Site icon LPM MANIFEST

Lampu Kakek

John Ronald Kennedy mempunyai kegemaran untuk mengoleksi barang-barang antik yang menurutnya bernilai dan mempunyai sejarahnya tersendiri, tidak peduli apakah barang tersebut sudah tidak layak untuk dimiliki, jika menurut John ia diharuskan untuk memilikinya maka ia akan mencari cara bagaimana barang tersebut berada di tangannya. 

Didalam pikiran John sejarah harus dikenang untuk dipelajari tetapi sebenarnya ada sejarah yang hanya untuk dikenang saja demi menghindari hal yang tidak baik di kemudian hari. Kebiasaan aneh ini diambil John dari mendiang kakeknya yang secara hidup tidaklah stabil, tetapi bernilai Jeffrey Wilson Kennedy namanya. Entah ada apa keluarga John dengan obsesinya akan nama “Kennedy” sebagai nama akhir, John tidaklah mempunyai suatu hubungan darah dengan Sang Presiden. 

Jeffrey menurunkan sifat aneh dan tidak lazimnya yaitu mengoleksi barang antik yang menurutnya bersejarah, tetapi tidak mengetahui apa dampak yang ia akan dapatkan dari kebiasaan menyimpan barang tersebut, kepada John sejak ia kecil. Jeffrey merupakan mantan tentara pada saat perang dunia kedua yang menurut John sangatlah keren dan patut untuk dijadikan sebagai panutan semasa hidupnya, tetapi pada nyatanya tidak ada yang tau apakah cerita itu benar ataupun hanya karangan Jeffrey untuk membuat cucu satu-satunya menyukai dia. Ia bahkan tidak berusaha untuk membuat anaknya menyukainya. 

Sejak kecil John hidup dengan kakeknya dikarenakan ayahnya yang bekerja dalam usaha perkapalan yang jarang sekali untuk pulang dan menghabiskan waktu dengan keluarga, setidaknya uang untuk membiayai keberlangsungan hidup anaknya tidaklah pernah hilang seperti dirinya. Jeffrey meninggal dikarenakan secara tiba-tiba saat sedang menata koleksi barang antik kesayangannya. Ia pun meninggal dengan keadaan masih menggenggam barang tersebut. Itulah singkat cerita akan sejarah keluarga John yang tidaklah jelas tetapi cukup untuk hidup John yang suka mencari sejarah orang lain ataupun barang demi memenuhi perjalanan hidupnya yang kosong ini. 

Suatu hari John merasa bosan dengan hidupnya yang jika dibilang lambat, sangatlah lambat. Menurut dirinya ia membutuhkan suatu api dan tantangan agar ia merasakan gairah hidup seperti orang pada umumnya, akhirnya setelah menutup buku yang ia sedang kerjakan selama tiga bulan lamanya tanpa keluar rumah, ia menginjakkan kaki pada karpet rajut berwarna coklat luar rumahnya yang sudah kotor ditambah sedikit robek pada bagian ujungnya. Hembusan napas John keluarkan secara kasar dengan niat bahwa semua pikiran yang membuat dirinya kesusahan akan pergi secara bersamaan. 

Dengan senyum tipis yang bertengger di wajah pucatnya, John memulai perjalanan yang tak ia tahu akan mengubah hidupnya secara drastis, selamanya. John memberhentikan dirinya pada suatu toko yang terlihat mati dari jauh, tetapi masih terdapat cahaya kecil untuk menghidupi satu toko kecil tersebut. 

Toko Elend, begitulah yang tertulis pada papan nama toko tersebut. Tidak meyakinkan pikir John, walaupun seperti itu John tetap masuk mengharapkan tantangan yang ia dambakan selama ini. Ia mulai menyusuri setiap petak dari toko tersebut, memperhatikan setiap sudut dan jaring laba-laba yang menyebar. 

“Ada yang bisa saya bantu anak muda?” 

Pertanyaan tersebut mengejutkan John dari konsentrasinya, terlebih lagi suara ibu tua itu tidaklah menenangkan melainkan membuat bulu kuduk John berdiri dengan jantung yang berdegup dengan kencang. 

“Ah, kebetulan saya sedang melihat-lihat saja jika ada yang membuat saya tertarik, saya akan langsung ke meja ibu” jawab John dengan gelisah dan tutur kata yang lambat. Secara tiba-tiba John merasa suhu pada ruangan itu sangat dingin. 

Ibu tua itu mengiyakan jawaban John dengan anggukan kepala, disertai sorot mata yang gelap dan aroma asap pada lilin yang sudah terbakar. Tanpa disadari, keringat John sudah berjatuhan dari pelipis, John memulai kembali pencariannya dengan menginjakkan kaki pada lantai 2 yang gelap. Sebenarnya John tidak yakin apakah lantai ini terbuka untuk umum yang John lihat hanyalah sebuah lampu tua yang berdiri dengan ukiran pohon sakura persis seperti punya kakek John. 

Seharusnya lampu ini bisa menjadi cantik dan bernilai jika dipoles sedikit, pikir John. Terdapat inisial K.W.J pada tiang kayu lampu tersebut. John merasa yakin dengan lampu tua tersebut jika ia tidak mendapatkan tantangan setidaknya ia akan membawa pulang suatu barang yang mungkin berguna untuk rumahnya. John pun turun ke bawah dengan membawa lampu yang menarik perhatiannya. 

“Bu, permisi. Saya mau ini ya. Apakah dijual?” tanya John dengan berhati-hati dan suara yang lembut, ia mencoba dengan sekuat tenaga untuk bersikap sopan dikarenakan John takut sekali dengan penampilan Ibu tua tersebut. 

Ibu tua tersebut tersenyum tipis dan memperhatikan muka John sejenak.

“Tentu, anak muda.” 

John keluar dari toko tersebut dengan senyuman tipis dengan mata yang berbinar dikarenakan perjalanannya pada hari ini membuahkan hasil dan waktu yang John miliki tidaklah terbuang secara sia-sia. John merasa ia akan mempunyai tempat dimana ia akan bisa kembali jika ingin mencari barang antik lagi. 

Tetapi itu sebelum John membalikkan badan dan menyadari bahwa selama ini ia memasuki toko kosong tua yang sudah bangkrut serta ditinggali oleh penghuninya. 

Toko itu telah lenyap. 

“Apa yang terjadi? Dimana ibu tadi?” ucap John dengan panik

Setelah berdiam diri berperang dengan pikirannya sendiri selama satu jam John disadari oleh suara klakson mobil dan motor yang berlalu lalang dengan ramai di belakangnya. John pulang dengan langkah kaki yang lemah dan mata yang sayu. Ia masih tidak percaya apa yang barusan terjadi, ia tidak percaya akan dirinya ataupun pikirannya. 

Sampailah John pada rumahnya, tempat dimana ia bisa beristirahat dan memulai kembali menulis pada bukunya. Sebenarnya apa yang terjadi tadi John masih belum bisa melupakannya, ia terduduk pada sofa kesayangannya dan menatap bungkusan lampu yang ia beli tadi. John beranjak dari duduknya dan membuka bungkusan tersebut, ia menatap sejenak kepada tersebut. 

John mulai mencari dimana sudut yang bagus untuk menyalakan lampu antik yang ia beli tadi, tanpa waktu yang lama John menemukannya. Sudut itu sangatlah bersejarah bagi John, pada sudut itu ia meletakan foto akan kakek dan ayahnya yang sedang tersenyum. Dengan berhati-hati John menyalakan lampunya dan duduk kembali memperhatikannya. Cahaya pada lampu antik itu tidaklah terang melainkan redup dengan nuansa warna kuning, tetapi menurut John disitulah nilai antik dari lampu tersebut. John dengan seksama memperhatikan lampu itu, dengan sadar John merasa gelisah dan kepanasan, ia melepaskan pakaian hangatnya. 

Lampu tersebut berkedip secara cepat membuat John lari mendekati lampu itu dengan panik, ia mematikan aliran listrik dari lampu dan anehnya lampu antik itu masih saja berkedip dengan liar seolah-olah bukan karena listrik tetapi sesuatu yang lain. Tanpa disengaja John menjatuhkannya dan membuat lampu itu pecah berkeping-keping. Kedipan lampu itu membuat kepala John seketika ia merasakan pusing yang begitu hebat sehingga pingsan ditempat.

“Ada yang bisa saya bantu anak muda?” 

Pertanyaan tersebut mengejutkan John dari konsentrasinya, terlebih lagi suara ibu tua itu tidaklah menenangkan melainkan membuat bulu kuduk John berdiri dengan jantung yang berdegup dengan kencang. 

“Ah, kebetulan saya sedang melihat-lihat saja jika ada yang membuat saya tertarik, saya akan langsung ke meja ibu” jawab John dengan gelisah dan tutur kata yang lambat.

“Aroma yang tidak enak itu kembali lagi dan mengapa ruangan ini sangat dingin?” ucap John dengan lirih.

“TUNGGU SEBENTAR”

“Bukankah ini toko kemarin? Mengapa aku bisa kembali disini, aku sudah sampai rumah kemarin dan toko ini kemarin sudah hilang” ucap John dengan keadaan yang panik, ketakutan memakan ujung jarinya dengan ganas sehingga mencapai kepalanya. Ia membuka pintu keluar dengan kencang dan lari ke rumahnya.

Setelah John masuk ia langsung menghampiri lampu tersebut, ia mengotak ngatik pecahan dari lampu itu seperti sedang mencari sesuatu yang apa yang sedang terjadi pada dirinya ataukah ini hanya sebuah ilusi? atau mimpi buruk? pikir John. 

“Mungkin ini tantangan yang kau nanti John” ucap seseorang dengan suara yang berat dan serak seperti suara kakek John yang sudah lama tiada. 

John dengan badan yang gemetar serta muka yang pucat mendongak ke atas dimana sumber dari suara tersebut berasal, yang John lihat bukanlah hal yang normal. Mata John membelalak. Ia melihat foto kakeknya yang dipajang olehnya sedang tersenyum dengan lebar disertai tatapan mata yang kosong dan tulisan kecil samar yang hampir pudar

K. J.W. 

“Kakek?”

Penulis: Syahla Faahilah Radja

Exit mobile version