Home Uncategorized Di Balik Pembubaran Panitia Pemira UB

Di Balik Pembubaran Panitia Pemira UB

139
0
SHARE

ManifesT, Malang, (Rabu, 3 Maret 2021)-Pembubaran panitia Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) meninggalkan beragam pertanyaan dari kalangan mahasiswa Universitas Brawijaya. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga panitia dibubarkan dan bagaimana kelanjutan Pemira tahun ini. Pemira yang mana secara rutin tiap tahunnya dilaksanakan merupakan bentuk pesta demokrasi bagi mahasiswa Universitas Brawijaya. Mahasiswa berhak memilih sosok yang akan memimpin Universitas Brawijaya setahun kedepan.

Muhammad Nur Arifin, mantan Ketua Pelaksana Pemira menegaskan bahwa alasan dibubarkannya panitia Pemira bisa dikatakan tidak jelas. Krolonologi yang terjadi dari awal pendaftaran calon masih berjalan normal hingga pada akhirnya terasa ganjil saat berulang kali dilakukan perpanjangan.

2-8 Desember 2020

Dilansir dari keterangan Muhammad Nur Arifin atau yang kerap disapa Ipin, kronologi bermula dari pembukaan pendaftaran calon yang dilakukan pada awal Bulan Desember. Namun pada pendaftaran gelombang pertama tersebut kuota tidak memenuhi dan akhirnya dilakukan perpanjangan.

10 Desember 2020

Dilakukan perpapanjangan pendaftaran calon yang ingin mengajukan berkas.

16-21 Desember 2020

Pada masa perpanjangan tersebut kerap kali terjadi hal-hal ganjil seperti adanya pendaftar yang mengirimkan berkas dalam posisi yang bisa dikatakan Injury Time. Sehingga dengan waktu yang sangat sedikit tersebut dan berkas yang dikumpulkan tidak sesuai pula, maka calon pendaftar bisa dikatakan tidak lolos tahap seleksi. Namun dari kemahasiswaan sendiri, seakan-akan memberikan kesempatan untuk pihak tersebut agar bisa memperpanjang masa pendaftarannya. Hal ganjil juga nampak di mana calon yang mendaftarkan diri dan tidak melengkapi berkas masih diberi kesempatan untuk melakukan perpanjangan.

Menurut informasi yang diterima Ipin, kemahasiswaan juga mengadakan forum yang mana membahas masalah format baru dari Pemira. Pemira yang mana pada awalnya dilakukan melalui Pemilu sekarang dilakukan melalui Dapil dengan ketentuan 15 mahasiswa dari fakultas yang ada di Universitas Brawijaya, 1 mahasiswa dari vokasi, dan 1 dari Universitas Brawijaya PSDKU.

23 Januari 2021

Tepat tanggal 23 Januari kemahasiswaan mengeluarkan surat terkait pemberhentian tugas terhadap DPM dan EM, sehingga DPM tidak diperkenankan lagi mengeluarkan kebijakan atau hal-hal yang berkaitan terhadap berjalannya kepanitiaan Pemira UB. Ketentuan rektorat merupakan ketentuan yang aneh menurut Ipin, validasi dilakukan melalui grup whatsapp dan segala mekanisme Pemira dilakukan secara tidak transparan.

Disamping itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan menjelaskan bahwa pembubaran panitia Pemira ini berdasarkan laporan yang diterima oleh koordinator kegiatan Pemira UB 2020, bahwa telah terjadi konflik internal di dalam kepanitiaan dan konflik eksternal yang terjadi di luar kepanitiaan. Disamping itu juga atas saran dari beberapa stakeholders dari hasil audiensi panitia (dosen). Terkait isu keterkaitan ormek atas peristiwa ini, beliau mengatakan bahwa tidak tahu banyak mengenai hal tersebut, karena juga tidak ada bukti yang bisa memastikan keterkaitan ormek pada peristiwa ini.

Prof. Dr. Drs. Abdul Hakim, M.Si.,  menegaskan bahwa tidak ada permasalahan yang terjadi antara rektorat dengan panitia. Beliau menganggap tidak ada campur tangan dari pihak rektorat, karena pada dasarnya semua kegiatan kemahasiswaan adalah tanggung jawab rektor dalam pelaksanaannya oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, sebab panitia bukan hanya unsur mahasiswa namun juga dosen. Saat ini Pemira sudah memasuki tahap pendaftaran bakal calon pada tanggal 1 Maret 2021, beliau mengharapkan semua pihak agar bersama membantu kelancaran pelaksanaan Pemira. (ars/aip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here