Home Cerpen Jangan Percaya Pada Waktu

Jangan Percaya Pada Waktu

115
0
SHARE

Oleh. Sherina Azkia Rahmah

Pukul 12 malam nanti, Marcio, begitu sapaan akrabnya, akan pergi dari dunia ini. Bukan apa-apa, menurut kepercayaannya pada buku harian pemberian Ibunya itu, takdirnya akan berhenti pada malam nanti. Tandanya, dirinya akan pergi dari muka bumi ini untuk selama-lamanya. Walau dirinya tengah merasa senang akan pergi dari bumi ini, sebagai karyawan yang baik dan masih berhutang presentasi, pria yang dipaksa bekerja tidak sesuai passion itu harus tetap presentasi demi menuntaskan tugas terakhirnya.

Pukul 7 pagi alarm sudah berbunyi, dirinya langsung bersiap untuk bekerja menggunakan sepeda motornya yang sudah tua itu. Sebelum itu, dirinya harus berpamitan dengan kucing peliharaan yang bernama Jello, jangan tanya nama itu didapat darimana, pria itu hanya menyukai nama aneh untuk kucingnya yang lucu itu.

“Jello, jaga rumah ya. Cio mau kerja dulu. Jangan nakal!” perintah pria muda itu sambil mengelus bulu-bulu kucingnya yang rasanya sudah terlalu lama belum pernah disisir itu. Meskipun begitu, dirinya sangat menyayangi kucingnya itu selayaknya pacar sendiri. Berbicara mengenai pacar, Marcio memiliki pacar yang sudah ia pacari selama kurang lebih 4 tahun. Namanya Evelyn, yang belum diberi kabar mengenai berakhirnya takdir orang yang dicintainya itu malam nanti.

Pria muda itu segera keluar dari apartemennya yang tidak layak huni itu, mengunci kamarnya, dan segera menuju lobi. Kemudian menuju lahan parkir yang kondisinya sama memprihatikannya. Dirinya langsung membuka penutup motornya dan meletakkannya di sembarang tempat, pria itu tidak peduli, karena ini hari terakhirnya dan sekali-kali menjadi manusia yang tidak disiplin. Dengan semangat 45, dirinya langsung menaiki motornya dan melaju dengan kencang menuju kantornya. Sebelum itu, Marcio bekerja sebagai salah satu karyawan pemasaran yang dikenal keras kepala dan susah diajak untuk bekerja sama. Semua temannya setuju dengan hal ini dan tidak dapat diganggu gugat.

“Pagi Cio” sapa temannya yang bernama Hugo itu.

Gengsi adalah kesan pertama dari pria yang baru datang itu, dirinya tidak pernah menyapa temannya yang bernama Hugo itu. Bahkan, dirinya jarang sekali menyapa bosnya sendiri, sungguh contoh karyawan yang tidak pantas bekerja di sebuah perusahaan itu. Namun, karena ini hari terakhirnya, pria itu memberanikan diri untuk menyapa, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun bekerja bersama. Tidak disangka, teman yang dibalas sapaannya itu memberikan kesan yang berbeda,. Mungkin kaget dan tidak percaya adalah ekspresi yang bisa menggambarkan keadaan temannya yang sedang memandangi dirinya dengan tatapan bingung.

Selain temannya yang bernama Hugo itu, wanita yang bernama Nyse juga tidak percaya bahwa karyawan yang paling keras kepala kini telah berubah menjadi lebih ramah dan lebih baik. Padahal, biasanya kalau dirinya baru sampai kantor, karyawan paling keras kepala ini sudah mengeluh mengenai saluran air di apartemennya yang suka mati mendadak.

Kini semua karyawan tengah berkumpul di ruangan rapat. Walaupun keras kepala, pria yang tengah menunggu takdirnya nanti malam, memilih untuk presentasi pertama. Dirinya menjelaskan mengenai strategi bisnis baru yang cukup revolusioner, dan berkat itu, semua memuji dirinya yang baru saja selesai bicara. Memang ia selalu memberikan gagasan dan strategi baru, juga memiliki segudang ide tidak terduga. Namun, karena ini hari terakhirnya hidup di bumi, pria ini tidak mau berdebat dengan siapapun, terlebih dengan temannya yang menyapa tadi pagi. Dirinya ingin lebih demokratis dan menerima masukan apapun, selagi tidak menjelekkan namanya yang tidak spesial itu.

Melihat gelagat yang tak biasa dari pria yang bernama Marcio itu, semua karyawan kebingungan. Bahkan Alex selaku kepala divisi pemasaran, sama kagetnya melihat pria yang biasanya harus berdebat dahulu, namun pada hari ini dirinya tidak melihat perdebatan aneh. Sungguh sangat berubah 180 derajat. Kemudian yang disangka berubah itu hanya duduk sambil senyam-senyum dan menikmati hidup. Tidak pernah dirinya merasa sangat bahagia dan sangat menunggu waktunya nanti.

Berbicara mengenai hubungannya dengan wanita yang paling dicintainya itu. Sudah tiga hari, dirinya belum membalas pesan pacarnya yang berisi mengenai rencana liburan singkat di akhir pekan mereka berdua. Di sela waktu rapat, pria itu membuka telepon genggamnya dan segera membalas pesan pacarnya itu. Dirinya hanya mengiyakan, dan sebagai bukti cinta kasihnya kepada pacarnya itu, ia mengirimi stiker cinta yang sebelumnya tidak pernah dirinya lakukan. Sebenarnya ini sudah menjadi pertanda bahwa pria muda ini masih mencintai pacarnya yang cantik tiada tara, walau dia tidak yakin bisa melawan takdir Tuhan yang telah ditentukan untuknya.

Selesai rapat, dirinya hanya menatap layar komputer sembari berselancar di Internet. Kegiatannya sangat romantis, karena ia tengah menyukai semua foto yang pernah pacarnya unggah di sosial media, dan memutar ulang video mereka berdua, yang bahkan dirinya sendiri tidak ingat kapan video itu diambil. Rasanya ia ingin mengajak pacarnya serta kucingnya untuk kabur bersama dirinya, pergi dari bumi dan tinggal di alam keabadian.

Di tengah kegiatannya itu, pacarnya membalas pesannya penuh dengan umpatan tidak terduga. Dirinya yakin pacarnya sedang marah besar dengannya, namun persetan dengan semua itu. Kemungkinan ini hari terakhirnya, dan dirinya sudah bersiap untuk mengucapkan salam perpisahan paling romantis untuk pacarnya nanti malam. Setidaknya dia akan berpisah dengan pacarnya dengan cara yang romantis, walau pria itu selalu geli dengan hal romantis seperti ini. Namun, semua itu harus ia lakukan demi membahagiakan pacarnya sebelum dirinya benar-benar pergi.

Karena pekerjaannya yang sudah selesai, dirinya bisa pulang lebih cepat. Semakin berlalu, ternyata kantornya menjadi tempat yang nyaman untuk pria seperti dirinya yang tengah menunggu takdir. Ia berpamitan dengan semua karyawan kantor, walau tidak biasa, namun ada kepuasan tersendiri bisa mencoba dekat dengan teman-temannya. Setidaknya mereka hanya menatap aneh dan tidak bertanya apa-apa mengenai perubahan pria paling keras kepala ini.

Sebagai pacar yang baik, Marcio menjemput pacarnya yang tengah bekerja sebagai penyanyi. Pria itu tahu bahwa pacarnya sedang ada jadwal di Café de la France, Café tempat mereka berdua biasa menikmati akhir pekan bersama. Pria itu langsung tancap gas menuju Café tersebut yang letaknya tidak jauh dari tempat ia bekerja.

Pria itu menunggu pacarnya di bangku nomor 15, bangku kesukaannya, yang dirinya tidak tahu apa yang membuatnya menjadi special. Mungkin, karena bangku ini bisa melihat panggung di mana pacarnya tampil. Setelah dilihat-lihat, pacarnya tampak lebih cantik hari ini. Dirinya bahkan tidak pernah percaya memiliki pacar secantik dan sebaik Evelyn, yang sifatnya sangat jauh berbeda dengan dirinya yang tidak mengenal kata baik.

Pacarnya itu baru selesai tampil setelah ia sudah memesan 5 gelas air putih. Pria yang sedang menunggu pacarnya itu tidak mau membuang uangnya hanya untuk minum kopi, bahkan nantinya ia akan memberikan warisan hartanya kepada kucingnya yang lebih membutuhkan makanan kucing kualitas premium. Evelyn kemudian dibuat bingung dengan rona wajah pacarnya yang berbeda dari biasanya. Baru kali ini dirinya melihat pacarnya mau menunggunya dan memberikan senyuman yang teduh.

Untuk mengecek apakah baik-baik saja dengan pacarnya itu, ia langsung memegang dahi pacarnya, memastikan apakah ia demam atau tidak. Melihat tingkahnya yang aneh membuat wanita itu bergidik ngeri.

“Cio sakit?” tanya wanita itu dengan raut wajah cemas sembari memastikan pacarnya baik-baik saja.

“Nggak, aku baik-baik aja. Yuk pulang” jawab pria itu dengan raut wajah bahagia dan mengajak pacarnya untuk pulang. Rencananya pria itu akan mengajak pacarnya bermalam di apartemennya, dirinya ingin pacarnya tahu mengenai hari terakhirnya, dan ia juga ingin pacarnya ada di sampingnya saat ajal menjemput nanti.

Dengan menaiki motor tua miliknya, pacarnya tidak pernah protes dengan keadaan, karena ia tahu bahwa akan ada perselisihan besar nantinya. Jadi, untuk mencegah itu semua, lebih baik diam saja dan percaya bahwa pacarnya akan tetap mencintainya, bagaimanapun keadaannya. Selama perjalanan, mereka berdua bertanya-tanya mengapa mereka tetap mempertahankan hubungan yang rasanya hanya diperjuangkan satu pihak. Namun mereka bertahan atas cinta dan ketulusan dalam mecintai satu sama lain.

Sesampainya mereka di apartemen paling tidak layak huni itu, pacarnya langsung meninggalkan pria itu yang sedang sibuk dengan urusan motornya. Melihat tingkah pacarnya, ia hanya harus sabar dan tidak marah karena nanti akan merusak hari mereka berdua. Merasakan ada perbedaan, pacarnya lantas bingung, karena biasanya ia akan dimarahi dan dicegah untuk masuk lebih dahulu.

Pacarnya sampai duluan di kamar apartemennya dengan nomor 35,. Karena tidak mempunyai kuncinya, dirinya harus menunggu sampai sang pemilik apartemen datang untuk membuka pintunya. Sembari menunggu, wanita itu berpikir mengenai perubahan aneh yang pacarnya lakukan. Setidaknya, perubahan yang dibawa membuat keadaannya menjadi lebih baik. Namun, perlu digali juga apa yang membuat prianya berubah hari ini.

Pria itu akhirnya sampai dan langsung membuka pintu kamar apartemennya itu. Pacarnya masih tidak percaya karena apartemennya benar-benar berantakan selama mereka berdua menjaga jarak. Walau masih sedikit emosi, dirinya luluh karena kebaikan pacarnya sudah mau menunggu dirinya di Café tadi.

“Jangan marah” ujar pria itu yang melihat pacarnya masih kaget dengan kondisi apartemennya yang sangat berantakan.

Melihat semua ini, pacarnya hanya bisa mengelus dada, karena dirinya juga tidak bisa menyalahkan pria itu yang waktu kerjanya sangat sibuk dibanding dirinya. Pria itu kemudian memberikan pacarnya waktu untuk tenang dengan segelas air putih, setidaknya untuk meredam amarah pacarnya yang bisa-bisa akan terjadi pertengkaran di hari penentuan takdirnya kali ini.

Saat keadaan mulai tenang, tanpa basa-basi, dirinya langsung menceritakan semuanya. Tentu pacarnya tidak percaya dengan semua ini, kisahnya terlalu sulit dicerna akal manusia, apalagi setelah dirinya memberi tahu bahwa penentuan takdirnya berdasarkan buku harian pemberian mendiang Ibunya. Sebagai manusia yang rasional, pacarnya berasumsi itu hanya untuk menjadikan dirinya lebih baik dan mencari buku baru dengan menuliskan kisah-kisah baik yang akan dibuat.

Meskipun begitu, Marcio tetap bersikeras mengenai hari penentuan takdirnya akan jatuh malam nanti. Pacarnya tentu tidak akan pernah percaya, walau begitu, untuk menghormati kepercayaannya, ia hanya memahami apa yang terjadi dan menunggu sampai waktu yang telah ditentukan.

Mendekati pukul 12 malam, mereka sama-sama terlelap akibat terlalu asyik mengulang masa lalu, hingga lupa kalau salah satu dari mereka akan meninggalkan bumi ini. Mereka berdua telah tertidur nyenyak, bahkan pria yang menunggu takdirnya itu tengah tertidur lelap memeluk pacarnya dan kucingnya.

Pagi harinya pada pukul 5, wanita itu bangun lebih dahulu. Dirinya tengah merasa gagal menjadi pacar prianya yang seharusnya ia temani di waktu terakhirnya, bukan tiba-tiba terlelap karena mentertawai hal lucu dan memalukan di masa lalu mereka. Di tengah rasa bersalahnya, wanita itu menangis dengan kencang di tengah pacarnya yang ia percaya telah pergi.

Namun, yang tidak disangka telah datang. Suara pacarnya menghiasi ruangan menyuruh wanita itu untuk berhenti menangis. Wanita yang sebelumnya tidak percaya bahwa pacarnya akan meninggalkan bumi ini tengah malam tadi, kini dirinya tidak percaya bahwa pacarnya masih hidup.

“Eve, ini jam berapa?” tanya pacarnya dengan wajah yang masih mengantuk dan kebingungan.

“Jam 5 pagi. Kenapa?” tanya wanita itu dengan raut wajah bahagia.

“Lho jadi aku nggak jadi pergi?” tanya pacarnya yang tidak percaya.

“Mungkin, atau kita sekarang sudah bukan di bumi?” pacarnya lantas bingung, mengapa kini wanitanya yang tiba-tiba menanyakan hal seperti itu kepada dirinya. Tidak seharusnya sudah memikirkan sesuatu yang berat di pagi hari.

Tidak, mereka berdua belum pergi dari bumi ini. Pria itu belum pergi, dan kini ia tengah menyesali kepercayaannya pada buku harian pemberian mendiang Ibunya. Walau begitu, dirinya sebenarnya sudah siap kalau tidak harus dimarahi atasannya, tidak perlu membayar tagihan listrik, dan tidak perlu bermalam mingguan bersama pacarnya Evelyn.

Mereka beruda masih tidak percaya, pria yang sudah terlalu siap untuk pergi ini bahkan lupa kalau masih memiliki kemungkinan untuk tetap hidup. Melihat suasana tidak terduga ini, pacarnya langsung memeluk dirinya yang masih kebingungan untuk mencerna semua ini. Dirinya tidak percaya dan benar-benar merasa seperti telah melawan takdir yang telah ditentukan.

“Jadi, mau kayak Marcio yang dulu atau mau jadi Marcio yang selalu siap pergi?” tanya pacarnya tiba-tiba.

Pria itu lantas berpikir sejenak, mungkin ini sudah waktunya untuk berubah demi kehidupan yang lebih baik. Dengan tekad yang kuat, dirinya yakin akan berubah menjadi manusia yang baik dan tetap mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padanya. Dirinya juga akan terus bersyukur karena telah dipertemukan dengan wanita secantik Evelyn, yang siap menangis kala dirinya tidak ada. Juga kucingnya, yang bahkan telah siap ditinggal dirinya ketika waktunya telah datang.

Setidaknya ia tetap hidup dan tidak akan pernah tahu akan pergi kapan.

//

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here