mewujudkannya menjadi realita. Dengan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, kita dapat membangun masa depan yang lebih adil dan merata bagi semua.
Oleh : Zalfa Abdillah (Manifestor 2023)
DAFTAR PUSTAKA
KEMENKES, “Aplikasi Telemedicine Berpotensi Merevolusi Pelayanan Kesehatan di Indonesia”, https://www.balaibaturaja.litbang.kemkes.go.id/read-aplikasi-telemedicine- berpotensi-merevolusi-pelayanan-kesehatan-di-indonesia, diakses pada 23 Mei 2004
KOMPAS, “Mengenal Berbagai Kemudahan dan Hambatan Akibat Perkembangan Teknologi terhadap Masyarakat Indonesia”, https://biz.kompas.com/read/2021/06/12/150000628/mengenal-berbagai-kemudahan- dan-hambatan-akibat-perkembangan-teknologi-terhadap
Maulida, Putri, Muryani, and Andhita Risko Faristiana. 2023. “Dampak Perkembangan Teknologi Pertanian Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Di Kabupaten Madiun.” Student Scientific Creativity Journal (SSCJ) 1 (4): 349–65.
suci rahayu rais, nurlaila, maik jovial dien, and albert y dien. 2018. “Kemajuan Teknologi Informasi Berdampak Pada Generalisasi Unsur Sosial Budaya Bagi Generasi Milenial.” Jurnal Mozaik 10: 61–71.
Zebua, Selamat, Po Abas Sunarya, Clarosa Canara, and Muhammad Insanahsan. 2023. “Peran Teknologi Kecerdasan Buatan Dalam Upaya Mengentaskan Ketimpangan Sosial Di Indonesia.” Jmari 4 (2): 154–64. https://doi.org/10.33050/jmari.v4i2.2961.
