Malang, ManifesT – Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menyuarakan 17 tuntutan dalam aksi massa di kawasan Patung Lokomotif, dekat Alun-Alun Kota Malang, pada 28 Agustus 2026. Aksi yang diikuti mahasiswa tersebut membawa isu ketenagakerjaan, harga kebutuhan pokok dan BBM, agraria, pendidikan, militerisasi sipil, hingga pengesahan sejumlah rancangan undang-undang.
Dalam aksi tersebut, massa membawa tuntutan mulai dari penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, pembangunan industri nasional yang berorientasi pada kebutuhan rakyat, pelaksanaan reforma agraria, hingga penghentian kriminalisasi terhadap petani dan masyarakat adat.
Tuntutan lainnya mencakup penghentian intimidasi, kekerasan, pelecehan, dan kriminalisasi terhadap perempuan yang mempertahankan tanah, pengesahan RUU Masyarakat Adat, penghentian militerisasi ruang sipil, penghentian proyek strategis nasional yang dinilai merugikan masyarakat, serta penolakan praktik neoliberalisme dalam pendidikan.
Salah satu massa aksi yang identitasnya dianonimkan menilai kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi persoalan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia menyebut kenaikan harga BBM turut meningkatkan beban pengeluaran masyarakat, termasuk biaya mobilisasi.
“Menurut saya, tuntutan-tuntutan yang dibawa kali ini cukup relate ke dalam kehidupan saya sehari-hari ataupun kita. Salah satunya itu naiknya harga kebutuhan pokok yang di mana merugikan untuk masyarakat sekitar, terutama juga untuk saya dan keluarga saya,” ujarnya.
Massa aksi lainnya yang identitasnya dianonimkan menyoroti tuntutan di bidang pendidikan. Menurutnya, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga menyangkut akses, fasilitas, dan kondisi tenaga pendidik.
“Pada dasarnya ya pendidikan itu bukan berdasarkan makan siang, tapi juga bagaimana fasilitas, bagaimana akses, bagaimana para guru-guru itu bisa diayomi lah oleh pemerintah,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan pendidikan dirasakan oleh orang-orang di lingkungan terdekatnya, terutama terkait akses transportasi dan fasilitas sekolah. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan perlunya perhatian dan pengawasan pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan.
Sementara itu, seorang massa aksi lain yang identitasnya dianonimkan menempatkan persoalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu isu yang mendorongnya mengikuti aksi. Ia menyoroti persoalan keracunan yang terjadi di sekolah sebagai salah satu hal yang menjadi perhatiannya.
“Isu yang paling bikin gerak itu kayak aktivis yang dipenjara lah, terus terutama MBG ya. MBG,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, ia juga menyebut kenaikan biaya bahan bakar berdampak terhadap pengeluaran bulanannya. “Parah banget sih. Karena dulunya per bulan itu nggak sampai kayak buat bensin mobil ya, nggak sampai sejuta lebih gitu, nggak. Sekarang tuh udah bisa sampai segitu,” katanya.
Korlap aksi yang identitasnya dianonimkan mengatakan penghentian militerisasi di ranah sipil menjadi salah satu tuntutan yang diprioritaskan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan arah kebijakan pemerintah dan keterlibatan militer dalam ruang sipil.
“Ya, yang paling diprioritaskan tentu hentikan militerisasi di ranah sipil karena sebenarnya akar dari semua permasalahan itu memang dari militer dan militerisme,” ujarnya.
Ia mengatakan aksi tidak berhenti pada momentum tersebut. Konsolidasi lanjutan disebut tetap terbuka untuk memastikan isu yang dibawa terus disuarakan.
“Namun untuk hari-hari esok kita tidak menutup kemungkinan tidak ada aksi. Kita akan selalu membuka konsolidasi-konsolidasi selanjutnya, seperti itu,” katanya.
Selain mahasiswa, korlap aksi menyebut persoalan buruh, petani, dan masyarakat adat turut menjadi bagian dari isu yang dibawa dalam aksi. Meski elemen masyarakat tersebut belum dapat hadir bersama massa aksi, ia mengatakan mahasiswa tetap berupaya menyuarakan persoalan yang mereka hadapi.
| Penulis | : | Andi Imam Rafi |
| Reporter | : | Alief Azhar Al Rafi, Rafiful Kautsar Ritonga, Rausyafikr, Achmad Bagus Rizky, dan Gading Rifa Rizqullah |
| Editor | : | Andi Imam Rafi |
| Pimpinan Redaksi | : | Husein Kurnia Hoetomo |

