
Usai mengikuti berbagai rangkaian pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB), mahasiswa baru Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dikenalkan dengan Eksistensi organisasi kemahasiswaan (Ormawa) di lingkungan FH UB, baik dalam bentuk Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM), Lembaga Otonom (LO), maupun Lembaga Semi-otonom (LSO).
Organisasi-organisasi tersebut telah melaksanakan pengenalan awal melalui rangkaian pengenalan LO/LSO pada Minggu (21/09) sebagai bagian dari rangkaian PKKMB FH UB 2025. Selain itu, pada 1-3 Oktober 2025, LO/LSO diperkenalkan lebih lanjut melalui agenda Open House LO/LSO. Agenda tersebut juga menjadi waktu bagi LO/LSO untuk melakukan pembukaan keanggotaan atau open recruitment.
Apakah organisasi mahasiswa masih relevan?
Dalam survei yang dilakukan oleh LPM ManifesT pada awal tahun 2025, dari 41 mahasiswa lintas angkatan dan lintas Fakultas yang diwawancarai berkenaan dengan seberapa penting pengalaman organisasi bagi mahasiswa, dimana diukur menggunakan skala 1 (tidak penting) sampai 5 (penting). Berdasarkan survei tersebut, 56% responden menganggap penting pengalaman organisasi dengan memberikan angka 4, adapun 22% memberikan nilai 3, 19,5% memberikan nilai 5, dan 2,4% memberikan nilai 2.
Kemudian, dalam pertanyaan, “Apakah menurut Anda, organisasi masih dibutuhkan oleh mahasiswa?”, 85,4% atau 35 dari 41 responden secara tegas menjawab organisasi masih dibutuhkan oleh mahasiswa. Sedangkan, 6 orang lainnya, atau 14,6% tidak yakin atas relevansi organisasi mahasiswa.
Apa hambatan organisasi mahasiswa pada saat ini?
Berkaitan dengan relevansi organisasi mahasiswa, terdapat sejumlah hambatan atau tantangan yang timbul atas eksistensi organisasi mahasiswa. Salah satunya ialah kehadiran senioritas dan intervensi pihak luar di dalam organisasi yang menghambat kepengurusan.
“Hambatan terbesarnya ialah senioritas dan intervensi yang hampir menyeluruh oleh alumni serta organisasi eksternal pada kegiatan-kegiatan organisasi, hal ini dapat menyebabkan kepengurusan selanjutnya tidak dapat kebebasan pada pengembangan organisasi,” ujar DF, salah satu responden yang berasal dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Responden yang lain, yakni YA, juga membenarkan bahwa faktor lingkungan, senioritas, dan terlalu terlibatnya alumni menjadi penghambat dari jalannya organisasi mahasiswa.
“Pertama dan yang utama pasti lingkungan, beberapa kasus di sekitar saya seperti senioritas yang tinggi, keterlibatan alumni dalam mayoritas pengambilan keputusan, keinginan untuk diutamakan lebih oleh mahasiswa umumnya jadi alasan utama mahasiswa keluar atau tidak masuk organisasi. yang kedua adalah impact, bagaimana capaian yang diperoleh mahasiswa tersebut selama mengikuti organisasi. yang ketiga adalah waktu dan biaya, beberapa organisasi memerlukan biaya dari anggota ditambah dengan efisiensi yang berlaku selain itu availability mahasiswa itu sendiri juga menjadi faktor lain,” ungkapnya.
NA juga mengamini hal tersebut. Menurutnya, lingkungan yang toxic dan budaya kerja yang tidak masuk akal menghambat minat maupun perkembangan mahasiswa di dalam organisasi mahasiswa.
“Lingkungan yang tidak mendukung dia untuk berkembang, contoh pertemanan yang ‘toxic’ dan budaya kerja yang tidak masuk akal. manusia dipaksa bekerja dan mementingkan hasil daripada proses untuk berkembang,” ujarnya.
Keberadaan senioritas sendiri seolah menjadi “big no” dalam organisasi mahasiswa. Fitrah et. al, dalam artikel berjudul “Mengkritisi Budaya Senioritas di Dunia Pendidikan Indonesia” yang diterbitkan dalam jurnal JSHI mengungkapkan apabila senioritas dapat menghambat kreativitas dan kerja sama di dalam organisasi, khususnya organisasi yang ada di dalam lingkungan pendidikan.
Selain permasalahan lingkungan dan manajemen organisasi, permasalahan alokasi waktu bagi mahasiswa juga dinilai sebagai hambatan bagi organisasi mahasiswa. Tidak adanya batasan keikutsertaan mahasiswa menyebabkan sering terjadinya fenomena dimana seorang mahasiswa ikut dalam banyak organisasi sekaligus. Meskipun di atas kertas, hal ini terkesan “hebat” dan “bagus untuk CV”, di sisi lain tidak jarang menjadikan mahasiswa tersebut kewalahan dan justru “menghilang” dari organisasi.
“Hambatan terbesar bagi mahasiswa dalam berorganisasi biasanya adalah manajemen waktu yang buruk. Banyak yang kesulitan menyeimbangkan akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi, sehingga akhirnya memilih keluar atau tidak aktif,” terang ZA.
Hal senada diungkapkan oleh AY, menurutnya kurangnya kecakapan dan motivasi mahasiswa dalam manajemen waktu turut menghambat relevansi organisasi mahasiswa.
“Lingkungan yang kurang sesuai, kurangnya kecakapan mahasiswa dalam mengatur waktu, kurangnya motivasi untuk berkembang/malas capek,” ungkap AY dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), FA, mengungkapkan jika kesibukan mahasiswa berbeda-beda sehingga sulit untuk menyamakan waktu luang atau free time yang dimiliki.
“Kesibukan, soalnya tiap orang kesibukannya beda-beda apalagi bisa juga disebabkan jurusan di kampus beda-beda membuat tidak semua punya free time yang sama,” ujar FA.
Mahasiswa butuh Organisasi seperti Apa?
LPM ManifesT melakukan survei terhadap 41 mahasiswa dengan 11 pilihan bidang keorganisasian, yakni: a). Akademik; b). Riset dan Kompetisi; c). Penelitian; d). Seni dan Budaya; e). Politik, f). Volunteering, g). Wirausaha; h). Pergerakan dan advokasi; i). Pers; j). Keagamaan; dan k). Olahraga. Survey ini bersifat multiple choice multiple answer, dimana seorang responden dapat memilik lebih dari 1 pilihan.
Berdasarkan survei tersebut, 25 responden memasukkan akademik dan kompetisi sebagai bidang keorganisasian yang diminati, disusul dengan pers (17 responden), penelitian (13 responden), volunter (13 responden), wirausaha (12 responden), pergerakan (9 responden), seni dan budaya (8 responden), politik (8 responden), keagamaan (5 responden), dan olahraga (3 responden). Dengan demikian, hingga survei tersebut dilakukan, akademik dan kompetisi menjadi dua bidang keorganisasian yang cukup diminati oleh mahasiswa.
Adapun berkaitan dengan faktor utama dalam memilih organisasi di Tingkat Universitas, 46,3% responden menjawab relasi dan jaringan sebagai faktor utama yang mendorongnya untuk ikut di dalam organisasi. Alasan lain yang cukup banyak dipilih ialah pengembangan keterampilan kepemimpinan dengan persentase 26,8%. Sisanya menjawab relevansi dengan akademik (4,9%), peluang kompetisi (4,9%), dan sesuai dengan kemampuan (2,4%). Sedangkan 14,6% lainnya tidak menjawab atau belum memilih organisasi di tingkat Universitas.
Berdasarkan survei tersebut dapat ditemukan bahwa tujuan terbesar bagi mahasiswa untuk bergabung di organisasi pada saat ini ialah mengenai akses relasi dan jaringan. Di satu sisi hal ini menunjukkan keberadaan organisasi sebagai “batu loncatan” dalam perencanaan kerja nantinya. Di sisi lain, realitas ini seolah membawa organisasi pada arah yang pragmatis, dimana keberadaan alumni signifikan atau jumlah anggota, alih-alih idealisme menjadi tolok ukur utama untuk menilai organisasi yang “baik”.
Lebih lanjut, NA, mahasiswa FH UB, mengungkapkan jika organisasi yang dibutuhkan saat ini ialah organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa atau anggotanya sesuai dengan zaman, tidak banyak terkekang oleh tradisi organisasi secara turun temurun.
“Organisasi yang dapat selalu berkembang sesuai dengan zamannya dan tidak terkekang serta terikat oleh “budaya” turun temurun. Dengan demikian organisasi tersebut akan secara aktif memenuhi kebutuhan mahasiswa/ anggotanya sesuai dengan zamannya,” ungkap NA
Hal senada juga diungkapkan oleh ZA, mahasiswa FH UB, menurutnya relevansi dengan kebutuhan mahasiswa menjadi kunci bagi hidupnya organisasi.
“Organisasi yang fleksibel, relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dan memberikan manfaat nyata. Misalnya, organisasi yang mendukung pengembangan soft skills, networking, dan pengalaman praktis, seperti komunitas startup, organisasi kepemimpinan, atau klub yang berfokus pada skill tertentu, misalnya desain, coding, atau public speaking,” terang ZA.
Adapun mahasiswa FIB UB, AY, menerangkan jika organisasi harus terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan berinovasi.
“Organisasi sebagai wadah yang selalu mendorong mahasiswanya untuk lebih produktif dan mampu mengembangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan bersama, mampu untuk selalu berinovasi dan menyesuaikan perkembangan zaman demi memenuhi setiap kebutuhan mahasiswa yang juga turut berkembang,” ungkap AY.
Harapan untuk Organisasi Mahasiswa
Dengan demikian, peranan dan kebutuhan akan organisasi tetap relevan bagi mahasiswa, di samping meningkatnya minat terhadap magang, short course, dan bootcamp. Organisasi dianggap dapat memberikan pengembangan soft skill bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa fakultas hukum. Meskipun demikian, perlu berbagai pembenahan terhadap organisasi, mulai dari pemberantasan lingkungan kerja yang toxic, menghapuskan senioritas, dan peningkatan inovasi untuk merespons kebutuhan mahasiswa.
YA berharap agar organisasi mahasiswa dapat mewadahi tujuan dan keinginan mahasiswa, serta dapat menghapuskan lingkungan kerja toxic. Ia juga berharap agar kampus benar-benar memberikan dukungan kepada organisasi mahasiswa, salah satunya melalui pendanaan.
“Agar dapat mewadahi tujuan dan keinginan mahasiswa yang berbeda, tidak memiliki lingkungan yang toxic, mendapatkan perhatian dan pendanaan dari kampus,” terang YA.
DS juga menyampaikan hal serupa, baginya iklim kerja yang sehat di dalam organisasi merupakan aspek penting untuk menunjang akademik maupun non-akademik mahasiswa.
“Bisa memiliki iklim kerja yang baik, tetap mengutamakan akademik dan membantu berkembang secara akademik maupun non akademik,” ujar DS.
GA, mahasiswa FH UB berharap agar organisasi dapat memberikan lebih banyak kompetisi, pengembangan soft skill dan peluang networking yang luas, serta terus berinovasi untuk merespons kebutuhan mahasiswa.
“Aku berharap organisasi di fakultas bisa menghadirkan lebih banyak kompetisi, program pengembangan soft skills, dan peluang networking. selain itu, organisasi harus lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, supaya manfaatnya nyata dan nggak cuma jadi formalitas,” harap GA, mahasiswa FH UB.
Editor: Zuchaira Pratiwi Tahir
Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

