Site icon LPM MANIFEST

Punarjanma Nyaya Adhikara: Kembalinya Abhirama dan Abhinaya, Lahirkan Wajah Baru Representasi Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

(Lahirnya Abhirama dan Abhinaya Fakultas Hukum Univeristas Brawijaya. Foto: Andi Imam)

Malang, ManifesT – Kamis (04/06/2026). Gemerlap panggung, sorotan lampu, serta antusiasme mahasiswa memenuhi malam puncak Grand Final Abhirama dan Abhinaya Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Mengusung tema “Punarjanma Nyaya Adhikara”, yang bermakna kelahiran kembali pengemban keadilan, ajang pemilihan duta Fakultas Hukum ini menandai kembalinya salah satu program prestisius yang sempat vakum pada tahun sebelumnya.

Kembalinya Abhiramanaya bukan sekadar menghadirkan kompetisi pemilihan duta fakultas. Lebih dari itu, acara ini menjadi simbol kebangkitan representasi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya setelah sempat terhenti akibat keterbatasan pendanaan.

Steering Committee Abhiramanaya, Steven, menjelaskan bahwa absennya program tersebut pada tahun sebelumnya disebabkan oleh keterbatasan anggaran yang tersedia. Namun, keresahan mahasiswa yang merasa Fakultas Hukum membutuhkan figur representatif mendorong panitia untuk menghidupkan kembali program ini.

“Banyak masyarakat FH UB yang mempertanyakan mengapa Fakultas Hukum tidak memiliki duta sebagai representasi fakultas. Karena itu, kami berupaya menghadirkan kembali Abhiramanaya  agar dapat melahirkan representasi yang membawa nama baik Fakultas Hukum,” ujarnya.

Perjalanan menghidupkan kembali Abhiramanaya  tentu tidak berjalan tanpa tantangan. Naura Adelia selaku Steering Committee mengungkapkan bahwa mayoritas panitia baru pertama kali menyelenggarakan ajang duta. Berbagai aspek teknis mulai dari pelatihan etika, beauty class, penyediaan kostum, hingga koreografi pembukaan menjadi tantangan tersendiri.

“Acara duta itu tidak mudah. Ada banyak aspek yang harus diperhatikan, mulai dari cara berjalan, bersikap, hingga bagaimana membentuk representasi yang baik. Karena itu, kami banyak belajar dari referensi dan terus melakukan evaluasi setiap kali menemukan kendala,” jelasnya.

Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, Abhiramanaya  juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa. Hal tersebut turut disampaikan oleh demisioner Abhirama periode sebelumnya, Cikal. Menurutnya, gelar yang diperoleh para finalis bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal perjalanan mereka sebagai representasi fakultas.

“Title ini bukan sebuah akhir. Justru ini adalah tonggak awal. Seorang representasi tidak berhenti ketika memperoleh gelar, tetapi ketika mampu memberikan keberdampakan yang berkelanjutan bagi Fakultas Hukum dan masyarakat,” ungkapnya.

Pada malam puncak tersebut, Bilqis berhasil dinobatkan sebagai Abhinaya Winner, sementara Shadiq meraih gelar Abhirama Winner. Keduanya akan mengemban amanah sebagai representasi Fakultas Hukum Universitas Brawijaya selama satu periode ke depan.

Bagi Bilqis, kemenangan yang diraihnya merupakan hasil kerja kolektif seluruh pihak yang terlibat dalam proses Abhiramanaya  Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dukungan sesama finalis, panitia, pemateri, dan berbagai pihak yang telah mendampingi perjalanan para peserta.

“Ini bukan hanya tentang saya sendiri. Ini adalah hasil kerja keras kita semua. Saya bersyukur dan bangga karena melihat seluruh finalis serta orang-orang yang terlibat dapat merasakan kebahagiaan yang sama,” tuturnya.

Ke depan, Bilqis berkomitmen untuk menjalankan berbagai program advokasi yang telah dirancang sejak proses seleksi berlangsung. Menurutnya, seorang duta tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tugas kami bukan hanya sekadar membawa gelar. Advokasi yang kami usung harus mampu memberikan kebermanfaatan dan menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya dalam merepresentasikan Fakultas Hukum,” tambahnya.

Senada dengan itu, Shadiq menilai kemenangan yang diraihnya merupakan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan melalui kerja nyata. Ia berencana membangun kolaborasi bersama jajaran duta lainnya untuk merumuskan program-program yang berdampak bagi mahasiswa maupun masyarakat.

“Banyak amanah yang berada di pundak saya saat ini. Karena itu, kami akan merealisasikan berbagai program yang bermanfaat, termasuk gagasan yang saya usung, yaitu Adhikara Nusantara, sebagai upaya menghadirkan kembali nilai-nilai keadilan di negeri ini,” ujarnya.

Menurut Shadiq, tugas seorang duta tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau menghadiri berbagai acara fakultas. Lebih jauh, peran utama seorang duta adalah mengabdi kepada masyarakat dan menjadi jembatan antara nilai-nilai hukum dengan kebutuhan sosial yang ada di sekitarnya.

Kehadiran kembali Abhiramanaya  melalui tema Punarjanma Nyaya Adhikara menjadi momentum penting bagi Fakultas Hukum UB. Tidak hanya melahirkan figur-figur representatif baru, tetapi juga menghidupkan kembali semangat pengabdian, kepemimpinan, dan kebermanfaatan yang menjadi ruh seorang duta.

Menutup rangkaian acara, Naura Rachmadani menyampaikan harapannya agar para finalis yang telah memperoleh gelar mampu menjalankan amanah yang diberikan dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Menurutnya, keberhasilan Abhiramanaya  tidak diukur dari megahnya malam puncak semata, melainkan dari kontribusi yang akan diberikan para duta setelahnya.

“Kami telah menghasilkan sepuluh finalis yang masing-masing memiliki tanggung jawab besar melalui title yang mereka emban. Harapannya, mereka dapat menjadi representasi terbaik Fakultas Hukum, membawa dampak positif bagi mahasiswa lainnya, serta mampu mengharumkan nama fakultas dalam berbagai kesempatan, termasuk sebagai delegasi di tingkat universitas. Pada akhirnya, Abhiramanaya  bukan hanya tentang siapa yang menang malam ini, tetapi tentang bagaimana mereka dapat terus menjadi teladan dan menghadirkan kebermanfaatan bagi banyak orang,” tutupnya.

Penulis: Andi Imam Rafi

Editor: Andi Imam Rafi

Pimpinan Redaksi: Husein Kurnia Hoetomo

Exit mobile version