Malang, ManifesT- KRIMA (Krida Mahasiswa) 3 yang diadakan pada Sabtu (13/09) menghadirkan rangkaian kegiatan guna memperkuat karakter, pengetahuan, sekaligus semangat perjuangan mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Agenda tersebut diisi dengan pemaparan materi, simulasi aksi, hingga orasi yang melibatkan langsung para maba FH UB 2025.
Kegiatan dibuka dengan pemaparan dari I Gede Pasek Suardika selaku advokat dan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI yang membahas mengenai profesi advokat. Ia menekankan peran strategis advokat sebagai penegak hukum yang tidak hanya berfokus pada aspek litigasi, tetapi juga harus menjunjung tinggi nilai etika dan tanggung jawab sosial.
Sorotan utama dalam KRIMA 3 kali ini hadir melalui sesi FH Tangguh. Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM FH UB 2025 tampil memberikan pemaparan materi mengenai tata cara aksi, menekankan bahwa pergerakan mahasiswa harus berlandaskan analisis isu, strategi yang matang, serta etika dalam menyuarakan aspirasi. Sesi ini juga dimeriahkan dengan penampilan khas dari Kastrat yang membangkitkan antusiasme mahasiswa baru.
Momen FH Tangguh semakin menghidupkan suasana saat mahasiswa baru diberi kesempatan bertanya pada sesi tanya jawab setelah pemaparan materi.
“Untuk menunjukkan kekuatan kita sebagai rakyat, untuk menunjukkan dalam demokrasi kekuasaan dimiliki oleh rakyat.” ucap Gery, salah seorang mahasiswa baru.
Sementara itu, Umar, mahasiswa baru lainnya, menegaskan pentingnya aksi sebagai bentuk kontrol terhadap lembaga negara.
“Meskipun secara ideal cuma perlu menyampaikan aspirasi melalui lembaga-lembaga seperti DPR. Tapi lembaga ini sering kali gagal melakukan tugasnya untuk mewakili rakyat. Oleh karena itu dibutuhkan kita turun tangan sendiri menyampaikan aspirasi kita tanpa perwakilan dari lembaga tadi. Kita turun untuk kembali mempergunakan hak demokrasi dan kekuatan kita sebagai rakyat,” ujarnya.
Di kesempatan orasi, salah seorang mahasiswa baru yang juga merupakan seorang difabel ikut menyuarakan orasinya.
“Saya merasa, kita semua mempunyai kesempatan yang sama, jangan pernah memandang kami berbeda, rendah, dan tidak sama seperti yang lainnya. Kita semua setara. Hidup kesetaraan!” pungkasnya tegas.
Di balik acara FH Tangguh, terdapat perubahan skema kegiatan yang awalnya direncanakan berupa long march, berubah menjadi titik orasi di area air mancur kampus, namun kembali diubah lagi menjadi hanya di Ballroom Munir saja. Menanggapi hal itu, Menteri Kastrat BEM FH UB 2025 Putri Aisyah memberikan klarifikasi.
“Jika ditanya kenapa ada perubahan yang awalnya long march nggak jadi, di air mancur nggak jadi, yaitu adalah urusan antara panitia PKKMB. Dari Kastrat sendiri tidak ada ikut andil dalam hal itu,” jelasnya.
Aisyah menambahkan bahwa keputusan pembatalan lokasi orasi di air mancur bukan murni dari Kastrat, melainkan pemberitahuan mendadak dari panitia PKKMB yang berkaitan dengan perizinan.
“Tapi sejujurnya tadi ternyata tiba-tiba dari panitia PKKMB juga memberitahukan bahwa kita sepertinya tidak jadi untuk orasi di air mancur karena memang mungkin ada kesulitan izin. Kita lihat dengan surat dari Mako itu belum ada, kedua, menyatakan bahwa mereka sudah menghubungi Mako secara non formal, ya omongan aja itu sudah, tapi memang suratnya belum. Sehingga ketika perizinan long march yang tidak memperbolehkan, otomatis skema itu akhirnya dibatalkan,” ungkapnya.
Penulis: Ira Tahir
Editor: Raynaldy Aulia Mahendra
Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

