Site icon LPM MANIFEST

Muka Negara Ditaruh Mana

Oleh: Akmal Kavin Abdah

“Bangsa yang besar sedang mengamini keagungannya.”

Kurang lebih begitu, sesuatu yang hendak disampaikan presenter televisi kemarin muncul di sela-sela menunggu adzan Magrib, menunjukkan seberapa gagah sebuah negara; ikut masuk dewan perdamaian, menjadi wakil koordinator hak asasi global, sampai berusaha melakukan mediasi kepada dua subjek perang  dengan kepala panas dan rudal-rudalnya. 

Muka “garang” dan “pembela kebenaran” yang tidak bisa dibantah. Di mana ada yang jahat,  sudah tentu siap dilawan!

Bayangkan kita bisa mengundang Erving Goffman untuk hadir di televisi yang sama. Dia dengan aksen Amerika-Kanada yang klik itu akan sedikit memperingatkan, bahwa gaya muka yang ini, potensial untuk berakibat pada idealization lewat kontrol ekspresi. Negara akan mampu mendikte bagaimana konsep idealnya terbentuk di mata rakyat; mata mereka yang meragukan atau bahkan melawan. 

Yakinlah bahwa Goffman akan membawa teori psikologi sosialnya, lalu akan terang-terangan menyebut semua aksi tadi sebagai Dramaturgi; permainan cari muka, yang apabila semakin dalam, justru sedang menutupi inkonsistensi dan instabilitas birokrasi sesungguhnya. Kalau saja amit-amit pihak ketiga sedang menguping, hancur sudah investasi sebelanga. 

Menyibukkan diri dengan satu muka besar dan maskot heroik padahal bukan, tentu bikin kewalahan dan lelah. Melakukan monopoli ide untuk membentuk pahlawan, akan hanya bisa dilakukan oleh Superman dan Batman, bukan Indonesia. 

Pada akhirnya, ada banyak muka fisik yang jadi akibat, buntut dari keserakahan atas muka esensial dan gambaran sosial sebuah ambisi. 

Bapak-bapak menangis akibat dipecat tiba-tiba, seorang anak gantung diri akibat tidak bisa beli pensil, seorang aktivis terbakar air keras tepat di wajah dan badannya karena bersuara parau dari dalam fisik yang digadang-gadang heroik, yang menilai dirinya sebagai penyelamat. 

Setiap panas dari apa yang dirasakan oleh sang bapak, anak, dan aktivis yang disiram di Salemba itu, adalah panggung-panggung “belakang” yang bocor melelehkan panggung depan dengan segala sok pahlawannya.

Exit mobile version