Malang, ManifesT-Pada Senin (18/11) Universitas Brawijaya mengadakan Debat Terbuka Calon Presiden dan Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (Capres dan Cawapres EM UB) sebagai bagian dari rangkaian acara Pemira UB 2024 di Gedung Widyaloka. Pemira sendiri adalah akronim dari Pemilihan Mahasiswa Raya, yakni kegiatan pemilihan umum dengan cakupan universitas yang dilaksanakan di lingkungan kampus. Pemira menjadi ajang regenerasi kepemimpinan untuk memilih ketua dan calon ketua eksekutif mahasiswa kampus serta perwakilan dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) skala universitas.
Debat terbuka Pemira 2024 terdapat 7 segmen dan 3 mosi debat yang diberikan kepada pasangan Capres dan Cawapres EM UB. Mosi yang pertama adalah “Mahasiswa sebagai penggerak utama dalam mewujudkan visi UB menjadi universitas yang unggul di tingkat internasional melalui kontribusi aktif di bidang akademik dan non akademik”. Kemudian mosi yang kedua adalah “EM UB sebagai pelindung hak kebebasan berpendapat mahasiswa untuk membangun budaya kritis yang konstruktif”. Mosi ketiga adalah “EM UB sebagai fasilitator kolaborasi internasional dan akses mahasiswa ke peluang global”.
Pada Pemira tahun ini dimeriahkan oleh beberapa pasangan calon (paslon). Paslon nomor urut 01 adalah Azka Rasyad Alfatdi (FH) & Muhammad Ghifari Aulia (FISIP), paslon nomor urut 02 ialah Yusuf Yusniar (FT) & Nashwa Salsabilla (FISIP), dan paslon nomor urut 03 yaitu Satria Anugra Pratama (FP) & Nazwan Rizqi (FAPET). Ketiga paslon tersebut aktif dalam memberikan jawaban serta memberikan gambaran terkait visi dan misi yang akan mereka berikan untuk mahasiswa Universitas Brawijaya.
Di dalam debat terbuka ini, paslon 01 menjawab pertanyaan mosi pertama “Langkah yang paling konkret adalah adanya kolaborasi dengan pihak lembaga terkait yang ada di rektorat agar terciptanya pemenuhan yang diharapkan. Peningkatan keaktifan mahasiswa dalam lingkup global maka, EM sudah seharusnya menjadi fasilitator dan aksesor, bukan tabulator karena semua fakultas bisa melakukan tabulasi. Kemudian, langkah yang menunjang adalah bagaimana sinergitas antara direktorat dengan IKA UB untuk mewujudkan atau mendorong peluang kepada mahasiswa UB dalam pembangunan mutu mahasiswa. Terdapat peranan juga oleh International Office UB yang kemudian harus didistribusikan secara tepat dan cepat kepada IRO yang ada di setiap fakultas”.
Rangkaian debat dilanjutkan dengan pembacaan tema kedua dengan mosi “EM UB sebagai Pelindung Hak Kebebasan Berpendapat Mahasiswa untuk Membangun Budaya Kritis yang Konstruktif”. Pertanyaan pertama untuk paslon 03 tentang “Bagaimana pasangan calon akan memastikan hak mahasiswa untuk berpendapat tetap dilindungi dan bagaimana mereka akan menangani situasi dimana kritik perlu direspons secara konstruktif?”.
Paslon 03 menjawab “Hari ini kami sepakat bahwasanya kebebasan berpendapat harus tetap ditegakkan di lingkungan Universitas Brawijaya karena itu adalah hak dari mahasiswa untuk bisa berbicara. Sejalan dengan hal ini, kami telah membuat program-program kerja yang bernama Teman Privasi Brawijaya. Program ini menjadi salah satu bentuk komitmen kami untuk membuka pintu mahasiswa Universitas Brawijaya dengan mengumpulkan aspirasi, keluh kesah, dan permasalahan yang dimiliki oleh mahasiswa Universitas Brawijaya ke dalam satu pintu yang namanya Teman Privasi Brawijaya. Yang mana program ini akan berupaya untuk memberikan pendampingan dan kolaborasi dengan stakeholder terkait. Kami memastikan bahwa program ini dapat diakses oleh seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya. Selain itu kami pasangan calon 03 juga menghadirkan program inovasi bernama Safari Lembaga yang harapannya dapat mentabulasi segala permasalahan yang ada di fakultas, UKM, dan forum daerah yang nantinya akan disampaikan ke rektorat”.
Pada tema terakhir dengan mosi “EM UB sebagai fasilitator kolaborasi internasional dan akses mahasiswa ke peluang global.” pertanyaan pertama diberikan kepada paslon nomor 02 terkait dengan langkah-langkah yang dapat diambil pasangan calon untuk mendukung mahasiswa dalam memperoleh pengalaman global dan bagaimana mereka akan memfasilitasi adaptasi serta kesiapan mahasiswa yang akan berkarir di luar negeri.
Paslon 02 menjelaskan “Kami banyak mendukung mahasiswa melalui IISMA atau program-program pembelajaran di luar negeri. Di sisi lain, kami membawa program kerja kami yaitu Brawijaya Data Analyst Bootcamp dan Business Multichannel Bootcamp. Dimana jika ingin bekerja di tingkat internasional memerlukan skill yang memang harus dipenuhi oleh mahasiswa. Dengan program kerja ini, mahasiswa bisa mendapatkan kemampuan akademik maupun non-akademik yang siap untuk berkancah di tingkat internasional. Dengan adanya validasi melalui melalui sertifikasi di Brawijaya Data Analyst Boot Camp dan persaingan di dunia kerja melalui Business Multichannel Bootcamp yang terus menerus berkembang dari tahun ke tahun”.
Saat sesi closing statement, pasangan calon 01 mengatakan, mereka berharap seluruh rekan-rekan civitas academica sama-sama bahu membahu membangun Universitas Brawijaya yang tidak hanya dalam infrastruktur akan tetapi bagaimana kemudian dapat mandiri dapat menentukan arah kehidupan pasca perkuliahan “UB untuk kita dan kita untuk UB. Itu yang harus kita tanamkan” dan terakhir yang mereka tegaskan bahwa “Kemampuan seseorang dilihat bukan hanya janji-janjinya saja akan tetapi bisa dilihat dari track recordnya”
Pasangan calon 02 memberikan closing statement, mereka bangga karena sudah dapat memberikan afirmasi positif dan kesetaraan ekuitas cendekia itu sendiri. “Ekuitas cendekia itu memiliki arti kesetaraan dengan balok dan seragam yang disesuaikan oleh kualitas mahasiswa itu sendiri”.
Paslon 03 pada closing statement mengatakan bahwa mereka memiliki satu tujuan yang terbaik untuk UB, Malang bahkan Indonesia. Paslon 03 menegaskan mereka mempunyai visi dan misi bahkan program kerja yang akan mengakomodir semua mahasiswa Universitas Brawijaya tanpa adanya diskriminasi. “Perjuangan bukanlah proses pemaksaan diri untuk mencapai tujuan tetapi, perjuangan merupakan pemantasan diri untuk mencapai tujuan”.
Penulis: Yusticia Ayuning, M. Riyan, Chika Rahma, Fara Izza
Editor: Raynaldy Aulia Mahendra
Pimpinan Redaksi: Marvella Nursyah Putr

