Site icon LPM MANIFEST

Resensi Buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”

  1. Identitas Buku

Judul Buku: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Pengarang: Mark Manson

Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Tahun Terbit: 2018

Jumlah Halaman: 247 Halaman

Nomor ISBN: 978-602-452-698-6

2. Sinopsis

Buku pengembangan diri ini terdiri dari sembilan bagian yang menyampaikan berbagai pesan melalui analogi, inspirasi dari tokoh terkenal, dan refleksi kehidupan. Buku ini tidak mengajarkan cara menghindari masalah melainkan bagaimana mengubah pengalaman buruk menjadi kekuatan. Salah satu konsep utama dalam buku ini adalah tentang keterbatasan manusia dalam mengontrol segala sesuatu. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang atau mengendalikan semua situasi, tetapi kita bisa memilih hal yang pantas untuk diperhatikan. Dengan kata lain, kita harus belajar untuk lebih selektif dalam memberikan energi kita. 

Bagian pertama dari buku ini mengangkat filosofi “Jangan Berusaha” yang terinspirasi dari batu nisan Charles Bukowski dengan tulisan “Don’t Try.” Bukowski, seorang novelis dan penyair sukses, mencapai ketenarannya bukan karena perubahan drastis menjadi pribadi yang lebih baik, melainkan karena penerimaan dirinya sendiri apa adanya. Pesan dari bagian ini adalah pentingnya memilih hal-hal yang benar-benar berharga dalam hidup.

Bagian kedua membahas konsep bahwa “Kebahagiaan itu Masalah” yang dijelaskan melalui kisah seorang pangeran yang dibesarkan dalam kemewahan tanpa mengenal penderitaan. Namun, ketika ia keluar dari istana dan melihat kenyataan hidup, ia merasa tertipu dan memilih hidup sebagai gelandangan untuk mencari makna sejati. Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa kesuksesan bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang seberapa besar kesulitan yang sanggup kita hadapi. 

Bagian ketiga menyoroti gagasan bahwa “Anda Tidak Istimewa”. Filosofi ini dijelaskan melalui tokoh Jimmy, seseorang yang selalu tampak percaya diri dan optimis, tetapi sebenarnya adalah seorang penipu yang menghidupi keluarganya dengan cara curang. Orang-orang seperti Jimmy sering kali menarik perhatian dan membuat orang lain merasa lebih percaya diri, meskipun tidak memiliki pencapaian yang nyata. Bagian ini menekankan bahwa penghargaan diri bukan berasal dari pengalaman positif semata, melainkan dari bagaimana seseorang menghadapi pengalaman negatifnya. Keunggulan dalam suatu bidang bukan berasal dari keyakinan bahwa seseorang istimewa, melainkan dari obsesi terhadap perbaikan diri yang berkelanjutan.

Bagian keempat mengangkat tema “Nilai Penderitaan” yang dijelaskan melalui kisah nyata Letnan Dua Hiroo Onoda dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Onoda tetap bertahan di Lubang, Filipina, selama 30 tahun setelah Perang Dunia II berakhir karena menganggap pengumuman tersebut hanya sebagai tipu daya. Ketika akhirnya kembali ke Jepang pada tahun 1974, ia menjadi terkenal, tetapi justru mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan saat bertahan hidup di hutan. Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang dapat bertahan dalam kondisi sulit dan dianggap sukses tidak semua orang ingin mengalami penderitaan yang sama karena setiap individu memiliki nilai penderitaan yang berbeda-beda.

Bagian kelima membahas tentang “Anda Selalu Memilih” yang dijelaskan melalui kehidupan William James, seorang filsuf Amerika Serikat. Mark Manson menggunakan pengalaman James saat kuliah di Harvard untuk menggambarkan bahwa dalam hidup bahwa setiap individu selalu dihadapkan pada pilihan yang membentuk perjalanan mereka.

Bagian keenam “Anda Keliru tentang Semua Hal (Tapi, Saya Pun Begitu)” tidak berfokus pada satu subjek tertentu, melainkan mengacu pada berbagai pemikiran dari abad ke-20 dan mengutip filsuf seperti Aristoteles. Meskipun beberapa konsep dalam bagian ini mungkin sulit dipahami, relevansi dengan kehidupan sehari-hari membantu pembaca memahami filosofi yang disampaikan.

Bagian ketujuh “Kegagalan adalah Jalan Untuk Maju” mengambil latar tahun 2007 dan menampilkan perspektif pribadi Mark Manson serta contoh dari Picasso untuk menggambarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju kesuksesan. Dua tahun kemudian, antara 2009-2011, Manson menggunakan pengalamannya sendiri di Rusia untuk menjelaskan filosofi dalam bagian kedelapan “Pentingnya Berkata Tidak”. Dalam bagian ini, ia membagikan kisah pribadinya mengenai pentingnya komitmen terhadap pilihan hidup yang benar-benar bermakna. 

Bagian terakhir, yakni bagian kesembilan, membahas tentang “…Dan Kemudian Anda Mati”, dengan mengacu pada pemikiran Ernest Becker, seorang antropolog yang menulis buku The Denial of Death (Mengingkari Kematian). Becker mengajukan konsep “Proyek Keabadian” yang menggambarkan bahwa nilai-nilai yang kita pegang dalam hidup adalah upaya kita untuk meninggalkan warisan yang bertahan setelah kematian. Pemikiran ini membantu pembaca merenungkan makna hidup dan bagaimana menghadapi keterbatasan manusia.

3. Kelebihan Buku

Buku ini menawarkan sudut pandang yang unik dalam genre pengembangan diri. Alih-alih memberikan motivasi yang klise tentang berpikir positif, Mark Manson justru menekankan pentingnya menerima kenyataan hidup, menghadapi masalah, dan memilih hal-hal yang benar-benar berharga. Salah satu keunggulan utama buku ini adalah gaya penulisannya yang santai, lugas, dan disertai humor. Mark Manson dalam buku ini seperti berbicara dengan pembaca secara langsung, membuat pesan-pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan. 

Selain itu, buku ini juga menarik karena menggunakan berbagai kisah nyata, tokoh terkenal, serta refleksi kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan konsep-konsepnya. Kisah Charles Bukowski, Hiroo Onoda, hingga Ernest Becker memberikan perspektif baru tentang bagaimana menghadapi hidup dengan lebih realistis.

Keunggulan lainnya adalah bagaimana buku ini mengajak pembaca untuk berpikir kritis terhadap konsep kebahagiaan, kegagalan, dan kesuksesan. Mark Manson menekankan bahwa penderitaan dan kegagalan bukanlah hal yang harus dihindari, tetapi bagian alami dari kehidupan yang justru membentuk karakter seseorang. 

Terakhir, sebuah karya buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” juga memiliki bahasa yang sederhana, tetapi dapat menggugah kesadaran pembaca untuk lebih selektif dalam menentukan hal-hal yang patut diperjuangkan dalam hidup. Secara keseluruhan, buku ini sangat cocok bagi mereka yang mencari perspektif baru tentang kehidupan, serta ingin belajar untuk lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna tanpa terbebani oleh ekspektasi berlebihan.

4. Kekurangan Buku

  1. Tidak Selalu Cocok untuk Semua Pembaca

Buku ini lebih cocok bagi orang dewasa dan bagi mereka yang mampu menerima perspektif yang tidak biasa. Pembaca yang baru pertama kali membaca buku pengembangan diri mungkin akan merasa bahwa pesan dalam buku ini sulit dicerna atau bahkan bertentangan dengan pemikiran mereka sebelumnya. Selain itu juga, gaya bahasa dalam buku ini tidak cocok untuk Anak dibawah umur.

  1. Kurangnya Panduan Praktis untuk Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Buku ini lebih banyak menawarkan filosofi hidup daripada langkah-langkah konkret untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca yang mencari buku self-improvement dengan tips yang lebih praktis mungkin akan merasa kurang mendapatkan solusi yang dapat langsung diterapkan.

  1. Kurangnya Struktur yang Jelas 

Meskipun terdiri dari sembilan bagian dengan tema yang berbeda, alur pembahasan dalam buku ini terkadang terasa melompat-lompat. Karena pembaca dibawa ke dalam latar waktu yang berbeda-beda pada tiap bagiannya. Mark Manson menggunakan banyak analogi, cerita, dan referensi dari berbagai tokoh yang mungkin akan membuat beberapa pembaca kebingungan terhadap alur yang dibawakan.

  1. Gaya Bahasa yang Sarkastik

Meskipun gaya penulisan Mark Manson yang santai dan penuh humor menjadi daya tarik, bagi sebagian pembaca, gaya ini bisa terlalu sarkastik. Beberapa mungkin terdengar kasar atau bahkan sinis, sehingga tidak cocok untuk mereka yang lebih menyukai pendekatan yang lebih halus dalam buku pengembangan diri.

Secara keseluruhan, karya Mark Manson yang berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” adalah buku yang menawarkan perspektif baru dalam menghadapi kehidupan, tetapi tidak semua orang akan cocok dengan gaya penulisan dan pendekatan yang digunakan Mark Manson.

5. Kesimpulan

Buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson memberikan sudut pandang yang unik dalam genre pengembangan diri. Berbeda dari buku motivasi pada umumnya yang berfokus pada berpikir positif, buku ini justru menekankan pentingnya menerima kenyataan hidup, menghadapi masalah, dan memilih hal-hal yang benar-benar berharga untuk diperjuangkan. 

Dengan gaya penulisan yang santai, lugas, dan humoris, Manson berhasil menyampaikan konsep-konsep filosofi kehidupan melalui analogi, kisah nyata, dan refleksi dari berbagai tokoh terkenal. Kelebihan utama buku ini adalah kemampuannya menggugah kesadaran pembaca untuk berpikir kritis terhadap konsep kebahagiaan, kegagalan, dan kesuksesan. Buku ini mengajarkan bahwa penderitaan dan kegagalan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagian alami dari kehidupan yang dapat membentuk karakter seseorang. 

Namun, di sisi lain, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti struktur pembahasan yang terkadang terasa melompat-lompat, serta gaya bahasa yang sarkastik yang mungkin tidak cocok untuk semua pembaca. Secara keseluruhan, “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” adalah buku yang cocok bagi mereka yang mencari perspektif baru tentang kehidupan dan ingin belajar untuk lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna. Namun, pendekatan yang digunakan Mark Manson mungkin tidak sesuai bagi pembaca yang lebih menyukai buku self-improvement dengan langkah-langkah konkret atau gaya bahasa yang lebih halus.

Penulis: Muhammad Riyan Ramadhani

Exit mobile version