Site icon LPM MANIFEST

1000 Hari Kanjuruhan Menuntut Pertanggungjawaban

Aksi Kamisan memperingati 1000 hari Tragedi Kanjuruhan (Foto: Ray)

Malang, ManifesT – Aksi Kamisan Malang menggelar Kamisan bertajuk peringatan 1000 hari Tragedi Kanjuruhan pada Kamis (27/06). Aksi yang dilaksanakan di depan Balai Kota Malang, dihadiri oleh para aktivis sambil membentangkan spanduk hitam bertuliskan “Justice for 135+, Abolish The Police”. 

Seluruh rangkaian peringatan terlaksana dengan disertai orasi-orasi menuntut keadilan kolektif bagi para keluarga korban tragedi yang menewaskan 135 orang pada malam pertandingan Arema FC dan Persebaya, 1 Oktober 2022 itu. 

“Bagi kami, tragedi ini menyimpan memori luar biasa, karena soal kekerasan negara terhadap rakyat sipil dan itu ingin terus kita kampanyekan karena sampai hari ini, keadilan belum bisa kita dapatkan,” ucap Fahmi selaku Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Malang. 

Dirinya juga menyampaikan terkait tanggapan negara terhadap tragedi kemanusiaan yang sudah berlangsung investigasi dan sidangnya sejak 2022 akhir ini. Menurutnya, banyak terjadi pembelokan narasi akibat negara yang tidak mau bertanggung jawab.

“Kanjuruhan itu kita semua sudah tahu, penyebabnya adalah penembakan gas air mata, prosedur lapangan yang carut marut dan saya rasa itu bisa dilihat dengan gamblang. Namun tentu kita melihat banyak pembelokan narasi yang terjadi karena negara tidak mau bertanggung jawab,” ungkap Fahmi. 

Tragedi Kanjuruhan terus diangkat dalam agenda pergerakan karena merupakan isu kemanusiaan yang hingga kini belum menemui titik terang dan belum tuntas, khususnya berkaitan dengan terenggutnya hak untuk hidup oleh negara.

“Tragedi kanjuruhan adalah isu kemanusiaan yang sampai hari ini masih belum menemukan titik terang, yang sampai detik ini masih menemukan ketidakpastian, dan sampai hari ini masih belum tuntas. 135 nyawa direnggut oleh oligarki dan tirani sedangkan UUD 1945 mengamanatkan bahwasannya hak untuk hidup adalah hak yang tidak dapat dikurangi sedikit pun,” tegasnya.

Sampai hari ini, Tragedi Kanjuruhan memang belum mencapai penuntasan hukum yang final. Restitusinya juga sering menjadi pertanyaan sejak penyelidikan laporan model B Polres Malang dihentikan pada 8 September 2023. 

Selain aksi vokal, para aktivis juga melaksanakan Pameran Kanjuruhan dengan menampilkan segala bentuk hal fisik yang berkaitan dengan tragedi, seperti ventilasi dari Gate 13, foto APAR yang kadaluarsa saat dipakai dalam kejadian, sampai foto dan baju korban meninggal dunia. Pameran ini bertema “Seharusnya Tak Lega Setiap Laga” yang mengimbau masyarakat dan manajemen klub Arema FC untuk tidak lega begitu saja seolah semua sudah selesai. 

“Kita semua paham kalau tragedi ini adalah catatan merah, khususnya untuk warga Kota Malang, karena 135 nyawa itu adalah teman kita, dan nyawanya tercabut begitu saja, padahal nyawa itu dari Tuhan, dan selayaknya diambil Tuhan lagi, gitu. Saya mendorong seluruh warga Kota Malang untuk bisa mengambil peran sekecil apapun untuk terus mendorong keadilan, karena langkah apapun penting diambil oleh warga,” ucap Fahmi menutup pendapatnya dengan beberapa harapan untuk keberlanjutan kasus Tragedi Kanjuruhan dan pentingnya partisipasi warga Kota Malang. 

Penulis: Akmal Kavin Abdah

Editor: Zuchaira Pratiwi Tahir

Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

Exit mobile version