Home Film Resensi Film Gia

Resensi Film Gia

192
0
SHARE

oleh Rani Harahap

Judul                                       : Gia
Tahun                                     : 1998
Genre                                      : Drama, Biografi
Durasi                                     : 2 jam
Disutradai oleh                     : Michael Cristofer
Penulis naskah                      : Jay Mcnerney, Michael Cristofer
Pemain                                    : Angelina Jolie, Elizabeth Mitchell, Eric Michael Cole, Kylie Travus Louis Giambalvo, dll.
Negara                                     : Amerika Serikat

Sebagian dari kita menganggap bahwa kecantikan adalah keberuntungan,  berkah, “senjata yang mematikan”, atau apalah itu terserah. Namun film ini membuktikan, tidak selamanya “cantik” menjamin kebahagiaan.

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang model bernama Gia Marie Carangie yang berakhir tragis. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Joseph Carangi dan Kathleen Adams yang lahir di Philadelphia pada 29 Januari 1960. Ia lahir sebagai gadis pemalu, penurut, dan lugu, namun ia berubah menjadi gadis liar, pemberontak dan menggunakan narkotika setelah perceraian kedua orang-tuanya yang menyisakan trauma.

Dengan kepribadian dan penampilan ala geng motor, ia berhasil menarik perhatian pemilik suatu agensi pemotretan. Setelah beberapa sesi pemotretan bersama kekasihnya, Gia memutuskan untuk pindah menjadi model di New York. Di satu sisi tidak mudah untuknya menjadi model, karena ia tidak memiliki sifat-sifat model pada umumnya yang lembut, sopan dan ramah. Namun di sisi lain, “keliaran” itulah yang membuat ia terlihat berbeda dari model lainnya dan diincar. Kepribadian dan struktur wajahnya yang unik membuat Gia semakin dikenal dan membuat karirnya meroket. Bagai kerumunan anjing liar yang memperebutkan tulang, brand-brand ternama memperebutkannya untuk dijadikan model photoshoot maupun fashion show.

Terdapat momen ketika Gia menyukai penata riasnya, seorang wanita bernama Linda yang memiliki kepribadian yang berkebalikan dengan Gia. Mereka bahkan telah melakukan pemotretan tanpa busana bersama. Keanggunan dan keramahan Linda membuat Gia melakukan apapun yang bisa ia lakukan agar Linda bisa menjadi miliknya walau pada saat itu sang penata rias telah memiliki pacar. Linda yang berpihak pada pacarnya pun menjauhi Gia dan membuat supermodel tersebut kembali bersama obat-obatannya.

Di New York, Kathleen Adams sering berkunjung ke tempat Gia untuk menemani anak ketiganya tersebut. Namun sama seperti Xanax, Gia tidak bisa melepaskan Ibunya. Ia ingin Kathleen terus bersamanya walau Gia tahu ibunya tersebut telah memiliki keluarga baru. Hingga suatu hari terjadi pertengkaran hebat yang membuat hubungan mereka meregang. Gia kecewa pada ibunya dan semua yang selalu pergi meninggalkannya.

Walau begitu, karirnya terus melejit. Semakin banyak tawaran untuknya, semakin cukup uang untuk mengonsumsi narkotika. Dan hal itu menjadi satu-satunya kebiasaan yang tak pernah meninggalkannya bahkan ketika manajernya meninggal dunia. Ya, hal itu meninggalkan luka yang dalam hingga membuat ia memakai jarum suntik [Gia biasa pakai barang kering] dan itulah yang membuat ia tertular HIV yang ketika itu masih belum ditemukan penawarnya.

Linda pun hadir menyelamatkan Gia, mandi bersama dan merawatnya yang saat itu babak belur, dan memutuskan pacarnya demi Gia asalkan Gia juga memutuskan hubungannya dengan narkotika. [Haha, yea terlihat utopis]. Namun kali ini, Gia yang meninggalkan Linda demi suntiknya. Semakin lama tubuhnya mulai dihiasi luka yang menutup kecantikannya. Kekasih lamanya pun datang membantu Gia dengan membawanya ke rehabilitasi. Akhirnya dokter mendiagnosa bahwa Gia adalah perempuan pertama di Amerika yang terkena AIDS. Gia sadar waktunya tidak banyak, maka dari itu ia menemui Linda untuk terakhir kali. Ia juga menemui dealernya untuk sakau terakhir kali tetapi ia malah diperkosa secara bergilir dan berakhir babak belur di Rumah Sakit. Dalam keadaan yang semakin buruk itu, Gia sempat meminta dibelikan video recorder agar ia bisa membuat pesan dalam bentuk rekaman video untuk remaja-remaja di dunia agar menjauhi narkoba. Sayangnya, permintaannya tersebut tak bisa dilakukan oleh Ibunya yang datang hingga Gia akhirnya meninggal dunia. Hal yang paling menyedihkan adalah Gia meninggal dalam keadaan wajah yang penuh luka dan daging di bagian punggung yang sudah rontok.

Film yang tragis. Dari awal film hingga akhir, Gia menunjukkan keberanian yang tidak pernah padam. Sehancur apapun dirinya, ia berani membuat keputusan sendiri, ia berani untuk meyakinkan resepsionis yang meragukannya, ia berani untuk bahagia walau penyakitnya sudah menghabisi tubuh cantiknya.

Angelina Jolie memainkan perannya dengan luar biasa, tak heran melihat semua film yang dibintanginya sukses besar. Ia berhasil memerankan karakter Gia yang liar dan kompleks dengan baik. Penggambaran peristiwa masa lalu juga berhasil dikemas dengan cantik dan tragis oleh Michael Christofer sehingga membuat perasaan penonton bercampur aduk usai menontonnya. Penulis rasa bukan hal yang mudah untuk meringkas semua itu menjadi film berdurasi 2 jam. [Hats off to Christofer]

Film ini nampak mengkampanyekan bahwa narkotika adalah sesuatu yang perlu dijauhi karena efek sampingnya yang sangat mematikan. Diperlihatkan bagaimana Gia menyakiti dirinya sendiri saat tidak bisa menikmati opium dan bagaimana karena hal itu sifatnya yang menjadi sangat agresif. Penulis menilai film ini juga cukup memperkuat stigma bahwa mereka dengan tampilan ‘berantakan’ perlu diwaspadai, terutama di awal pengenalan tokoh Gia. Namun di satu sisi film ini juga menunjukkan bahwa mereka dengan penampilan ‘baik’ , ‘rapi’ dan ‘cantik’ diluar belum tentu sama didalam. Terlihat pada resepsionis dan model-model pada umumnya disana.

Sejujurnya penulis agak cemburu melihat bagaimana beruntungnya Gia masih memiliki orang yang mempedulikannya, terutama Ibunya di saat-saat terburuknya. Membuka mata kita kita bahwa segala yang kita miliki sekarang: teman, harta, reputasi, popularitas dan drama sialan yang kita ciptakan akan meninggalkan kita. Hanya sedikit yang benar-benar bersama kita di akhir. Dan itulah yang sebenarnya berarti untuk kita.

Media:

[Gambar 1] Gia kecil menyaksikan pertengkaran orang tuanya yang jadi hidangan sehari-hari membuatnya tumbuh menjadi sosok yang manja, selalu membutuhkan kehadiran orang lain.

[Gambar 2] Hari dimana ia bertemu dengan lelaki muda yang menjadi kekasihnya dan berkencan hari itu juga.

 [ Gambar 3 ] Foto asli dari Gia Marie Carangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here