{"id":1956,"date":"2019-11-10T07:34:33","date_gmt":"2019-11-10T07:34:33","guid":{"rendered":"http:\/\/manifestpers.id\/?p=1956"},"modified":"2019-11-10T07:34:40","modified_gmt":"2019-11-10T07:34:40","slug":"bisikan-angin-9-november","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/manifestpers.id\/?p=1956","title":{"rendered":"Bisikan Angin 9 November"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\">Oleh: Muh. Fahri Widyantoro<\/p>\n\n\n\n<p>Kota Angin, 9\nNovember 2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Lembut desir angin menemaniku yang sedang berpulang ke\nkampung halaman malam ini. Duduk di teras rumah, merenung, dan mulai mengetik\nsedikit demi sedikit kerisauan hati. Kampung halamanku ini memang terkenal akan\nanginnya yang kencang, maka dari itu kampung halamanku ini dijuluki sebagai\n\u201cKota Angin\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi tunggu, angin malam ini nampak berbeda dari\nbiasanya. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Ada aura berbeda\nyang ia hembuskan kepadaku malam ini. Seolah memohonku untuk dapat mendengarnya\nsekali ini saja dengan hati yang bersih. Tak berpikir panjang, kudekatkan\ntelingaku kepada alam, kulapangkan hatiku lebar-lebar agar sang angin tak segan\nuntuk berbisik kepadaku. Perlahan, mulai terdengar bisikan angin itu;<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cSelama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai\ndarah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka\nselama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sontak, aku kaget. Apa maksud Sang Angin membisikkan\nini kepadaku? Bukankah itu adalah kutipan kata dari seorang pahlawan yang\npernah berjuang bagi bangsa Indonesia? Dan Sang Angin membisikkan hal itu\npadaku tepat malam ini, 9 November 2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuputar pikiranku. Kupaksa otakku untuk menjelajah dan\nmencari apa maksud dari Sang Angin. Lalu aku teringat satu hal bahwa kutipan\nitu adalah kutipan yang diucapkan oleh sosok pemuda yang baru berumur 25 tahun\ntatkala rakyat Surabaya sedang dipaksa untuk tunduk, dipaksa untuk menyerahkan\nsenjata, dan dipaksa untuk mengeluarkan bendera putih terhadap tentara Inggris\n74 tahun silam. Kutipan kalimat itu adalah simbol perlawanan terhadap sebuah\npenindasan, pemuda itu merasa bahwa bumi yang ia pijak, bumi Surabaya, hanya\npantas diduduki dan dikuasai oleh rakyat Surabaya sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemuda itu membuktikan bahwa rakyat Indonesia tidak\nbisa dan tidak akan pernah bisa untuk dibuat menyerah begitu saja. Dan itulah\nsosok Bung Tomo. Sosok pencetus kutipan kalimat yang menjadi jawaban atas\nultimatum pihak Inggris, sekaligus membakar semangat seluruh pejuang, tak hanya\ndi Surabaya, tetapi juga di seluruh Indonesia. Maka selepas itu mengenalah kita\nakan pertempuran Medan Area, Pertempuran lima hari di Semarang, Serangan Umum 1\nMaret, dan lain sebagainya. Pertempuran-pertempuran tersebut adalah salah satu\nefek domino dari perlawanan rakyat Surabaya yang disulut oleh Bung Tomo.<\/p>\n\n\n\n<p>Oh, ternyata ini maksud dari Sang Angin. Ia berusaha\nmengingatkan kepadaku bahwa esok adalah 10 November, esok adalah Hari Pahlawan.\nTapi, mengapa Sang Angin membisikkan hal ini kepadaku dengan aura kesedihan?\nBukankah Hari Pahlawan seharusnya disampaikan dengan penuh semangat suka cita?<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa saat aku terdiam, memikirkan kembali apa\nmaksud dari Sang Angin. Ada-ada saja Sang Angin ini, sukanya main <em>\u201c<\/em>kode<em>\u201d<\/em>,\n<em>ngalah-ngalahin<\/em> doi.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah kupikir-pikir, pantaslah Sang Angin membawa\nkabar ini dengan kesedihan. Mungkin, Ia juga tengah merasa apa yang kurasa saat\nini. Betapa sedih melihat rakyat Indonesia hari ini. Bangsa yang dulu dibela\nmati-matian sekarang sangat mudah terpecah atas berbagai kepentingan. Bangsa\nyang dulu dibangga-banggakan karena dapat bersatu dalam sebuah perbedaan, saat\nini malah hancur karena perbedaan yang pernah dibanggakan. <\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin Sang Angin juga sedih, karena saat ini mayoritas\npemuda Indonesia termasuk saya tidak bisa dibanggakan layaknya Bung Tomo.\nPemuda yang dulu terkenal karena mau bersumpah atas nama Indonesia, sekarang\nterbuai oleh budaya yang bertentangan dengan Bumi Pertiwi. Yah, mungkin tidak\nhanya angin yang bersedih, tapi&nbsp; semua\norang yang masih memiliki hati nurani juga akan prihatin melihat kondisi bangsa\nkita. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang ada di Bumi Brawijaya yang seharusnya\nmenjadi salah satu pilar bagi negara, malah berbalik menjadi racun bagi negara.\nDibutakan oleh gengsi, kita lupa untuk apa kita datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Hmmm\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Mari merenung, mari berfikir.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita adalah tonggak utama bangsa ini, serta di pundak\nkita menggantung harapan-harapan dari rakyat jelata yang ada di Indonesia. Pernahkah\nkita berpikir di saat kita sudah menikmati sistem modern, bagaimana nasib\nmereka yang tinggal di pelosok desa? Apa mereka sudah merasakan fasilitas\nseperti kita saat ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Jauh\ndi pelosok sana, banyak sekali pemuda seusia kita yang harus mengubur dalam-dalam\nmimpinya demi menghidupi keluarga yang sudah tak punya harta.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cAku\nyo butuh urip, gak iso lek uripku tak gae mikir wong liyo tok\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Come\non, guys<\/em>!&nbsp;&nbsp;Percuma kita dididik jikalau\nhanya punya pikiran seperti itu. Apa hakikat hidupmu? Apa hanya hidup untuk\ndiri sendiri?<\/p>\n\n\n\n<p>Kita\nsekolah menggunakan fasilitas negara dan fasilitas itu salah satunya dibangun\ndari dana pajak yang dibayar oleh masyarakat kecil. Bayangkan betapa hinanya\ndiri kita ini ketika raga yang sudah dicerdaskan dan ditumbuhkan dengan\nfasilitas umat tidak mau kembali lagi kepada umat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan\nsialnya, dalam darah kita ini mengalir hak-hak tukang becak yang harus dipenuhi!<\/p>\n\n\n\n<p>Dan\nsialnya lagi, dalam darah kita ini mengalir peluh buruh tani yang\nmenggantungkan nasib pada kita!<\/p>\n\n\n\n<p>Karena\nketerbatasan, mereka menaruh kepercayaan kepada kita. Dalam benak mereka\nberharap bahwa akan ada perubahan dari apa yang mereka usahakan. Kita ingin\nperubahan, mereka pun juga ingin. Memang berat kawan, berjuang itu melelahkan.\nTapi, apa kita punya pilihan lain?<\/p>\n\n\n\n<p>Atas\nseluruh kemudahan yang telah kita dapatkan hari ini, atas seluruh nikmat yang\ntelah Allah berikan pada kita hari ini, mari kita semaksimal mungkin\nmensyukurinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Mari\nberjuang bersama, kita ikrarkan dihati kita masing-masing bahwa darah kita\nadalah darah juang untuk membersamai rakyat. Dan biarlah air mata kita, tetesan\nkeringat kita, dan kepayahan tubuh kita yang kelak menjadi saksi di akhirat\nbahwa raga ini telah berjuang untuk sebuah perubahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Cukupkan\nhati kita dengan syukur, kokohkan langkah kita dengan ikhlas, dan lembutkan\nhati kita dengan sabar. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Terimakasih kepada Sang Angin, yang telah\nmenyadarkanku atas hal ini. Terimakasih dan semoga 10 November berikutnya kami\nbisa membuatmu berbisik kembali dalam keadaan bahagia penuh sukacita.<\/p>\n\n\n\n<p>Selamat\nHari Pahlawan!<\/p>\n<div class=\"2c253786f3917100e032eb5504642955\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<!-- Adsense Berkah -->\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-9385134775663468\"\r\n     data-ad-slot=\"7150604192\"\r\n     data-ad-format=\"auto\"\r\n     data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muh. Fahri Widyantoro Kota Angin, 9 November 2019. Lembut desir angin menemaniku yang sedang berpulang ke kampung halaman malam ini. Duduk di teras rumah, merenung, dan mulai mengetik sedikit demi sedikit kerisauan hati. Kampung halamanku ini memang terkenal akan anginnya yang kencang, maka dari itu kampung halamanku ini dijuluki sebagai \u201cKota Angin\u201d. Tapi tunggu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[159],"tags":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1956"}],"collection":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1956"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1958,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1956\/revisions\/1958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/manifestpers.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}