Site icon LPM MANIFEST

Dua Paslon Presiden-Wakil Presiden Paparkan Gagasan dan Arah Gerak dalam Debat Terbuka Pemira EM UB 2025

Debat terbuka Pemira 2025 mengangkat isu visi-misi Universitas Brawijaya, ruang inklusif, dan pencegahan korupsi di lingkungan kampus sebagai mosi (Foto: Ray)

Malang, ManifesT-Sebagai bagian dari rangkaian Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) 2025, diselenggarakan debat terbuka pada Senin (17/11). Debat yang diselenggarakan di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya ini menghadirkan kedua Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB), serta jajaran Rektorat, tim sukses masing-masing pasangan, dan mahasiswa umum.

Debat terbuka tersebut membahas tiga tema utama, yakni visi misi Universitas Brawijaya, isu ruang aman dan keberagaman, serta praktik korupsi dan kolusi di lingkungan kampus. Kedua pasangan calon diminta menjelaskan bagaimana visi misi UB diimplementasikan dalam kegiatan akademik, organisasi mahasiswa, dan budaya kampus. 

Pada isu ruang aman, moderator menyoroti adanya praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan seksual yang masih terjadi, sehingga para calon diminta memaparkan langkah penguatan ruang diskusi yang inklusif serta upaya perlindungan bagi kelompok rentan. 

Adapun pada tema korupsi, moderator menekankan persoalan “korupsi kecil” di kalangan mahasiswa dan meminta masing-masing calon memaparkan komitmen serta mekanisme pencegahan yang ditawarkan. Pembahasan mengenai korupsi dan plagiarisme di kampus sendiri menjadi salah satu sesi yang berlangsung cukup panas dalam debat terbuka Pemira 2025.

Zidane-Kafitan: Brawijaya Kampus Pergerakan dan Role EM UB

Dalam wawancara yang dilakukan bersama dengan LPM ManifesT, calon Presiden Eksekutif Mahasiswa Nomor Urut 1, M. Azhar Zidane menyatakan akan berusaha mengembalikan identitas Universitas Brawijaya sebagai kampus pergerakan melalui aktivasi bidang-bidang di Universitas Brawijaya, baik sains dan teknologi (saintek), sosial humaniora (soshum), agrokompleks, maupun medikal kompleks. 

“Kita ingin mengembalikan kembali bahwa Universitas Brawijaya adalah kampus pergerakan. Bagaimana akhirnya aktivasi setiap lini-lini, setiap pembidangan-bidangan Kita punya empat bidang, soshum, saintek, agrokompleks, serta juga medikal kompleks, bagaimana bisa mengaktivasi hal-hal tersebut,” ujar Zidane.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa salah satu persoalan terbesar saat ini adalah tidak tersambungnya gerak organisasi mahasiswa, baik antara EM UB dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM Fakultas) maupun dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

“Saat eksekutif mahasiswa gagal merajut hal tersebut, akhirnya buyar. Outputnya akhirnya implikasinya BEM bergerak sendiri, UKM bergerak sendiri, elemen lain bergerak sendiri. tidak ada konektivitas yang terjadi, yang Insya Allah tahun depan akan sangat saat kita dorong banget untuk akhirnya setidaknya komunikasi itu clear.  Insya Allah tahun depan akan sangat kita dorong banget untuk akhirnya setidaknya komunikasi itu clear, (baik) BEM Fakultas dengan EM, EM dengan UKM,” jelasnya.

Zidane-Kafitan juga menegaskan komitmen untuk menentang korupsi, plagiarisme, serta hal-hal yang negatif dan dapat berimplikasi buruk, khususnya bagi mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Bukan hanya korupsi dan plagiarisme, kebetulan aja memang tadi tema mosinya korupsi dan plagiarisme. Namun semua hal-hal yang negatif hal-hal yang akhirnya tidak berimplikasi baik dan itu berimplikasikan buruk Itu sama sekali kita tentang dan sama sekali kita komitmen untuk menjaga hal tersebut,” ungkapnya.

Fitra-Ucup: Brawijaya Rumah Bersama

Apabila Zidane-Kafitan berfokus pada pengembalian identitas dan fungsi EM UB dalam membentuk koneksi bersama elemen-elemen di Universitas, Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden EM UB Nomor Urut 2, yakni Fitra Abdillah dan Yusuf Hafidzun menekankan pentingnya inklusivitas dan kolaborasi dalam membangun EM UB sebagai “rumah bersama” bagi mahasiswa UB.

Yusuf Hafidzun atau yang lebih akrab dipanggil Ucup menjelaskan salah satu mahakarya unggulan mereka, yakni Brawijaya Inclusive Project, dimana berfokus pada kebijakan afirmatif bagi mahasiswa disabilitas.

“Karena kita gak pengen inklusif ini hanya sebagai narasi dan janji kampanye dan juga yang sifatnya politis. Kita ingin untuk pada akhirnya memberikan kuota 30% itu yang diperuntukkan kepada teman-teman disabilitas,” tegas Yusuf.

Selain isu inklusi, Fitra menyampaikan fokus kedua paslon 02 yaitu Brawijaya Fempower, sebuah program afirmasi bagi mahasiswa perempuan, baik dalam bentuk kuota minimal 30% perempuan dalam EM UB, Beasiswa Perempuan Progresif, maupun Afirmasi Red Day saat mahasiswi mengalami menstruasi pada kegiatan organisasi.

Selain program-program tersebut, Fitra menekankan bahwa EM UB harus menjadi rumah kolaborasi, bukan organisasi yang bersifat elitis.

“Kami akan membawa EM UB bersama seluruh simpul Brawijaya untuk bareng-bareng naik kelas jadi yang naik kelas bukan hanya EM UB, tapi seluruh simpul Brawijaya dengan kolaborasi-kolaborasi yang akan kami lakukan kurang lebih seperti itu teman-teman,” tekannya.

Ucup turut menambahkan nilai dasar yang mereka bawa, dimana nilai kekeluargaan akan menjadi harapan dan niat baik untuk mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Kita mau mencoba untuk pada akhirnya membawa rasa dan juga nilai kekeluargaan maka dari itu yang kita coba bawa itu adalah harapan dan juga niat-niat baik yang emang nanti diperuntukan untuk mahasiswa dan juga masyarakat Brawijaya secara keseluruhan,” ujarnya.

Menurut Ucup, terdapat beberapa aspek yang perlu dievaluasi dan dibenahi dari EM UB sebelumnya, di antaranya mengenai tata kelola organisasi, pedoman dan prosedur kerja, efektivitas struktur, serta mekanisme penyerapan aspirasi. Ucup juga menyebut pentingnya efisiensi dan restrukturisasi karena kinerja kabinet sebelumnya belum optimal.

Mahasiswa harus sigap memilih pemimpin yang relevan

M, salah satu audiens debat terbuka Pemira 2025 turut mengomentari jalannya debat tersebut. Ia sendiri menyatakan bahwa kedatangannya karena merasa Pemira adalah momen penting untuk menjaga kualitas kepemimpinan UB.

“Ya selayaknya kita menjaga marwah Brawijaya. Kita harus sigap memilih pemimpin yang relevan dengan Renstra (rencana strategis, red.) Majelis Wali Amanat 2022–2027, karena untuk menyokong jalannya Brawijaya, kita perlu katalis agregator yang bagus, yaitu Eksekutif Mahasiswa,” ungkapnya.

Berkaitan dengan pelaksanaan debat terbuka, ia menyoroti singkatnya waktu yang diberikan bagi pasangan calon untuk memaparkan visi-misi, sehingga ia merasa perlu mencari informasi lebih dalam berkaitan dengan visi-misi kedua pasangan calon.

“Durasi dari debat terbuka Saya kira debat terbukanya akan berjalan cukup lama, seperti penyampaian visi-misi 30 menit, tapi ya kurangnya durasi itu menyebabkan saya harus mengulik lebih dalam terkait dengan kapasitas calon masing-masing,” ujarnya.

Penulis: Gading Rifa Rizqullah, Faricha Barorotun Nuroniyah

Editor: Zuchaira Pratiwi Tahir

Pimpinan Redaksi: Raynaldy Aulia Mahendra

Exit mobile version