Site icon LPM MANIFEST

TURANG: Mengulas Kembali Sejarah dan Memperingati Konferensi Asia-Afrika

(Sumber foto : Ira)

Malang, ManifesT — Pemutaran dan diskusi sinema film Turang pada Sabtu (26/04) lalu yang diadakan oleh komunitas membaca Malang, dalam rangka memperingati solidaritas internasional Asia-Afrika disambut hangat oleh berbagai kalangan di Malang. Diskusi film ini dipantik oleh Prof. Dr. Mundi Rahayu, seorang guru besar dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan F.X. Domini BB Hera, seorang sejarawan yang kerap disapa Bung Sisko.

Film Turang (1957) bercerita tentang perjuangan orang-orang dari suku Karo pada masa Revolusi Agustus ’45 di Sumatra Timur. Disutradarai oleh Bachtiar Siagian, film ini mengambil latar di beberapa daerah yang ada di Sumatra Utara.

Pemutaran film Turang ini ditujukan sekaligus sebagai salah satu sarana untuk mengenang konferensi Asia-Afrika yang dirasa semangatnya mulai memudar seiring zaman. Diharapkan, ini bisa menjadi kesempatan bagi anak muda untuk belajar mengenai isu-isu terkait Asia-Afrika.

“Kita ini kan salah satu promotor dari (konferensi) Asia-Afrika, tapi semangat Asia-Afrika ini kita sempet kepotong waktu pasca ’65,” ujar Bung Sisko.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan bahasan oleh Prof. Mundi mengenai ide-ide yang terkandung dalam film tersebut. Menurutnya, film ini berbeda dengan film-film bertemakan perjuangan lainnya yang terlalu menonjolkan dominasi militer. Sebaliknya, film ini berfokus dalam perjuangan dan perlawanan masyarakat, terutama suku Karo.

“Di film itu diperlihatkan bagaimana masyarakat penduduk, orang tua, perempuan, anak-anak. Mereka semua ikut terdampak, mereka ikut berpartisipasi dalam berbagai bentuknya dan kita juga bisa melihat dari film Turang tadi, siapa sih sebenarnya militer itu? tentara itu siapa?” ujarnya lebih lanjut.

Prof. Mundi juga berpendapat bahwa sejarah seringkali hanya mencatat urusan perjuangan, urusan nasionalisme, dan urusan heroisme itu hanya milik tentara saja. Menurutnya, pendekatan sosial dalam film Turang ini seperti membawa angin segar dengan menampilkan peran penting masyarakat dalam Revolusi Agustus 1945.

Bung Sisko dan Prof. Mundi sepakat bahwa kekuatan bercerita, baik melalui film, tulisan, maupun media lain, adalah cara penting untuk membangun kembali kesadaran kolektif bangsa. Menurut Bung Sisko, nilai-nilai ideologi seharusnya tetap dijaga dalam dunia perfilman.

Dalam diskusi film ini, para pemantik berharap anak-anak muda tidak hanya menjadi penonton pasif sejarah, melainkan juga aktif mendokumentasikan narasi perjuangan masyarakat lokal yang selama ini kurang digaungkan.

“Jangan berharap pada PH (production house) besar, itu tidak akan bisa. Karna mereka kan jatuhnya profit ya. Yang harus kita lakukan adalah, kita story telling tentang apapun, mungkin pengalaman keluarga, di desa anda, yang sifatnya bisa di ceritakan dalam berbagai bentuk, salah satunya film, sastra atau tulisan,” tutur Prof. Mundi.

Penulis : Citra Nisful Udqiyah

Editor : Zuchaira Pratiwi Tahir

Pimpinan Redaksi : Raynaldy Aulia Mahendra

Exit mobile version